VIDEO

Loading...

Jumat, 05 Juni 2009

Proses Menghafal dan Berpikir Logis

Salah satu hal yang menyebabkan rendahnya hasil belajar matematika adalah tuntutan kurikulum yang lebih menekankan pada pencapaian target. Artinya, proses pembelajaran hanya mengacu bagaimana guru menyelesaikan bahan yang sudah ditetapkan bukan mengutamakan bagaiman siswa memahami konsep-konsep matematika. Faktor lain yang cukup penting adalah bahwa aktivitas pembelajaran di kelas yang selama ini dilakukan oleh guru tidak lain merupakan penyampaian informasi (metode kuliah) guru aktif sementara siswa pasif mendengarkan dan menyalin catatan dari guru. Dalam proses pembelajaran, guru memberi contoh soal dilanjutkan dengan memberi soal latihan yang sifatnya rutin dan kurang melatih daya nalar, kemudian guru memberikan penilaian. Akhirnya terjadilah proses penghafalan konsep atau prosedur, pemahaman konsep matematika rendah, dan tidak dapat menggunakannya jika diberikan permasalahan yang agak kompleks. Siswa menjadi robot yang harus mengikuti aturan atau prosedur yang berlaku dan jadilah pembelajaran mekanistik. Akibatnya, pembelajaran bermakna yang diharapkan tidak terjadi. Tidak heran apabila belajar dengan cara menghafal tersebut membuat tingkat kemampuan kognitif anak yang terbentuk hanya pada tataran tingkat yang rendah. Kecenderungan anak terperangkap dalam pemikiran menghafal karena iklim yang terjadi dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru di sekolah.

Kebiasaan menghafal semakin intensif dilakukan anak menjelang ujian. Anak belajar dengan menghafakan materi, rumus-rumus, definisi, unsur-unsur, dan sebagainya tanpa adanya unsure pemahaman dari materi yang sedang dipelajari. Sehingga anak tidak mampu mengoperasionalkan rumus-rumus yang dihafalnya untuk menjawab pertanyaan (Sahat Saragih, 2007).

Menurut Mukhayat (2004), belajar dengan menghafal tidak terlalu banyak menuntut aktivitas berpikir anak dan mengandung akibat buruk pada perkembangan mental anak. Anak akan cenderung suka mencari gampangnya saja dalam belajar. Anak kehilangan sense of learning, kebiasaan yang membuat anak bersikap pasif atau menerima begitu saja apa adanya yang mengakibatkan anak tidak terbiasa untuk berpikir kritis. Keadaan ini sangat jauh dengan fungsi dan tujuan pembelajaran matematika yang diharapkan oleh BSNP, yaitu menekankan pada kegiatan anak untuk memecahkan masalah supaya anak mempunyai kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama dengan orang lain.

Untuk mengatasi permasalahan di atas, perlu diusahakan perbaikan pembelajaran siswa dengan mengubah paradigma mengajar menjadi paradigma belajar. Pembelajaran yang lebih memfokuskan pada proses pembelajaran yang mengaktifkan siswa untuk menemukan kembali (reinvent) konsep-konsep, melakukan refleksi, abstraksi, formalisasi, dan aplikasi.

Proses mengaktifkan siswa ini dapat dikembangkan dengan membiasakan anak menggunakan kemampuan berpikir secara kritis serta logis dalam setiap melakukan kegiatan belajarnya. Kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang akan membentuk karakter anak bagaimana berpikir, bagaimana berbuat, dan bagaimana bertindak sebagai perwujudan aplikasi pemahaman untuk menjawab segala bentuk kebutuhan dan persoalan yang dihadapinya. Untuk dapat menumbuhkan kemampuan berpikir kepada siswa perlu ditanamkan pola pikir yang benar kepada siswa. Pola pikir yang benar akan membuat siswa memandang secara benar segala sesuatu dalam hal ini adalah pelajaran matematika. Karena dengan perubahan pemikiran yang benar akan memberi sebuah perubahan yang berarti di dalam hidup siswa seperti yang diungkapkan oleh Maxwell (2003) berikut ini, “those who embrace good thinking as a life style understand the relationship between their level of thinking and their level of progres. They also realize that to change their lives, they must change their thinking”. Dari ungkapan ini dikatakan bahwa mereka yang menganut pemikiran yang baik sebagai suatu gaya hidup maka mereka akan memahami hubungan antara tingkat pemikiran mereka dan tingkat perkembangan mereka. Mereka juga menyadari bahwa untuk mengubah hidup mereka, mereka harus mengubah pemikiran mereka. Menurut Chambers (2008:115-116) pemikiran yang benar terhadap matematika anak akan memiliki motivasi belajar matematika. Motivasi itu akan menumbuhkan sikap positif siswa terhadap matematika. Untuk menumbuhkan pemikiran yang benar dan minat siswa untuk belajar dibutuhkan seorang guru yang benar.

