VIDEO

Loading...

Selasa, 25 November 2008

Kependidikan

Keilmuan adalah Pengetahuan yang paling eksak yang diverifikasi secara cermat dan bersifat umum yang dapat diperoleh manusia,Ilmu adalah yang empiris,rasional, general dan kumulatif dari keempat-empatnya serentak,Ilmu pengetahuan sendiri sangat bersandar akan fakta empiris. Fakta empiris, yaitu: fakta yang dapat dialami langsung oleh manusia dengan mempergunakan pancainderanya, merupakan objek yang dipelajari oleh ilmu pengetahuan. Di luar hal yang diebutkan di atas adalah di luar jangkauan ilmu pengetahuan.Dan berdasarkan kenyataan (Realitas).
lmu pendidikan adalah ilmu yg mempelajari serta memproses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dl usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, pembuatan mendidik
tetapi definisi yg terpenting :
_Meningkatkan pengetahuan, pengertian, kesadaran, dan toleransi
_Meningkatkan "questioning skills" dan kemampuan menganalisakan sesuatu - termasuk pendidikannya!
_Meningkatkan kedewasaan individu - dari definisi di atas kami harus sangat kuatir kalau tujuannya hanya "pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok" - kita perlu tahu; (a) merubah sesuai dengan keinginan siapa, (b) menguntungkan siapa, (c) apakah kita menjadi robot atau manusia kalau "sikap dan tata laku" sama?
_Untuk perkembangan negara (negara yang mana saja) kami sangat perlu pendidikan yang menghargai kreativitas dan "individual thinking" supaya negara dapat membuat sesuatu yang baru dan lebih baik (tidak hanya meng-copy negara lain).
materi referensi:http://www.pendidikan.net/bahasa21.html
(http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20070924012639AA1O
ciri-ciri keilmuan didasarkan pada jawaban yang diberikan ilmu terhadap tiga pertanyaan pokok yang mencakup apa yang ingin kita ketahui (ontologis), bagaimana cara mendapatkan pengetahuan tersebut (epistemologi), dan apa nilai kegunaannya bagi kita (axiologi),ciri-ciri ilmu pendidikanSistematis,metodis, rasional, empiris, umum,kumulatif dan koheren (bertalian)tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan (realitas).Memiliki metode sebagai cara yang tetap dalam mengumpulka,memformulasi, dan menganalisis data, sehingga ilmu dapat dikembangkan dan dipelajari. dan dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) tersebut.
Ketidakberdayaan dalam epistemologi menjadi titik lemah dalam membangun metodologi keilmuan. Dalam banyak kasus siswa mampu hafal banyak rumus atau teori saat menghadapi ujian, namun akan segera hilang saat ujian telah berlalu, dan lebih parah lagi siswa hanya mampu menyelesaikan soal jika pertanyaan sama persis dengan rumus yang dihafal. Banyak siswa yang bingung setelah rumus diubah-ubah meskipun substansinya sama, hal ini menunjukkan bahwa pola pikir siswa sangat mekanis, seperti robot yang tidak punya naluri untuk improvisasi, inovasi, dan lebih-lebih analisis. (http://www.uniga.ac.id/cetak.php?id=32)
Dasar keilmuan dan Ilmu Pendidikan adalah Epistemologi,Aksiologi,dan Ontologi.Kemandekan dalam epistemologi adalah kematian kreativitas dan kematian dasar-dasar keilmuan. Jika kondisi ini dibiarkan maka peningkatan sumber daya insani akan susah dicapai, sebab yang dihasilkan sampai dengan saat ini hanyalah siswa – siswa yang sekedar hafal rumus ataupun teori Fisika, Kimia, Biologi, PPKn dan mata pelajaran lainnya, namun tidak tahu asal-usul rumus dan bangunan keilmuan dari materi yang dipelajari.
Membangun epistemologi keilmuan berarti mengkonstruksi keilmuan. Mengkonstruksi keilmuan berkaitan erat dengan filsafat konstruksivisme. Dalam filsafat konstruktivisme pengetahuan merupakan hasil konstruksi bukanlah suatu imitasi dari kenyataan. Pengetahuan dikonstruk dari konstruksi kognitif melalui pengalaman, dan proses mengkonstruksi itulah siswa terlibat dalam kegiatan berepistemologi.
Aksiologi (nilai-nilai dari ilmu atau bidang kajian) memegang peran yang sangat vital dalam norma dan tata hidup umat manusia baik dalam lingkup lokal, nasional, maupun global. Aksiologi penting disampaikan karena setiap materi yang diajarkan mengandung nilai (value bound) dan tidak bebas nilai (value free). Tanpa disampaikannya unsur aksiologi dari setiap kajian akan sangat membahayakan bagi kehidupan umat manusia. Ketiadaan unsur aksiologi menjadikan kimia sebagai bagian dari senjata pemusnah masal, biologi akan menjadi racun yang mematikan, dan lain sebagainya. Hanya saja problem yang tetap ada adalah bagaimana menyampaikan unsur aksiologi dari setiap ilmu yang efektif?. Bukankah dalam semua pendidikan agama diajarkan hal yang benar/salah, halal/haram, legal/illegal namun perilaku menyimpang selalu ada?.
Memang out put pendidikan selama ini banyak yang menjadi shizofrenia dimana mereka sadar akan hukum dan tata nilai namun tetap melanggar. Ini menunjukkan pendidikan belum mampu membangun jiwa out putnya secara maksimal, katakanlah caracter building. Namun kita juga sepakat bahwa bangunan jiwa tidak saja dipengaruhi oleh proses pendidikan tetapi juga lingkungan, keluarga, dan rizki yang dimakan.
Betapapun susahnya membangun jiwa out put pendidikan, yang jelas penyampaian aksiologi sebagai satu dari tiga pilar bidang kajian akan sangat penting, sebab tidak saja menjadi sebuah pengetahuan dari kemamfaatan ilmu namun juga menjadi peletakan dasar-dasar nilai bidang kajian yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan.
Ontologi an sich, sehingga tidak dicapai proses dan tidak mempunyai kaitan dengan tata nilai dalam bermasyarakat.
Epistemologi,aksiologi,dan ontologi sebagai pilar keilmuan harus senantiasa diperjuangkan untuk selalu hadir dalam pembelajaran di sekolah. Tanpa adanya penyampaian dari ketiganya maka pendidikan akan menjadi hambar dan hanya menghasilkan siswa-siswa yang sekedar hafal rumus dan teori dari setiap pengetahuan namun kering makna.
(http://www.malhikdua.sch.id/Kolom/Guru/DISORIENTASI-PENDIDIKAN.html)
Tujuan keilmuan dan ilmu pendidikan,Secara umum tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian secara terperinci dipertegas lagi dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bertolak dari tujuan pendidikan nasional tersebut, dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan merupakan tujuan akhir yang harus diterjemahkan lebih konkret melalui sebuah proses. Proses dimaksud adalah usaha yang terpola, terencana, dan tersistematisasi melalui proses pendidikan. Keinginan luhur bangsa Indonesia itu lahir dari tatanan nilai yang dianut dan terakumulasi dari dalam kesadaran dirinya sebagai bangsa dan kesadaran terhadap dunia di sekitarnya. (http://udhiexz.wordpress.com/2008/05/27/ilmu-pendidikan-islam-versi-perspektif-nasional-dan-lembaga-pendidikan/)
Fungsi keilmuan dan Ilmu Pendidikan sebagai penuju ke arah kemajuan, dan kemajuan itu digambarkan sebagai masyarakat tahap positif, atau masyarakat industrial,dan memunculkan teori-teori baru bisa diterima dan dapat bermanfaat bagi masyarakat.Artinya di sini bahwa ada nilai-nilai yang menjadi muatan suatu ilmu bisa berkembang dan bermanfaat.
(http://mawardiumm.blogspot.com/2008/03/strategi-pengembangan-ilmu-tanggung.html)
Demikian diskusi dari kelompok kami yang terdiri dari:
• Agnes Maradita Ruscasari (292008146)
• Fitri Ariyanti (292008142)
• Linta Rahmawatiningrum (292008089)
• Nila Artanti (292008047)
• Kartika Maya Sari (292008051)
• Vania Abriastanti (292008043)

