VIDEO

Loading...

Minggu, 13 Juli 2008

Hakekat Pembelajaran Sains

Hakikat Pembelajaran Sains

Oleh: Wahyudi S.P, S.Pd

Untuk dapat membelajarkan Sains/IPA dengan baik dan Anda menginginkan hasil yang diperoleh maksimal ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan. Yang pertama bagaimana kedudukan Sains itu sendiri sebagai Ilmu Pengetahuan, apa tujuannya, apa saja ruang lingkupnya dan aspek-aspek apa saja yang ada dalam pembelajaran sains. Yang kedua bagaimana kita mempersiapkan pembelajaran untuk siswa agar pembelajaran itu efektif, inovatif dan menarik.

Pembelajaran sains pada hakikatnya mencakup beberapa aspek antara lain:

1. Faktual

2. Keseimbangan antara proses dan produk

3. Aktif melakukan investigasi

4. Berpikir deduktif dan induktif Pengembangan sikap

Oleh karena sains merupakan ilmu empirik yang membahas tentang fakta dan gejala alam maka dalam pembelajarannya harus faktual, artinya tidak hanya secara verbal sebagaimana terjadi pada pembelajaran secara tradisional. Di samping itu karena hakikat sains kecuali sebagai produk juga sebagai proses maka dalam pembelajarannya siswa juga perlu dilatih keterampilan proses, yaitu proses bagaimana cara produk sains tersebut ditemukan. Keterampilan proses yang perlu dilatihkan meliputi keterampilan proses dasar misalnya mengarnati, mengukur, mengklasifikasi, mengkomunikasikan, mengenal hubungan ruang dan waktu, mengenal hubungan antar angka , menyimpuilcan dan memprediksi, serta keterampilan proses terintegrasi misalnya merancang dan melakukan eksperimen yang meliputi menyusun hipotesis, menentukan variabel, menyusun definisi operasional, menafsirkan data menganalisis dan mensintesis data. OIeh karena itu dalam pembelajaran sains seyogyanya diciptakan kondisi agar siswa selalu aktif untuk ingin tahu sehingga pembelajaran merupakan kegiatan investigasi terhadap permasalahan alam sekitar. Dengan melakukan investigasi akan terungkap fakta atau diperoleh data. Dan data investigasi yang biasanya bersifat khusus tersebut perlu digeneralisir agar siswa memiliki pemahaman konsep yang esensial. Untuk itu siswa perlu diajak untuk berpikir secara induktif. Di samping itu path beberapa proses sains yang dilakikan, siswa perlu menerapkan atau memvenifikasi suat hukum atau prinsip. Dengan demikian dalam pembelajaran sains siswa kecuali berpikir secara induktifjuga secara deduktif. Dan kegiatan dalam berproses sains seperti tersebut diharapkan beberapa sikap ilmiah dapat terbentuk dalam din siswa. Operasional pembelajaran sains seperti dimaksud di atas pada setiap jenjang pendidikan sangat dipengaruhi oleh apa tujuan dan pembelajaran sains, sedang tujuan pembelajaran sains dimaksud telah dirumuskan dalam suatu Kurikulum yang sedang berlaku. Dalam suatu Kunkulum pendidikan, kecuali dirumuskan tentang Tujuan Pembelajaran, Ruang Lingkup Pembelajaran juga Prinsip-prinsip Pembelajaran yang perlu dikembangkan guna tercapainya tujuan pembelajaran. Untuk itu dalam setiap kegiatan pendidikan formal harus mengacu pada apa yang telah digariskan dalam Kurikulum tersebut.

1. Tujuan Pembelajaran Sains

Menurut Kunkulum 2004 yang berbasis pada kompetensi (Depdiknas, 2003) tujuan pembelajaran untuk tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas memiliki penekanan yang berbeda. Pada prinsipnya pembelajaran sains di Sekolah Dasar membekali siswa kemampuan berbagai cara untuk “mengetahui” dan “cara mengerjakan” yang dapat membantu siswa dalam memahami alam sekitar, sedang secara rinci tujuan pembelajaran sains di Sekolah Dasar adalah:

a. Menanamkan rasa ingin tahu dan sikap positif terhadap sains, teknologi dan masyarakat.

b. Mengembangkan keterampilan proses untuk menyelidiki alam sekitar, memecahkan masalah dan membuat keputusan.

c. Mengembangkan pengetahuan dan pemahaman konsep-konsep sains yang akan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam kehidupan seharihan.

d. Ikut serta dalam memelihara, menjaga dan melestarikan lingkungan alam.

e. Menghargai alam sekitar dan segala keteraturannya sebagai salah satu ciptaan Tuhan.