Oleh karena itu, kepada guru diharapkan secara dini dapat melakukan proses pembelajaran yang dapat mengubah pola pikir anak kedalam pemikiran yang benar. Dengan dibiasakannya anak berpikir secara benar, maka anak akan semakin kritis dalam menghadapi maupun menyelesaikan sesuatu dengan penuh pertimbangan, dan cara yang benar serta metode dan aturan-aturan yang benar (logis).

Untuk memahami apa yang dimaksud dengan berpikir logis, kita harus memahami terlebih dulu pengertian berpikir. Berpikir adalah berbicara dengan dirinya sendiri dalam batin yang merupakan kegiatan akal yang khas dan terarah, untuk mempertimbangkan, merenungkan, menganalisis, membuktikan sesuatu, menunjukkan alasan-alasan, menarik kesimpulan, meneliti sesuatu jalan pikiran, dan mencari bagaimana berbagai hal itu berhubungan satu sama lain (Mukhayat, 2004:3; Poepoprodjo & Gilarso, 1989:4).

Menurut Dewey (Bolton, 1972: 8) “thinking is a directed activity which inevitably involves some form of experimentation, however rudimentary”. Artinya berpikir adalah suatu pengarahan aktivitas yang tidak terlepas dari beberapa bentuk percobaan, walaupun yang paling sederhana/dasar. Diungkapkan juga “thinking is therefore essentially a matter of judging and evaluating objects and events: we judge some things as related to one another, others as contradictory one event as implying another, and so on”. Artinya berpikir adalah sesuatu yang utama dari penilaian dan evaluasi obyek dan kejadian: kita menilai beberapa hal yang dihubungkan dengan satu sama lain, peristiwa lain yang berlawanan yang menggambarkan kondisi yang lainnya, dan sebagainya". Dari semua ungkapan ini dapat diambil sebuah generalisasi tentang berpikir. Berpikir adalah berbicara dalam batin dengan akal dan nalar yang khas yang melibatkan kemampuan menganalisa, membandingkan, mencari bukti-bukti, dan mengambil kesimpulan sebagai bentuk penilaian/evaluasi terhadap sesuatu, hubungan tentang sesuatu dan keberbedaan dari sesuatu demi terwujudnya sebuah karya pikir.

Kata logis sering digunakan seseorang ketika pendapat orang lain tidak sesuai dengan pengambilan keputusan (tidak masuk akal) dari suatu persoalan. Hal ini berarti bahwa dalam kata logis tersebut termuat suatu aturan tertentu yang harus dipenuhi. Kata logis mengandung makna besar atau tepat berdasarkan aturan-aturan berpikir dan kaidah-kaidah atau patokan-patokan umum yang digunakan untuk dapat berpikir tepat (Mukhayat, 2004:3; Poepoprodjo & Gilarso, 1989:4).

Dalam matematika, kata logis erat kaitannya dengan penggunaan aturan logika. Logika berasal dari kata Yunani, yaitu Logos yang berarti ucapan, kata, dan pengertian. Logika sering juga disebut penalaran. Dalam logika dibutuhkan aturan-aturan atau patokan-patokan yang perlu diperhatikan untuk dapat berpikir dengan tepat, teliti, dan teratur sehingga diperoleh kebenaran secara rasional (Jan Hendrik Rapar, 1996:9).

Dalam artikel yang tertulis dalam audiblox (Logical Thinking: A Learned Mental Process) dikatakan bahwa; “logical thinking is the process in which one uses reasoning consistently to come to a conclusion. Problems or situations that involve logical thinking call for structure, for relationships between facts, and for chains of reasoning that “make sense. Artinya pemikiran logis adalah proses di mana penggunaan penalaran secara konsisten untuk mengambil sebuah kesimpulan. Permasalahan atau situasi yang melibatkan pemikiran logis mengharapkan struktur, hubungan antara fakta-fakta, dan menghubungkan penalaran yang "bisa dipahami."

Menurut Suparno (Buletin Pengawasan No.28 & 29 Th.2001) Berpikir secara logis atau berpikir dengan penalaran ialah berpikir tepat dan benar yang memerlukan kerja otak dan akal sesuai dengan ilmu-ilmu logika. Setiap apa yang akan diperbuat hendaknya disesuaikan dengan keadaan yang ada pada dirinya masing-masing. Jika hal tersebut sesuai dengan kenyataan dan apabila dikerjakan mendapat keuntungan, maka segera dilaksanakan. Berpikir dengan cara penalaran atau berpikir logis, selain memikirkan diri kita sendiri juga harus memperhatikan lingkungan. Berpikir secara logis adalah berpikir tentang akibat yang tidak terbawa emosi.