30 komentar:

tea_ka mengatakan...

Pendidikan di Indonesia
Selama saya mengenyam pendidikan di Indonesia kurang lebih selama dua belas tahun, saya merasa bahwa pendidikan di Indonesia masih belum dapat mencapai visi, missi dan tujuan pendidikan yang ada. Karena penilaian pendidikan hanya berorientasi pada hasil, bukan proses, sehingga pembinaan mengabaikan EQ dan SQ, tetapi hanya IQ yang ditekankan. Sebenarnya tujuan pendidikan yang ada di Indonesia adalah berorentasi pada ketaqwaan, kecerdasan dan keterampilan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya karena akan mengakibatkan kehidupan tidak seimbang. Untuk itulah pendidikan di Indonesia harus diubah dengan tidak hanya mengandalkan kemampuan IQ saja tetapi juga kemampuan EQ dan SQ. Ketika Indonesia mempergunakan kurikulum 1994, siswa tidak diberi kebebasan untuk menyampaikan pendapatnya dan guru tidak menekankan kepada siswa untuk berpikiran secara kritis dan kreatif, siswa hanya sebagai objek pelaksanaan pendidikan yang pasif saja. Metode pengajaran guru menekankan pada metode hafalan, tanpa memperhatikan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang dimiliki oleh siswa. Hal itu sungguh menghambat perkembangan kecerdasan siswa. Dan juga kurang optimalnya pelaksanaan sistem pendidikan di Indonesia disebabkan karena sulitnya menyediakan guru-guru yang profesional untuk mengajar di daerah-daerah. Pada tahun 2004 Indonesia mempergunakan kurikulum KBK, kemudian tahun 2006 Indonesia menerapkan kurikulum KTSP yang mengutamakan otonomi sekolah, setiap sekolah dapat menyusun standar kompetensi yang sesuai dengan sumber daya manusia yang ada di daerah tersebut. Akan tetapi sebenarnya kurikulum di Indonesia tidak kalah dengan kurikulum di Negara maju, hanya saja karena pelaksanaannya yang masih jauh dari optimal yang menyebabkan pendidikan di Indonesia jauh tertinggal dalam hal kualitasnya. Saya menghargai usaha pemerintah yang mengganti-ganti kurikulum untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia ini, akan tetapi menurut saya hal itu bukan menjadi masalah utama, akan tetapi karena pelaksanaan dilapangan yang kurang optimal dan juga terbatasnya sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar yang menyebabkan tujuan yang dicapai menjadi kurang optimal. Dan juga karena masyarakat belum sadar akan betapa pentingnya pendidikan dalam membentuk manusia yang cerdas sesuai dengan tuntutan zaman. Menurut saya pelaksanaan UAN justru hanya akan membuat siswa merasa tertekan dan terbebani dengan tuntutan standar nilai yang telah ditentukan. Sesuai PP 19/2005, UAN adalah indikator kelulusan. Menurut saya pelaksanaan UAN tidak begitu tepat untuk menilai kualitas pendidikan yang ada karena hal tersebut hanya akan mengkondisikan penyelewengan/kecurangan kepala sekolah ataupun guru untuk dapat meluluskan anak didiknya supaya citra sekolah menjadi terangkat. Berbagai macam cara dilakukan oleh guru maupun murid supaya anak didiknya bias lulus, sangat disayangkan bukan? Banyak orang menyayangkan jerih payah selama tiga tahun hanya ditentukan dalam tiga hari. Banyak murid cerdas yang diterima dalam SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru),tetapi gagal dalam UAN.Hal tersebut menjadikan beban bagi siswa yang justru akan menyebabkan anak mengalami gangguan mental. Jadi saya merasa tidak setuju dengan pelaksanaan UAN sebagai indicator kelulusan. Karena sebenarnya UAN diselenggarakan untuk mengetahui seberapa bagusnya kualitas suatu sekolah didalam pencapaian hasil pendidikan. Sebenarnya masalah serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal.. Hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang justru menghambat penyediaan sumber daya menusia yang sebenarnya tiap insan yang hidup didunia ini mempunyai keahlian, keterampilan, potensi, bakat, kreativitas dan juga kemampuan untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa kita di berbagai bidang. Faktor yang lain adalah pendidikan di Indonesia dipengaruhi oleh masalah ekonomi. Banyak anak-anak yang putus sekolah karena orang tuanya tidak sanggup untuk membiayai sekolah anaknya, sehingga dengan terpaksa anak tersebut ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Dan juga masalah-masalah yang lain adalah rendahnya prestasi siswa, rendahnya sarana dan prasarana, rendahnya kualitas guru dan mahalnya biaya pendidikan yang mahal, yang menyulitkan sebagian masyarakat Indonesia yang kurang mampu. Hal ini dapat mengakibatkan banyaknya anak-anak Indonesia yang terancam putus sekolah. Oleh karena itu, sangat lah di perlukan peningkatan dana pendidikan di Indonesia agar dapat membantu masyarakat Indonesia yang kurang mampu melalui program beasiswa, orang tua asuh, dan dapat juga dengan pembebasan biaya pendidikan.

tea_ka mengatakan...