2. Ruang Lingkup Pembelajaran Sains

Ruang Iingkup pembelajaran sains meliputi 2 aspek yaitu Keija Ilmiah atau proses sains dan Pemahaman Konsep. Lingkup kerja ilmiah yang dimaksud adalah memfasilitasi keberlangsungan proses ilmiah yang meliputi penyelidikanl penelitian, berkomunikasi ilmiah, pengembangan kreativitas dan pemecahan masalah, sikap dan nilai ilmiah. Lingkup pemaharnan konsep/ materi sains dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi sedikit berbeda bila dibanding dengan Kurikulum sebelumnya. Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi lingkup materi sains relatiflebihjelas pengorganisasiannya. Antara materi pokok yang satu dengan yang lain tidak tumpang tindih. Secara rinci lingkup materi sains di Sekolah Dasar terbagi dalam 5 topik yaitu:

a. Makhluk hidup dan proses kehidupan, yang meliputi Manusia, hewan, tumbuhan dan interaksinya dengan lmgkungan serta kesehatan.

b. Benda/ Materi, sifat-sifat dan kegunaannya, yang meliputi : cair, padat dan gas.

c. Energi dan perubahannya meliputi: gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana.

d. Bumi dan Alam semesta, meliputi : tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainnya.

e. Sains, Lingkungan Teknologi dan Masyarakat (salingtemas) merupakan penerapan konsep sains dan saling keterkaitannya dengan lingkungan, teknologi dan masyarakat melalui pembuatan suatu karya teknologi sederhana. Dalam operasional pembelajarannya aspek proses sains diintegrasikan Iangsung dalam rangka pemahaman atau penemuan konsep sains. Dengan demikian diharapkan dapat terlihat adanya kesatuan antara proses sains dan produk sains.

3. Prinsip-prinsip Pembelajaran Sains

Sains merupakan bagian dan kehidupan manusia sehingga pembelajaran sains merupakan mteraksi antara siswa dengan lingicungan kehidupannya. Oleh karena itu dalam pembelajaran sains ditekankan agar berorientasi pada siswa. Peran guru terutama sebagai fasilitator. Mengingat hakikat sains kecuali sebagai produk juga proses ilmiah maka guru berkewajiban untuk menyediakan wahana dan meningkatkan pengalaman belajar siswa guna pencapaian tujuan pembelajaran sains tersebut. Untuk itu dalam pembelajaran sains perlu menerapkan prinsip-prinsip pembelajaran yang meliputi:

a. Empat Pilar Pendidikan Global.

b. Inkuiri.

c. Konstruktivistik.

d. Salingtemas (Sains- Lingkungan- Teknologi dan Masyarakat).

e. Pemecahan Masalah.

f. Pembelajaran bermuatan nilai.

g. Pakem (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan).

A. Empat Pilar Pendidikan Global: merupakan pnnsip pembelajaran yang meliputi:

Learning to know, learning to do, learning to be and learning to live together

Learning to know

Maksudnya dengan meningkatkan interaksi siswa dengan lingkungan fisik dan sosialnya diharapkan siswa mampu membangun pemahaman dan pengetahuan tentang alam di sekitarnya.

Learning to do

Maksudnya pembelajaran sains tidak hanya mendudukkan siswa sebagai pendengar. Melainkan siswa diberdayakan agar mau dan r sampu untuk memperkaya pengalainan belajarnya.

Learning to be

Maksudnya dan hasil interaksi dengan tingkungannya siswa diharapkan dapat membangun rasa percaya diri yang pada akhirnya membentuk jati dirinya.

Learning to live together

Maksudnya dengan adanya kesempatan beninteraksi dengan bethagai individu akan membangun pemahaman sikap positif dan toleransi terhadap kemajemukan dalam kehidupan bersama.

Contoh pembelajaran yang menerapkan prinsip learning to know, learning to do, learning to be dan learning to live together untuk topik “ Pola hidup Sehat” dapat ditempuh dengan langkah:

1). Untuk memahami bahwa kebiasaan merokok adalah kurang baik bagi kesehatan, siswa diajak melakukan kegiatan untuk rnengetahui, membuktikan dan menjadani bahwa asap rokok itu menghasilkan polutan sehingga bila terakumulasi terus-menerus dapat merusak saluran/ organ pernafasan.