Dari uraian di atas terlihat bahwa berpikir logis tidak terlepas dari dasar realitas, sebab yang dipikirkan adalah realitas, yaitu hukum realitas yang selaras dengan aturan berpikir. Dari dasar realitas yang jelas dan dengan menggunakan hukum-hukum berpikir akhirnya akan dihasilkan putusan yang dilakukan. Agar seseorang sampai pada berpikir logis, dia harus memahami dalil logika yang merupakan peta verbal yang terdiri dari tiga bagian dan menunjukkan gagasan progresif, yaitu: (1) dasar pemikiran atau realitas tempat berpijak, (2) argumentasi atau cara menempatkan dasar pemikiran bersama, dan (3) simpulan atau hasil yang dicapai dengan menerapkan argumentasi pada dasar pemikiran (Sahat Saragih, 2007). Berpikir logis lebih mengacu pada pemahaman pengertian (dapat mengerti), kemampuan aplikasi, kemampuan analisis, kemampuan sintesis, bahkan kemampuan evaluasi untuk membentuk kecakapan (suatu proses).

Untuk dapat menghantar siswa pada kegiatan berpikir logis hendaknya kepada siswa dibiasakan untuk selalu tanggap terhadap permasalahan yang dihadapi dengan mencoba menjawab pertanyaan “mengapa”, “apa”, dan “bagaimana”. Sebagai contoh, kepada siswa kelas III SD diminta untuk menjawab pertanyaan berapa hasil kali 6x8. Bagi siswa yang telah terbiasa dengan menghafal tentu ia dapat menjawab langsung 48. Namun jika ditanya mengapa hasilnya 48, siswa akan kebingungan karena dibenaknya hanya tergambar ingatan angka 48. Bagi siswa yang terbiasa dengan berpikir logis, pertanyaan seperti di atas sudah sering ia dapatkan. Bahkan, ia akan mencoba memahami apa arti dari perkalian tersebut. Hal ini berarti bahwa siswa telah menangkap makna atau pengertian dari soal tersebut (Sahat Saragih, 2007).

20 komentar:

my first blog mengatakan...

menghafal itu tidak mudah karena menghafal itu membutuhkan daya ingat yang tinggi.sedangkan berpikir logis adalah berpikir secara konsisten untuk membuat kesimpulan.proses menghafal dan berpikir logis membutuhkan pemikiran yang tajam.

shinta cute mengatakan...

menurut saya,belajar dengan cara menghafal sangat sulit.dengan menghafal akan mengakibatkan pa yg dihafalkan pasti akan cepat lupa. saya sendiripun begitu.dengan menghafal maka kita akan ingat saat itu jg, dan lupa setelahnya, tetapi jika dipahami kita akan cenderung ingat terus.

veronika mengatakan...

Guru merupakan orang yang sangat berharga bagi bangsa,karena seorang guru dapat mencerdaskan anak-anak bangsa.jadilah seorang guru yang dapat mengembangkan kemajuan bangsa dan negara.Makasi pak wahyudi udah buat blog yang menarik benget,sehingga aku menambah wawasan.

ePie GenDudh mengatakan...

menurut saya rata-rata siswa sekarang kurang memahami materi dikarenakan siswa berpikir apabila bertanya akan malu di depan teman-teman dan guru akan menganggap bodoh. padahal sebagaimana kurikulum sekarang ini mengacu pada ke aktifan tiap siswa dalam proses pembelajaran.
sedangkan metode menghafal yang setiap kali diterapkan oleh para siswa yang dilakuka tiap malam saat ada mau ujian atau tes yang akan dilaksanakan di pagi keesokan harinya membuat para siswa tidak akan mendapat hasil yang maximal.
oleh sebab itu siswa diharapkan dapat belajar dengan penerapan yang benar dan diminta siswa berperan aktif dalam pembelajaran saat ini.

sari vefra mengatakan...

"proses menghafal dan berfikir logis" sangat lah penting dalam metode pembelejeran matematika, dan dalam artikel ini saya pribadi sangat tertarik dengan artikel tersebut....

verradwiutami mengatakan...

tentang cara pembelajaran...
saya sebagai mahasiswa pend.math, saya setujuh dengan perubahan proses mengajar menjadi proses belajar,dimana mahasiswa tidak hanya mendengarkan penjelasan materi dari dosen yang mungkin belum tentu dapat dimengerti,apalagi dalam pelajaran matematika. Maka dari itu,harus di ubah menjadi proses balajar.
Faktor pendukung kemajuan siswa,tidak hanya pada minat belajar siswa tersebut akan tetapi juga faktor dari pihal pengajar (guru).
Setiap individu mempunyai kelebihan dan kekurangan.Berbagai macam kemampuan atau sifat siswa dalam belajar membuat guru untuk ikut serta dalam proses belajar, apa mereka mampu untuk menghafal meteri atau tidak??
apa mereke mampu berfikir logis atau tidak??
Guru tidak hanya menuntut murid untuk bisa akan tetapi harus membantu muridnya mencapai kesuksesan.
semangaaat...:)

itha firma mengatakan...