Pendidikan di Indonesia
Selama saya mengenyam pendidikan di Indonesia kurang lebih selama dua belas tahun, saya merasa bahwa pendidikan di Indonesia masih belum dapat mencapai visi, missi dan tujuan pendidikan yang ada. Karena penilaian pendidikan hanya berorientasi pada hasil, bukan proses, sehingga pembinaan mengabaikan EQ dan SQ, tetapi hanya IQ yang ditekankan. Sebenarnya tujuan pendidikan yang ada di Indonesia adalah berorentasi pada ketaqwaan, kecerdasan dan keterampilan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya karena akan mengakibatkan kehidupan tidak seimbang. Untuk itulah pendidikan di Indonesia harus diubah dengan tidak hanya mengandalkan kemampuan IQ saja tetapi juga kemampuan EQ dan SQ. Ketika Indonesia mempergunakan kurikulum 1994, siswa tidak diberi kebebasan untuk menyampaikan pendapatnya dan guru tidak menekankan kepada siswa untuk berpikiran secara kritis dan kreatif, siswa hanya sebagai objek pelaksanaan pendidikan yang pasif saja. Metode pengajaran guru menekankan pada metode hafalan, tanpa memperhatikan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang dimiliki oleh siswa. Hal itu sungguh menghambat perkembangan kecerdasan siswa. Dan juga kurang optimalnya pelaksanaan sistem pendidikan di Indonesia disebabkan karena sulitnya menyediakan guru-guru yang profesional untuk mengajar di daerah-daerah. Pada tahun 2004 Indonesia mempergunakan kurikulum KBK, kemudian tahun 2006 Indonesia menerapkan kurikulum KTSP yang mengutamakan otonomi sekolah, setiap sekolah dapat menyusun standar kompetensi yang sesuai dengan sumber daya manusia yang ada di daerah tersebut. Akan tetapi sebenarnya kurikulum di Indonesia tidak kalah dengan kurikulum di Negara maju, hanya saja karena pelaksanaannya yang masih jauh dari optimal yang menyebabkan pendidikan di Indonesia jauh tertinggal dalam hal kualitasnya. Saya menghargai usaha pemerintah yang mengganti-ganti kurikulum untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia ini, akan tetapi menurut saya hal itu bukan menjadi masalah utama, akan tetapi karena pelaksanaan dilapangan yang kurang optimal dan juga terbatasnya sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar yang menyebabkan tujuan yang dicapai menjadi kurang optimal. Dan juga karena masyarakat belum sadar akan betapa pentingnya pendidikan dalam membentuk manusia yang cerdas sesuai dengan tuntutan zaman. Menurut saya pelaksanaan UAN justru hanya akan membuat siswa merasa tertekan dan terbebani dengan tuntutan standar nilai yang telah ditentukan. Sesuai PP 19/2005, UAN adalah indikator kelulusan. Menurut saya pelaksanaan UAN tidak begitu tepat untuk menilai kualitas pendidikan yang ada karena hal tersebut hanya akan mengkondisikan penyelewengan/kecurangan kepala sekolah ataupun guru untuk dapat meluluskan anak didiknya supaya citra sekolah menjadi terangkat. Berbagai macam cara dilakukan oleh guru maupun murid supaya anak didiknya bias lulus, sangat disayangkan bukan? Banyak orang menyayangkan jerih payah selama tiga tahun hanya ditentukan dalam tiga hari. Banyak murid cerdas yang diterima dalam SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru),tetapi gagal dalam UAN.Hal tersebut menjadikan beban bagi siswa yang justru akan menyebabkan anak mengalami gangguan mental. Jadi saya merasa tidak setuju dengan pelaksanaan UAN sebagai indicator kelulusan. Karena sebenarnya UAN diselenggarakan untuk mengetahui seberapa bagusnya kualitas suatu sekolah didalam pencapaian hasil pendidikan. Sebenarnya masalah serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal.. Hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang justru menghambat penyediaan sumber daya menusia yang sebenarnya tiap insan yang hidup didunia ini mempunyai keahlian, keterampilan, potensi, bakat, kreativitas dan juga kemampuan untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa kita di berbagai bidang. Faktor yang lain adalah pendidikan di Indonesia dipengaruhi oleh masalah ekonomi. Banyak anak-anak yang putus sekolah karena orang tuanya tidak sanggup untuk membiayai sekolah anaknya, sehingga dengan terpaksa anak tersebut ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Dan juga masalah-masalah yang lain adalah rendahnya prestasi siswa, rendahnya sarana dan prasarana, rendahnya kualitas guru dan mahalnya biaya pendidikan yang mahal, yang menyulitkan sebagian masyarakat Indonesia yang kurang mampu. Hal ini dapat mengakibatkan banyaknya anak-anak Indonesia yang terancam putus sekolah. Oleh karena itu, sangat lah di perlukan peningkatan dana pendidikan di Indonesia agar dapat membantu masyarakat Indonesia yang kurang mampu melalui program beasiswa, orang tua asuh, dan dapat juga dengan pembebasan biaya pendidikan.

tea_ka mengatakan...