2). Untuk mendapatkan pengetahuan tersebut siswa tidak hanya sekedar diberitahu melainkan diajak berinteraksi langsung dengan obyek permasalahannya. Caranya:

a). Melakukan percobaan dengan gambaran sbb:

Pada 2 buah stoples kecil bagian dalam tutupnya dilekatkan kapas putih. Dalam salh satu stoples diletakkan sepotong gabus yang diberi lubang sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk meletakkan rokok dalam keadaan berdiri. Selanjutnya rokok dinyalakan sehingga mengeluarkan asap dan tutup rapat-rapat dengan tutupnya yang telah dilekati kapas. Usahakan letak rokok tepat dibawah kapas. Biarkan beberapa saat kemudian bandingkan keadaan kapas path stoples tersebut dengan kapas path tutup stoples yang lain sebagai kontrol.

b.) Mengunjungi rumah sakit paru-paru atau tempat praktek dokter spesialis paru-paru dan melakukan wawancara dengan pasien yang sedang menunggu giliran periksa/ pengobatan. Tanyakan tentang kebiasaan apa saja yang sebelumnya rĂ ereka lakukan sehingga mereka menderita, keluahan-keluhan apa saja yang ia rasakan, berapa biaya yang sudah mereka keluarkan untuk mengusahakan sehat kembali.

c). Membaca pustaka tentang apa yang terkandung dalam asap rokok dan apa pengaruhnya bagi tubuh.

3.) Dengan melakukan kegiatan seperti tersebut di atas diharapkan siswa menyadari/ meyakini bahwa merokok itu ibaratnya awalnya nikrnat tapi sungguh membawa sengsara dikemudian han. Dengan menyadari hal tersebut nantinya mereka tidak tergoda untuk melakukannya. Dengan kata lam kebiasaan tidak merokok menipakan salah satu jati dirinya.

4) Akhirnya dengan jati din berpola hidup sehat tersebut ( dalam kesehariannya mereka tidak pernah merokok) ternyata mereka merasakan untungnya yaitu tubuh yang sehat, maka mereka akan tergerak untuk mengajak masyarakat di sekitarnya untuk melakukan hal yang sama. Agar kesehatan tubuh tersebut dapat dinikmati juga oleh masyarakat luas.

B. Inkuiri

Prinsip inkuiri atau penemuan perlu diterapkan dalam pembelajaran sains karena pada dasamya anak memiliki rasa ingin tahu yang besar, sedang alam sekitar penuh dengan fakta atau fenomena yang dapat merangsang siswa untuk ingin tahu lebih banyak. Oleh karena itu guru perlu memfasilitasi keingintahuan anak tersebut dalam menemukan jawabannya sendiri lewat proses sains yang dilakukan.

C. Konstruktivistik

Dalam pembelajaran sains guru sebaiknya ticlak merasa bahwa dialah sumber pengetahuan bagi siswanya, sehingga dalam pembelajarannya semata-mata ia menuangkan pengetahuanl gagasannya pada pikiran siswa dan mengharapkan bahwa siswa akan menerima begitu saja apa yang diberikan guru. Filosofi konstruktivisme memandang bahwa pengetahuan seseorang tidak dapat dipindahkan begitu saja. Melainkan perlu dibangun sendiri oleh siswa dengan cara mengkaitkan dengan pengetahuan awal yang sudah mereka miliki dalam struktur kognitiffiya (Suparno, 2000).

Prinsip inkuiri dan konstruktivistik dijadikan acuan terutama dalam pembelajaran yang menggunakan pendekatan penemuan terbimbingl Discovery dan pendekatan inkuiri.