Menghafal sesuuatu yang tidak menyenangkan bagi saya karena sangat dituntut untuk mengingat apa yang telah dihafal dan biasanya cara menghafal tidak efektif karena mudah terlupakan.
Berfikir secara logis lebih baik daripada menghafal namun pendidik juga harus menerangkan hingga jelas tidak hanya kepada sebagian siswa yang ckup faham namun kepada siswa yang sangat kurang jelas dan kurang paham.

erLinda mengatakan...

saya setuju dengan pendapat mukhayat,seorang anak akan mengambil gampangnya saja,bila belajar dengan cara menghafal

cewek alim mengatakan...

Menurut saya proses menghafal tidak efektif karena menghafal itu hanya di ingat beberapa saat saja.
Berfikir logis lebih efektif karena lebih dipahami dan begitu saja terlupakan.

ekoandiwibowo mengatakan...

Wah keren pak,bagus banget.

windi mengatakan...

menurut saya menghafal bkan cara yang tapat dalam belajar matematika,cara yang tepat belajar matematika yaitu berpikir logis dan berlatih

jonathan sembiring mengatakan...

menghafal dan berfikir logis.
Saya sangat suka dengan materi ini.
Jika diimplikasikan secara tepat kepada murid, maka hasil yang optimal dapat dicapai

Fandi exsac mengatakan...

menurut saya, proses menghafal tiap individu berbeda-beda karena tiap individu mempunyai kecerdasan berpikir yang berbeda pula.
pada umumnya berpikir logis ditujukan kepada mahasiswa/orang yang mempunyai tingkat kecerdasan yang cukup tinggi. tetapi berpikir sangat susah dilakukan oleh anak-anak karena IQ mereka masih dalam tahap perkembangan.

tugas blogger mengatakan...

syaloomm....^^
***artikel ini cukup menarik perhatian..
pembelajarn pada saat ini hanya mengandalkan hafalan saja sehinggga mengakibatkan kemampuan kognitif anak menjadi rendah. Jadi mulai sekarang hindari cara belajar yang seperti ini karena akan mengakibatkan anak menjadi pasif.sw

blog indonesia mengatakan...

artikel tersebut membuka pikiran saya tentang bagaimana cara belajar yang baik yakni dengan cara memahami materi pelajaran bukan dengan menghafal materi pelajaran.

sidrotul mengatakan...

Karena kurikulum yang diubah-ubah dapat menyebabkan rendahnya hasil belajar.Hal yang dapat menyebabkan nilai rendah juga disebabkan karena pembelajaran yang kurang menyenangkan hanya guru yang aktif semantara siswanya pasif.Agar tidak terjadi hal yang buruk guru harus banyak memberi latihan-latihan kepada siswa.

arina eka (202009037) mengatakan...

menurut saya artikel ini bagus, karena memang anak2 sekarang menggunakan metode menghafal dalam pelajarannya. Sebagai contoh anak2 SMA, mereka lebih banyak menggunakan sistem menghafal karena mungkin dalm guru menerangkan mar\teri mereka tidak memperhatikan sehingga sewaktu akan diadakan evaluasi atau ulangan mereka menggunakan sistem kebut semalam atau yang kita kenal SKS, sehingga setelah ulangan itu selesai anak tidak ingat lagi apa yang mereka pelajari.sehingga materi yang mereka baca hanya untuk mengerjakan soal-soal test.
Maka setidaknya guru mampu mengajak siswanya aktif dalam pelajaran atau materi yang sedang di terangkan, sehingga anak akan ingat terus.

nulul mengatakan...

Menurut saya, apabila pelajar belajar dengan menghafal tidaklah baik. karena apabila hafalan pelajar tidak kuat, maka pelajar akan cepat lupa tentang materi yang dipelajari. belajar yang baik yaitu dengan memahami materi pelajaran.

nulul mengatakan...

Menurut saya, apabila pelajar belajar dengan menghafal tidaklah baik. karena apabila hafalan pelajar tidak kuat, maka pelajar akan cepat lupa tentang materi yang dipelajari. belajar yang baik yaitu dengan memahami materi pelajaran.

nulul mengatakan...

Menurut saya, apabila pelajar belajar dengan menghafal tidaklah baik. karena apabila hafalan pelajar tidak kuat, maka pelajar akan cepat lupa tentang materi yang dipelajari. belajar yang baik yaitu dengan memahami materi pelajaran.