Pendidikan di Indonesia
Selama saya mengenyam pendidikan di Indonesia kurang lebih selama dua belas tahun, saya merasa bahwa pendidikan di Indonesia masih belum dapat mencapai visi, missi dan tujuan pendidikan yang ada. Karena penilaian pendidikan hanya berorientasi pada hasil, bukan proses, sehingga pembinaan mengabaikan EQ dan SQ, tetapi hanya IQ yang ditekankan. Sebenarnya tujuan pendidikan yang ada di Indonesia adalah berorentasi pada ketaqwaan, kecerdasan dan keterampilan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya karena akan mengakibatkan kehidupan tidak seimbang. Untuk itulah pendidikan di Indonesia harus diubah dengan tidak hanya mengandalkan kemampuan IQ saja tetapi juga kemampuan EQ dan SQ. Ketika Indonesia mempergunakan kurikulum 1994, siswa tidak diberi kebebasan untuk menyampaikan pendapatnya dan guru tidak menekankan kepada siswa untuk berpikiran secara kritis dan kreatif, siswa hanya sebagai objek pelaksanaan pendidikan yang pasif saja. Metode pengajaran guru menekankan pada metode hafalan, tanpa memperhatikan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang dimiliki oleh siswa. Hal itu sungguh menghambat perkembangan kecerdasan siswa. Dan juga kurang optimalnya pelaksanaan sistem pendidikan di Indonesia disebabkan karena sulitnya menyediakan guru-guru yang profesional untuk mengajar di daerah-daerah. Pada tahun 2004 Indonesia mempergunakan kurikulum KBK, kemudian tahun 2006 Indonesia menerapkan kurikulum KTSP yang mengutamakan otonomi sekolah, setiap sekolah dapat menyusun standar kompetensi yang sesuai dengan sumber daya manusia yang ada di daerah tersebut. Akan tetapi sebenarnya kurikulum di Indonesia tidak kalah dengan kurikulum di Negara maju, hanya saja karena pelaksanaannya yang masih jauh dari optimal yang menyebabkan pendidikan di Indonesia jauh tertinggal dalam hal kualitasnya. Saya menghargai usaha pemerintah yang mengganti-ganti kurikulum untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia ini, akan tetapi menurut saya hal itu bukan menjadi masalah utama, akan tetapi karena pelaksanaan dilapangan yang kurang optimal dan juga terbatasnya sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar yang menyebabkan tujuan yang dicapai menjadi kurang optimal. Dan juga karena masyarakat belum sadar akan betapa pentingnya pendidikan dalam membentuk manusia yang cerdas sesuai dengan tuntutan zaman. Menurut saya pelaksanaan UAN justru hanya akan membuat siswa merasa tertekan dan terbebani dengan tuntutan standar nilai yang telah ditentukan. Sesuai PP 19/2005, UAN adalah indikator kelulusan. Menurut saya pelaksanaan UAN tidak begitu tepat untuk menilai kualitas pendidikan yang ada karena hal tersebut hanya akan mengkondisikan penyelewengan/kecurangan kepala sekolah ataupun guru untuk dapat meluluskan anak didiknya supaya citra sekolah menjadi terangkat. Berbagai macam cara dilakukan oleh guru maupun murid supaya anak didiknya bias lulus, sangat disayangkan bukan? Banyak orang menyayangkan jerih payah selama tiga tahun hanya ditentukan dalam tiga hari. Banyak murid cerdas yang diterima dalam SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru),tetapi gagal dalam UAN.Hal tersebut menjadikan beban bagi siswa yang justru akan menyebabkan anak mengalami gangguan mental. Jadi saya merasa tidak setuju dengan pelaksanaan UAN sebagai indicator kelulusan. Karena sebenarnya UAN diselenggarakan untuk mengetahui seberapa bagusnya kualitas suatu sekolah didalam pencapaian hasil pendidikan. Sebenarnya masalah serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal.. Hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang justru menghambat penyediaan sumber daya menusia yang sebenarnya tiap insan yang hidup didunia ini mempunyai keahlian, keterampilan, potensi, bakat, kreativitas dan juga kemampuan untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa kita di berbagai bidang. Faktor yang lain adalah pendidikan di Indonesia dipengaruhi oleh masalah ekonomi. Banyak anak-anak yang putus sekolah karena orang tuanya tidak sanggup untuk membiayai sekolah anaknya, sehingga dengan terpaksa anak tersebut ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Dan juga masalah-masalah yang lain adalah rendahnya prestasi siswa, rendahnya sarana dan prasarana, rendahnya kualitas guru dan mahalnya biaya pendidikan yang mahal, yang menyulitkan sebagian masyarakat Indonesia yang kurang mampu. Hal ini dapat mengakibatkan banyaknya anak-anak Indonesia yang terancam putus sekolah. Oleh karena itu, sangat lah di perlukan peningkatan dana pendidikan di Indonesia agar dapat membantu masyarakat Indonesia yang kurang mampu melalui program beasiswa, orang tua asuh, dan dapat juga dengan pembebasan biaya pendidikan.

tea_ka mengatakan...