D. Salingtemas (Sains, Lingkungan, Teknologi dan Masyarakat)

Sains dan teknologi merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Prinsip-prinsip sains dibutuhkan untuk pengembangan teknologi, sedang perkembangan teknologi akan memfasilitasi dan memacu penemuan prinsip-prinsip sains yang baru. Pengembangan sains dan teknologi path dasarnya untuk mensejahterakan urnat manusia. Namun tidak dapat dipungkiri perkembangan sains dan teknologi sering juga membawa dampak negatifterhadap hngkungan sehingga merugikan masyarakat. Oleh karena itu dalam pembelajaran sains agar terasa lebih bermakna perlu ada kajian tentang bagaimana dampak penerapan sains dan teknologi terhadap lingkungan serta solusi apa yang dapat dimncang untuk mengatasi dampak negatif tersebut agar masyarakat tidak dirugikan.

e. Pemecahan masalah

Pada dasarnya dalam kehidupan sehari-hari manusia selalu berhadapan dengan aneka masalah yang perlu dipecahkan. Disisi lain salah satu tolok ukur tingkat kecerdasan siswa banyak ditentukan oleh kemampuannya dalam memecahkan masalah. Oleh karena itu dalam pembelajaran sains sejak dini siswa perlu dilatih untuk memecahkan suatu masalah agar nantinya setelah mereka dewasa cukup memiliki bekal untuk menghadapi masalah dalai kehidupannya. Pada dasarnya prinsip pemecahan masalah menjiwai semua tipe pembelajaran yang tergolong “Student Centered”. Lebih-Iebih pada pembelajaran dengan pendekatan Discovery, Inkuiri, Sains-TeknologiMasyarakat, prinsip pemecahan masalah merupakan sasaran utama.

f. PembeLajaran bermuatan nilai

Masyarakat atau lingkungan di sekitar memiliki nilai-nilai yang terpelihara dan perlu dihargai. Oleh karena itu penerapan atau pembelajaran sains perlu dilakukan secara bijaksana agar tidak berdampak buruk terhadap lingkungan atau kontradiksi dengan nilai-nilai yang diperjuangkan masyarakat sekitar.

Bahkan secara khusus perlu diusahakan adanya pembelajaran yang dapat memupuk atau memperkuat tumbuh kembangnya nilai tersebut. OIeh karena itu bila menerapkan prinsip pembelajaran bermuatan nilai sebaiknya mengambil nilai-nilai yang bersifat universal, sehingga dapat diterima oleh semua lapisan masyarakat. Pembelajaran sains bermuatan nilai dapat dilakukan dengan mengambil topik yang berkaitan dengan Polusi, Pelestarian dan Perlindungan Alam, Seksuaiitas, Bioteknologi dll(Amien, 1988).

g. Prinsip Pakem (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan

Bila dilihat dan kepanjangan istilah tersebut menunjukkan bahwa prinsip mi merupakan paduan antara beberapa aspek yang sudah terkandung dalam prinsip sebelumnya. Hanya saja kalau pada prinsip sebelumnya aspek tersebut mendapat penekatan secara terpisah atau tidak secara ekplisit tertulis/ dinyatakan. Prinsip Pakem pada dasamya merupakan prinsip pembelajaran yang beronentasi pada siswa aktif melakukan kegiatan baik aktif berpikir maupun kegiatan yang bersifat motorik. Untuk mc.ngusahakan agar kedua aspek tersebut aktif maka perlu dikemas dalam suatu paket pembelajaran yang kreatif. Di samping itu, dengan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran diharapkan dapat muncul kreativitas siswa untuk dapat mengembangkan atau menerapkan pengetahuan yang diperoleh. Walaupun kreativitas guru mendapat tempat/ kebebasan dalam merancang suatu pembelajaran namun harus dalam konteks untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian pembelajaran akan efektif. Aspek keempat yang terkandung dalam prinsip Pakem adalah pembelajaran yang menyenangkan. Aspek mi perlu ditekankan agar siswa tidak jenuh dan berminat untuk selalu mengikuti proses pembelajaran dan awal sampai akhir.

Mengingat prinsip mi merupakan keterpaduan antara beberapa prinsip dan saat ini merupakan salah satu diantara prinsip yang ditekankan untuk dikembangkan di sekolah-sekolah.

maka untuk mendapatkan gambaran tentang prinsip mi dapat dilihat pada contoh berikut : Pembelajaran untuk pokok bahasan Adaptasi makhluk hidup dapat dilakukan dengan cara/ langkah sebagai berikut

1). Pertama-tama dilakukan upaya untuk mengaktiflcan proses berpikir siswa dengan cara diajukan pertanyaan : Mengapa ikan emas kalau diletakkan di atas tanah lama-kelaman akan mati, sebaliknya kelinci kalau dimasukkan dalam kolam juga lama kelamaan akan mati. Begitu juga ikan emas kalau dimasukkan dalam air laut lamakelamaan akan mati dan cumi-cumi kalau dimasukkan dalam air tawar juga akan mati, padahal sama-sama air. Pertanyaan mi akan memunculkan jawaban siswa yang bervariasi. Umumnya jawaban yang muncul termasuk “dangkal” misalnya karena tidak cocok. Tetapi mengapa tidak cocok dan apanya yang tidak cocok biasanya tidak muncul dalam jawaban tersebut.