Pendidikan di Indonesia
Selama saya mengenyam pendidikan di Indonesia kurang lebih selama dua belas tahun, saya merasa bahwa pendidikan di Indonesia masih belum dapat mencapai visi, missi dan tujuan pendidikan yang ada. Karena penilaian pendidikan hanya berorientasi pada hasil, bukan proses, sehingga pembinaan mengabaikan EQ dan SQ, tetapi hanya IQ yang ditekankan. Sebenarnya tujuan pendidikan yang ada di Indonesia adalah berorentasi pada ketaqwaan, kecerdasan dan keterampilan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya karena akan mengakibatkan kehidupan tidak seimbang. Untuk itulah pendidikan di Indonesia harus diubah dengan tidak hanya mengandalkan kemampuan IQ saja tetapi juga kemampuan EQ dan SQ. Ketika Indonesia mempergunakan kurikulum 1994, siswa tidak diberi kebebasan untuk menyampaikan pendapatnya dan guru tidak menekankan kepada siswa untuk berpikiran secara kritis dan kreatif, siswa hanya sebagai objek pelaksanaan pendidikan yang pasif saja. Metode pengajaran guru menekankan pada metode hafalan, tanpa memperhatikan kemampuan kognitif, afektif dan psikomotorik yang dimiliki oleh siswa. Hal itu sungguh menghambat perkembangan kecerdasan siswa. Dan juga kurang optimalnya pelaksanaan sistem pendidikan di Indonesia disebabkan karena sulitnya menyediakan guru-guru yang profesional untuk mengajar di daerah-daerah. Pada tahun 2004 Indonesia mempergunakan kurikulum KBK, kemudian tahun 2006 Indonesia menerapkan kurikulum KTSP yang mengutamakan otonomi sekolah, setiap sekolah dapat menyusun standar kompetensi yang sesuai dengan sumber daya manusia yang ada di daerah tersebut. Akan tetapi sebenarnya kurikulum di Indonesia tidak kalah dengan kurikulum di Negara maju, hanya saja karena pelaksanaannya yang masih jauh dari optimal yang menyebabkan pendidikan di Indonesia jauh tertinggal dalam hal kualitasnya. Saya menghargai usaha pemerintah yang mengganti-ganti kurikulum untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia ini, akan tetapi menurut saya hal itu bukan menjadi masalah utama, akan tetapi karena pelaksanaan dilapangan yang kurang optimal dan juga terbatasnya sarana dan prasarana yang mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar yang menyebabkan tujuan yang dicapai menjadi kurang optimal. Dan juga karena masyarakat belum sadar akan betapa pentingnya pendidikan dalam membentuk manusia yang cerdas sesuai dengan tuntutan zaman. Menurut saya pelaksanaan UAN justru hanya akan membuat siswa merasa tertekan dan terbebani dengan tuntutan standar nilai yang telah ditentukan. Sesuai PP 19/2005, UAN adalah indikator kelulusan. Menurut saya pelaksanaan UAN tidak begitu tepat untuk menilai kualitas pendidikan yang ada karena hal tersebut hanya akan mengkondisikan penyelewengan/kecurangan kepala sekolah ataupun guru untuk dapat meluluskan anak didiknya supaya citra sekolah menjadi terangkat. Berbagai macam cara dilakukan oleh guru maupun murid supaya anak didiknya bias lulus, sangat disayangkan bukan? Banyak orang menyayangkan jerih payah selama tiga tahun hanya ditentukan dalam tiga hari. Banyak murid cerdas yang diterima dalam SPMB (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru),tetapi gagal dalam UAN.Hal tersebut menjadikan beban bagi siswa yang justru akan menyebabkan anak mengalami gangguan mental. Jadi saya merasa tidak setuju dengan pelaksanaan UAN sebagai indicator kelulusan. Karena sebenarnya UAN diselenggarakan untuk mengetahui seberapa bagusnya kualitas suatu sekolah didalam pencapaian hasil pendidikan. Sebenarnya masalah serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal.. Hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang justru menghambat penyediaan sumber daya menusia yang sebenarnya tiap insan yang hidup didunia ini mempunyai keahlian, keterampilan, potensi, bakat, kreativitas dan juga kemampuan untuk meningkatkan mutu pendidikan bangsa kita di berbagai bidang. Faktor yang lain adalah pendidikan di Indonesia dipengaruhi oleh masalah ekonomi. Banyak anak-anak yang putus sekolah karena orang tuanya tidak sanggup untuk membiayai sekolah anaknya, sehingga dengan terpaksa anak tersebut ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Dan juga masalah-masalah yang lain adalah rendahnya prestasi siswa, rendahnya sarana dan prasarana, rendahnya kualitas guru dan mahalnya biaya pendidikan yang mahal, yang menyulitkan sebagian masyarakat Indonesia yang kurang mampu. Hal ini dapat mengakibatkan banyaknya anak-anak Indonesia yang terancam putus sekolah. Oleh karena itu, sangat lah di perlukan peningkatan dana pendidikan di Indonesia agar dapat membantu masyarakat Indonesia yang kurang mampu melalui program beasiswa, orang tua asuh, dan dapat juga dengan pembebasan biaya pendidikan.

v_3 mengatakan...

Saya sangat setuju dengan kalimat yang menyatakan bahwa "Dalam banyak kasus siswa mampu hafal banyak rumus atau teori saat menghadapi ujian, namun akan segera hilang saat ujian telah berlalu, dan lebih parah lagi siswa hanya mampu menyelesaikan soal jika pertanyaan sama persis dengan rumus yang dihafal. Banyak siswa yang bingung setelah rumus diubah-ubah meskipun substansinya sama, hal ini menunjukkan bahwa pola pikir siswa sangat mekanis, seperti robot yang tidak punya naluri untuk improvisasi, inovasi". Dalam hal ini dapat terkesan bahwa para peserta didik selama ini hanya dianggap seperti robot yang tidak punya naluri untuk memahami suatu hal tetapi hanya bisa menghafal rumus saja.Di sisni kita sebagai seorang calon pendidik harus bisa mengubah sistem pendidikan yang selama ini berjalan. Kita harus dapat membuat para peserta didik tidak hanya menghafal tetapi juga mengerti maksud dan memahami maksud dari rumus tersebut.Terima kasihhhh............

va_nia mengatakan...

Saya sependapat dengan kependidikan yang disebutkan"Aksiologi (nilai-nilai dari ilmu atau bidang kajian) memegang peran yang sangat vital dalam norma dan tata hidup umat manusia baik dalam lingkup lokal, nasional, maupun global. Aksiologi penting disampaikan karena setiap materi yang diajarkan mengandung nilai (value bound) dan tidak bebas nilai (value free). Tanpa disampaikannya unsur aksiologi dari setiap kajian akan sangat membahayakan bagi kehidupan umat manusia. Ketiadaan unsur aksiologi menjadikan kimia sebagai bagian dari senjata pemusnah masal, biologi akan menjadi racun yang mematikan, dan lain sebagainya. Hanya saja problem yang tetap ada adalah bagaimana menyampaikan unsur aksiologi dari setiap ilmu yang efektif?. Bukankah dalam semua pendidikan agama diajarkan hal yang benar/salah, halal/haram, legal/illegal namun perilaku menyimpang selalu ada?.
Memang out put pendidikan selama ini banyak yang menjadi shizofrenia dimana mereka sadar akan hukum dan tata nilai namun tetap melanggar. Ini menunjukkan pendidikan belum mampu membangun jiwa out putnya secara maksimal, katakanlah caracter building. Namun kita juga sepakat bahwa bangunan jiwa tidak saja dipengaruhi oleh proses pendidikan tetapi juga lingkungan, keluarga, dan rizki yang dimakan".Dari uraian tersebut pendidikan sekarang ini belum memenuhi standar pendidikan yang ada. Pendidikan seharusnya tidak hanya menciptakan manusia yang berkualitas diluar tapi juga berkualitas didalam. Dalam hal ini tidak hanya dari faktor pendidikan tapi juga faktor lingkungan sekitar yang dapat menciptakan manusia yang berkualitas luar dan dalam. Kita sebagai calon pendidik harus bisa mengajarkan sistem pendidikan yang baik untuk membentuk manusia yang berkualitas.Trimakasihh.

eka mengatakan...

pendidikan menjadi alat kekuasaan negara

Persoalan pendidikan nasional begitu banyak dan kompleks,permasalahan mendasar pendidikan perlu dikenali dan diselesaikan sebelum penambahan anggaran hingga 20% untuk pendidikan dilaksanakan.Dunia pendidikan seharusnya menjadi tempat persemaian bagi pertumbuhan kesadaran ini. institusi pendidikan mestinya menjadi ruang bagi calon agen perubahan untuk menumbuhkan tanggung jawab,kemandirian berpikir dan bersikap,inovasi dan kreatifitas situasi ini tidak akan pernah tercapai selama pendidikan masih menjadi alat kekuasaan negara.Saat pemerintah tidak mampu menyediakan pendidikan bermutui secara gratis kepada tiap warga,dan masyarakat mengambil alih peran pemerintah dalam pengelolaan sekolah secara swadana atau saat ini lebih keren disebut sekolah alternatif,kekuasaan dan wewenang yang diberikan masyarakat belum seimbang.ketidak seimbangan antara kekuasaan dan kewajiban ini disorot masyarakat dan perlu mendapat perhatian serius jika pemerintah masih beritikad baik untuk memperbaiki kinerja dan meraih kepercayaan publik.Praktik-praktik pendidikan seharusnya membebaskan dan memperdayakan anak-anak bangsa untuk menerima dan melaksanakan tanggung jawab dalam pembentukan dan pengembangan masyarakat yang demokratis.Janji untuk meningkatkan anggaran belanja negara hingga 20%untuk pendidikanm sebenarnya kebijakan yang amat bagus untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.Tanpa komitmen yang jelas untuk mengenali,mengurangi,dan menyelesaikan berbagai permasalahan mendasar dalam sistem pendidikan nasional,peningkatan anggaran pendidikan justru menyebabkan pemborosan uang negara saja karena untuk membiayai berbagai penyimpangan dan kesalahan dalam praktik-praktik pendidikan di Indonesia.

Marina mengatakan...

Pendapat saya mengenai penting atau tidaknya ujian nasional di Indonesia sekarang ini, menurut saya ujian nasional memang penting untuk dilaksanakan untuk menguji kemampuan siswa selama pembelajaran, tetapi bukan merupakan salah satunya penentu kelulusan siswa. Setiap sekolah mempunyai fasilitas, sarana, dan prasarana yang berbeda-beda serta buku pembelajaran yang tidak sama sehingga soal ujian tidak bisa disamakan begitu saja. Sekolah yang berada di daerah perkotaan dengan yang di daerah pun berbeda. Selain itu tidak semua siswa bisa menguasai semua mata pelajaran yang diujikan. Misalnya ada siswa yang lemah dalam matematika tetapi dia mempunyai bakat lain, musik misalnya. Ujian nasional sekarang hanya ditentukan dalam tiga hari, tidak sepadan dengan lamanya siswa mengikuti pembelajaran yaitu selama tiga tahun.

fida mengatakan...

Sungguh berat hidup yang harus dijalani anak-anak Indonesia saat ini. Berbagai macam krisis telah memberikan dampak cukup berarti bagi mereka. Selain kemiskinan, mereka harus bertempur melawan geliat kebodohan serta gempuran globalisasi yang terus saja merongrong jiwa para tunas bangsa ini.
Dari tahun ke tahun, kondisi pendidikan di negeri ini tidak mengalami perubahan berarti. Tetap saja pendidikan merupakan suatu barang mewah bagi sebagian besar masyarakat Indonesia sehingga tak jarang hanya menjadi impian bagi masyarakat ekonomi sulit alias miskin. Selama ini pendidikan selalu dijadikan sebagai komoditas politik oleh para politikus untuk menggapai kekuasaan. Berbagai macam janji untuk memberikan pendidikan gratis keluar dari mulut mereka, demi mendapatkan simpati dari rakyat. Namun dari sekian banyak pemimpin, tak seorang pun yang bisa mematahkan sistem pendidikan warisan bangsa kolonial ini. Pendidikan di Indonesia tak ubah hanya seperti cerita dongeng yang begitu sempurna sebagai pengantar tidur namun bersifat sangat fiktif.Banyak sekali anak negeri yang tidak bisa melanjutkan pendidikan dasar disebabkan biaya yang semakin mahal. Setiap tahun para orang tua mengeluh karena beratnya biaya masuk sekolah dasar. Inilah negeri kita. Negeri yang menganut sistem pendidikan kolonial, tempat rakyat jelata selalu menemui kesulitan ketika berhadapan dengan masalah pendidikan. Sistem ini mengatur sedemikian rupa agar masyarakat kesulitan untuk mendapatkan pendidikan yang layak, hal yang sama persis terjadi pada masa penjajahan dahulu. Hanya golongan tertentu yang memiliki uang atau kuasalah yang dapat merasakan empuknya bangku pendidikan sehingga mereka akan dengan mudah membodohi dan menjarah kekayaan saudara sendiri. Inti sistem pendidikan ini adalah membudayakan kebodohan. Situasi seperti ini tidak lepas dari peran pemerintah Indonesia,yang memang menginginkan situasi seperti ini. Jika kondisi sudah menjadi seperti ini, mereka akan lebih mudah untuk dijinakkan dengan berbagai macam birokrasi serta aturan rumit yang terkadang tidak masuk akal. Masyarakat miskin tidak akan dapat berbuat apa-apa. Mereka selalu dihadapkan pada pilihan yang sulit sehingga masalah pendidikan tidak akan menjadi prioritas untuk dapat melanjutkan kehidupan yang lebih baik. Setiap hari mereka hanyalah berpikir bagaimana caranya untuk melanjutkan hidup esok hari. Jadi, mungkin yang ada di dalam pikiran mereka selama ini adalah jangankan biaya untuk sekolah, untuk bertahan hidup saja sudah setengah mati dibuatnya.
Akibat biaya pendidikan yang mahal, banyak masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan tidak mampu membiayai pendidikan anaknya. ''Padahal pemerintah ingin menuntaskan wajib belajar atau wajar sembilan tahun. Jika masalah ini tidak mendapat perhatian maka program wajar tersebut tidak akan terealisasi. Banyak anak putus sekolah karena orangtuanya tidak mampu membiayai sekolah mereka.''

Rinda mengatakan...