2). Untuk membantu mengarahkan pemahaman siswa pada konsepsi yang benar dilakukan strategi kreatif dengan cara analogi melalui penggunaan alat peraga. Dihadapan siswa ditunjukkan karton atau stereofoaml gabus (dapat juga ditempelkan di papan tulis) yang berbentuk empat persegi panjang dan bercelah serta bernomor sbb.:

Selanjutnya diajukan pertanyaan sekaligus mengaktiflcan siswa dengan cara siswa diminta melakukan peragaan untuk memasangkan potongan karton/ gabus dengan celah yang cocok. Perintahf Pertanyaannya adalah:

- Potongan karton/ gabus mana yang cocok/ sesuai untuk menempati masing-masing celah.

- Potongan karton/ gabus mana yang tidak masuk/ pas mengisi celah yang ada.

Jawaban dan hasil peragaan yang diharapkan adalah memasangkan

antara:

Sedang potongan karton! gabus yang berkode B dan D tidak bisa masuk ke celah yang ada.

3) Pada siswa ditanya: Mengapa potongan karton/ gabus B dan D tidak bisa masuk ke celah yang ada dan mengapa potongan karton G hanya bisa masuk ke celah 1, potongan karton/ gabus A hanya bisa masuk ke celah 2, potongan karton/ gabus E hanya bisa masuk ke celah 3, potongan karton C hanya bisa masuk ke celah 4 dan potongan karton F hanya bisa masuk ke celah 5.

Siswa diharapkan dapat menemukan jawaban bahwa: Bentuk potongan karton G sesuai dengan celah 1, bentuk potongan karton A sesuai dengan celah 2 dst.; sedang bentuk potongan karton B dan D tidak bisa masuk celah karena tidak ada celah yang sesuai dengan bentuk dan ukurannya. Setelah siswa memahami bahwa “ bentuk benda menentukan bisa atau tidaknya benda tersebut masuk/ berada dalam suatu tempat”

4) Maka pemahaman ini dipakai/ dikembangkan untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan masalah adaptasi makhluk hidup. Caranya dihadapan siswa ditunjukkan berbagai macam kartu yang bergambar bagian tubuh hewan sebagai berikut.

b).Selanjutnya diajukan serangkaian pertanyaan berturut-turut a). Gambar-gambar tersebut merupakan bagian tubuh dan hewan apa saja. Jawaban yang diharapkan A = bagian tubuh anjing laut, B = ayam, C = kura-kura, D = ikan, E = sapi dan F = katak. Dan gambar-gambar yang ada alat! organ tubuh apa yang ada! nampak pada setiap gambar.

Jawaban yang diharapkan adalah alat! organ gerak Hewan mana yang hanya dapat hidup di air, hewan mana yang cocok hidup di darat dan hewan mana yang dapat hidup baik di darat maupun di air

c). Jawaban yang diharapkan : hewan yang hanya dapat hidup di air adalah ikan, hewan yang cocok hidup di darat adalah ayam

dan sapi sedang hewan yang dapat hidup baik di darat dan di air adalah katak, kura-kura dan anjing laut.

d). Adakah huhungan antara tempat hidup hewan dengan alat gerak hewan, Bagaimana keterkaitan/ hubungannya.

Pertanyaan mi memungkinkan munculnya jawaban yang bervariasi. Untuk itu guna mengarahkan padajawaban yang benar siswa dipandu dengan diajak melihat analogi antara fakta pada kegiatan 3) dengan pertanyaan pada butir 4.d). Bila siswa masih mengalami kesulitan untuk melihat analoginya dapat dibimbing untuk menganalisis permasalahan dengan langkah:

1. Kalau dalam fakta 3) tadi terbukti bahwa potongan karton/ busa untuk bisa masuk ke/ pas mengisi celah no. 1, 2, 3, 4, dan 5 harus memiliki bentuk yang sesuai dengan tipe celah yang ada.