Menurut saya pendidikan di Indonesia kurang begitu maksimal dibandingkan dengan pendidikan di negara lain. Hal ini terjadi karena salah satu alasanyya adalah pelajaran yang diterapkan di Indonesia begitu banyak sehingga peserta didik merasa keberatan dengan pelajaran yang diberikan oleh tiap - tiap sekolah. Selain itu juga faktor lain adalah sering berganti - ganti sistem yang digunakan di dalam pembelajaran. Bertambahnya mata pelajaran dan standar kelulusan waktu ujian nasional juga membuat peserta didik menjadi pusing dengan hal tersebut. Sebenarnya hal tersebut juga baik, karena dengan begitu maka pendidikan di Indonesia tidak begitu ketinggalan dengan negara lain. Kurikulum yang cocok digunakan di Indonesia adalah kurikulum berbasis kompetensi. Mungkin dengan adanya kenaikan standar nilai maka hal tersebut akan memacu peserta didik untuk belajar dengan giat dan bersungguh - sungguh. Selain materi dari guru, sarana dan prasarana juga akan membantu siswa dalam belajar. Bagaimana cara guru untuk menyampaikan materi supaya peserta didik bisa mengerti dengan materi yang diberikan. Semoga pendidikan di Indonesia bisa mengikuti seperti pendidikan di negara lain.

stevanus mengatakan...

saat ini anak-anak kelas 3SMA ,dan 3SMP banyak yang depresi karena sebentar lagi mereka akan menghadapi ujian nasional,yang standar kelulusannya dari tahun ketahun semakin naik.Seharusnya pemerintah tidak mengambil kebijakan yang seperti itu yang sangat memberatkan peserta didik.Ujian nasional bukan semata-mata untuk mengukur kemampuan siswa,tetapi untuk mengukur kemampuan kinerja sekolah tersebut.Tetapi mengapa siswa yang menjadi korban atas kebijakan pemerintah yang seperti itu.Menurut saya kelulusan tidak harus ditentukan oleh pemerintah,lebih cocok ditentukan oleh guru atau sekolahan yang brsangkutan,karena guru yang lebih tau kemampuan anak didiknya,dan sangat tidak etis kalau kelulusan ditentukan dalam waktu tiga hari saja.seharusnya pemerintah memikirkan nasib-nasib anak bangsa yang menjadi media praktik-praktik sistem pendidikan diindonesia.jadi harapan saya diwaktu yang akan datang,pemerintah lebih memperbaiki kinerja dalam menangani masalah pendidikan diindonesia.

heri mengatakan...

PENDIDIKAN DI INDONESIA

Pendidikan merupakan sarana yang baik untuk memupuk generasi-generasi muda di Indonesia supaya menjadi anak-anak yang mampu menjadi pemimpin yang bisa mengubah kedaan sekarang ini.Pendidikan juga sangat dibutuhkan untuk menamengi diri agar dapat menjadi seorang yang berwatak dan punya budi pekerti yang luhur.Namun kita lihat sekarang ini pendikan di Indonesia tidak dapat mengatasi moral-moral pelajar di Indonesia,kita sudah banyak melihat siswa siswi bahkan mahasiswa melakukan kegiatan-kegiatan anarkis ada yang terlibat pergaulan-pergaulan bebas,tawuran dan lain-lain.Kalau kita lihat dimanakah peran pendidikan bagi generasi muda sekarang ini??apakah semua ini akibat dari kesalahan para pendidik dalam mengajar,semua itu tak lepas dari control diri dari generasi muda sekarang ini.Akankah pendidikan hanyalah sebuah tameng untuk merebutkan gelar semata??dan apakah pantun “Semakin berisi semakin merunduk”sekarang sudah diganti dengan “Semakin berisi semakin melunjak”,hal semacam itu perlu kita renungkan,bagaimana nasib generasi muda berikutnya kalau misalnya calon gurunya saja ikut bentrok dan sebagainya.Pemerintah juga tidak bisa memberi sangsi tegas untuk memutuskan masalah tersebut mungkin baik cara pemerintah untuk memajukan pendidikan di Indonesia dengan menaikan standar nilai UAN dan dapat kita lihat di pembukaan UUD 45 “ikut mencerdaskan kehidupan bangsa” tapi semua itu tidak bisa menjamin mutu pendidikan di Indonesia,itu hanya bisa menambah resah dan beban untuk pendidikan seharusnya pemerintah memikirkan bagaimana ilmu yang diajarkan dapat terserap atau tersalurkan kepada para pelajar itu yang harus dipikirkan.sekarang sudah banyak kita temukan sekolah-sekolah alternatif yang metodenya berbeda dengan sekolah-sekolah negeri maupun swasta mereka menimba ilmu sesuai dengan apa yang diminatinya atau disukainya sehingga pelajar bisa merasa bebas dan lebih mendalami ilmu yang mereka pelajari,sehingga mereka dapat berkaya dan berkreasi dengan apa yang mereka tekuni.kita lihat pendidikan di Indonesia menempati urutan keberapa dunia,dan yang perlu kita renungkan adalah pendidikan kita di Indonesia masih jauh dibawah malaysia padahal dulunya mereka mengekspor tenaga pendidik dari Indonesia,tapi sekarang malah mutu pendidikan di Indonesia kalah jauh dari mutu pendidikan di Malaysia perlu kita ketahui sebab-sebab dari fenomene ini,memang dengan dinaikanya standar UN menambah mutu pendidikan tapi apakah semua pelajar mampu mencerna pelajaran dengan rasa terpaksa karena harus melampoi batas tuntas UN,kalau begitu bisa juga diibaratkan “yang pandai makin pandai yang bodoh makin bodoh” pemerintah hanya bisa menuliskan pasal-pasal tentang pendidikan tanpa tahu dan melihat bagaimana sebenarnya tingkat kecerdasan para pelajar Indonesia,pendidikan hanyalah dijadikan sebagai suatu alat untuk mendapatkan ijazah yang sebenarnya isi dari ijazah tersebut adalah kosong tanpa tahu apa sajakah yang mereka peroleh selama jadi pelajar,sungguh kritis pendidikan di Indonesia tidaklah seimbang apa yang mereka cari sebenarnya apakah ijazah atau sebuah ilmu.sekarang kita lihat bagaimana pendidikan diperkotaan dan pedalaman,sudahlah pasti mutu dan kualitas masih tinggi pendidikan diperkotaan hal ini akibat sarana dan prasarana yang tidaklah seimbang,padahal andai saja sarana dan prasarana pelajar dipedalaman memadai atau seimbang tidak menutup kemungkinan kalau potensi mereka jauh lebih baik dari pada pelajar perkotaan.fenomena yang lain adalah biaya pendidikan di Indonesia yang mahal sehingga tidak terjangkau oleh para keluarga menengah kebawah,mereka harus rela mencari uang dijalan-jalan dengan menahan rasa panas haus dan lapar agar bisa makan,sedangkan teman seumuran mereka sedang mencari ilmu tentang dunia,yang ada dalam pikiran mereka adalah bagaimana saya besok apakah saya dapat makan,hal semacam itu yang seharusnya pemerintah mulai pikirkan jalan keluarnya bagaimana mereka bisa merasakan bersekolah seperti teman-teman sebayanya.pendidikan merupakan hal yang teramat penting bagi generasi muda karena dapat mencegah dan melindungi dari ajakan-ajakan yang tidak baik.semoga kita sebagai generasi muda dapat menjadi seorang pemimpin yang bisa memajukan pendidikan dan dapat menjadi seorang pemimpin yang jujur.amien