2. Sedang dalam pertanyaan 4.d) menyangkut hubungan! keterkaitan antara tempat hidup/ habitat hewan dengan alat gerak yang dimiliki maka:

Diajukan pertanyaan pada siswa : Tempat hidup habitat hewan dalam pertanyaan 4.d) analog! sama dengan apa pada fakta 3) dan alat gerak hewan analog dengan apa pada fakta

3). Jawaban yang diharapkan : habitat! tempat hidup analog dengan celab pada karton/ gabus empat persegi panjang, sedang alat

gerak analog dengan potongan karton/ gabus.

3. Selanjutnya siswa diminta memperhatikan bentuk alat gerak yang dimiliki masing-niasing hewan yang ada di kartu , kemudian diajukan kembali pertanyaan : Bagaimana keterkaitan antara alat gerak hewan dengan habitatnya.

Jawaban yang diharapkan:

- Alat gerak hewan yang berbentuk melebar/ berselaput cocok untuk hewan yang hidupnya di perairan karena memungkinkan

untuk digunakan berenang/ mendayung.

- alat gerak yang bentuknya menapak cocok untuk hewan yang habitatnya di darat karena memungkinkan untuk menyangga/

tetap tegaknya tubuh hewan ybs.

Dan semua kegiatan pembelajaran tersebut diharapkan siswa dapat menyimpulkan bahwa: Untuk dapat bertahan hidup di hingkungannya maka makhluk hidup perlu menyesuaikan ogan tubuh yang dimiliki dengan tipe h4bitatnya. Dan di akhir pembelajaran baru dikenalkan konsep bahwa penyesuaian din terhadap lingkungan tersebut dikenal dengan istilah Adaptasi.

Dan uraian tentang macam-macam prinsip pembelajaran tersebut diatas nampak bahwa hakekat pembelajaran sains adalah memberdayakan siswa seoptimal mungkin untukmemahami atau mengeksplorasi alam sekitarnya guna mendapatkan pengetahuan yang bermanfaat dalam kehidupannya. Untuk dapat memberdayakan siswa dalam pembelajaran sains perlu diperhatikan beberapa aspek antara lain:

a. Pentingnya menyadani bahwa pada dasarnya siswa memiliki “primordial konsepsi” tentang maten yang akan dibahas. Walaupun mungkin konsepsi tersebut salah, guru sebaiknya tidak terlalu cepat menyalahkan dan mengabaikan begitu saja. Tetapi justru menggunakan ide atau pengetahuan awal siswa trsebut sebagai titik tolak untuk memulai pembelajaran. Selanjutnya berikanlah kesempatan seluas-luasnya siswa untuk mengemukakan ide atau konsepsinya secara bebas.

b. Menempatkan kegiatan bertanya sebagai faktor utama dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu doronglah dan ciptakan kondisi agar siswa terpancing untuk bertanya. Melalui kegiatan bertanya secara otomatis siswa akan berlatih untuk berkomunikasi atau menyampaikan gagasan sebagai respon atas masalah yang dibahas. Dengan seringnya siswa dipacu untuk bertanya akan terbangun sikap kritis yang nierupakan awal terjadinya proses sains. Disamping


itu keterampilan bertanya berkorelasi dengan keterampilan

memberikan penjelasan, sehingga siswa yang dapat menyusun atau

membuat pertanyaan yang terarah path pokok permasalahan nantinya

akan mampu memberikan penjelasan terhadap suatu masalah dengan

baik.

c. Dalam menyampaikan permasalahan atau pertanyaan pilihlah

pertanyaan yang bersifat “open ended”. Untuk itu pertanyaan yang

tipenya “Mengapa” merupakan pertanyaan yang fundamental dalam

kegiatan pembelajaran sains (Cross, 1996). Untuk menjawab

pertanyaan “ mengapa” siswa akan mengembangkan kemampuan

berpikir lebih komprehensip. Oleh karena itu doronglah siswa untuk

mencari informasi dan berbagai macam sumber.

d. Membeni porsi yang cukup untuk kegiatan atau bekerja dalam

kelompok. Dengan bekerja dalam kelompok siswa akan tergugah

kesadarannya bahwa suatu masalah adalah tanggung jawab bersama,

sehingga nantinya mereka tidak bersikap apatis terhadap masalah

yang ada. Disamping itu bekerja dalam kelompok memungkinkan

siswa menyadari kekurangan dirinya dan melihat adanya kelebihan

dan orang lain, sehingga akan terbangun sikap ilmiah terbuka atau

menghargai orang lain.