suyono mengatakan...

PENDIDIKAN DIINDONESIA

Pemuda merupakan sarana yang baik untuk membangun pemuda-pemuda dan anak-anak diIndonesia supaya dapat menjadi pemimpin yang bisa mengubah kondisi pendidikan di Indonesia dari yang kurang baik menjadi lebih baik. Pendidikan di Indonesia sangat di butuhakan untuk membentengi diri seseorang punya budi pekerti yang luhur. Namun sekarang ini pendidikan di Indonesia, kita banyak melihat siswa-siswi bahkan mahasiswa yang melakukan kegiatan anarkis ada yang terlibat minum-minuman keras, pergaulan bebas, dan perkelahian dan lain-lain. Kita lihat bagaimanakah peran pendidikan di Indonesia sekarang ini? Semua itu kesalahan dari pendidik atau kesalahan siswanya, semua tak lepas dari control diri masing-masing generasi muda sekarang, kita harus bisa menuangkan bagaimana nasib generasi muda selanjutnya kalau mosalnya, calon guru saja ikut bentrok. Pemerintah juga tidak bisa memberi sanksi tegas untuk memutuskan masalah tersebut mungkin baik pemerintah untuk memajukan mutu pendidikan di Indonesia dengan cara menaikkan standar UAN. Cara itu di gunakan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa tapi tidak bisa menjamin mutu pendidikan di Indonesia yang sekarang ini, itu menambah siswa-siswi resah dan beban untuk pendidikan pemerintah harus bisa memikirkan bagaimana ilmu yang di ajarkan oleh pelajar terserap oleh pikiran atau tidak, yang harus di pikirakan bangsa Indonesia adalah bagaimana memajukan pendidikan di Indonesia supaya bisa pendidikan di Indonesia maju dan tidak tertinggal dengan Negara lain. Maka dari itu pemerintah perlu membangun sekolah-sekolaah alternatif yang metodenya berbeda dengan sekolah-sekolah lainnya, ilmu yang di minatinya / di sukainya sehingga pelajaran mudah di pahami siswa agar mereka dengan mudah dan cepat dalam berkarya, berkreasi apa yang mereka temukan. Kita lihat sekarang ini pendidikan di Indonesia menempati urutan yang paling rendah di banding densan Negara Malaysia padahal sudah bisa mengekspor guru-guru dari Indonesia tapi mengapa guru-guru dari Indonesia, tapi mengapa mutu pendidikan kita jauh lebih di bawah Malaysia yang sekarang ini, hal semacam itu harus di cari penyebabnya.

frisca mengatakan...

Masalah pendidikan di Indonesia saat ini
Masalah yang dihadapi pendidikan di Indonesia sangat kompleks dan beragam. Banyak hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan di dunia pendidikan kita. Salah satu yang sangat mendesak dan membutuhkan perhatian adalah kualitas tenaga pendidik/guru yang ada saat ini.
Pemerintah sangat mendukung usaha untuk meningkatkan kualitas serta profesionalisme tenaga guru yang ada saat ini. Terbukti dengan program sertifikasi yang telah digulirkan belakangan ini. Program sertifikasi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Tentu saja bukan hanya kualitasnya yang ditingkatkan, tetapi pemerintah juga meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik dalam program sertifikasi ini.

Mengenai anggaran dana dari negara untuk pendidikan, bahwa tidak mudah untuk menganggarkan dana yang cukup untuk bidang pendidikan karena banyak juga bidang lain yang membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Selain itu juga ada banyak penyebab mengapa mutu pendidikan di Indonesia, baik pendidikan formal maupun informal, dinilai rendah. Penyebab rendahnya mutu pendidikan yang akan kami paparkan kali ini adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran.
1. EFEKTIFITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA

Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.

Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelum kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita.
Setiap orang mempunya kelebihan di bidangnya masing-masing dan diharapkan dapat mengambil pendidikaan sesuai bakat dan minatnya bukan hanya untuk dianggap hebat oleh orang lain.
2. EFISIENSI PENGAJARAN DI INDONESIA

Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaimana dapat meraih standar hasil yang telah disepakati.Beberapa masalah efisiensi pengajaran di dindonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia.
Sistem pendidikan yang baik juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pendidikan di Indonesia. Sangat disayangkan juga sistem pendidikan kita berubah-ubah sehingga membingungkan pendidik dan peserta didik.

Dalam beberapa tahun, kita menggunakan sistem pendidikan kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum berbasis kompetensi yang pengubah proses pengajaran menjadi proses pendidikan aktif, hingga kurikulum baru lainnya. Ketika mengganti kurikulum, kita juga mengganti cara pendidikan pengajar, dan pengajar harus diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga menambah cost biaya pendidikan. Sehingga amat disayangkan jika terlalu sering mengganti kurikulum yang dianggap kuaran efektif lalu langsung menggantinya dengan kurikulum yang dinilai lebih efektif.
3. STANDARDISASI PENDIDIKAN DI INDONESIA

Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, kita juga berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Tentunya setelah melewati proses untuk menentukan standar yang akan diambil.
Tinjauan terhadap sandardisasi dan kompetensi untuk meningkatkan mutu pendidikan akhirnya membawa saya dalam pengungkapan adanya bahaya yang tersembunyi yaitu kemungkinan adanya pendidikan yang terkekung oleh standar kompetensi saja sehngga kehilangan makna dan tujuan pendidikan tersebut.

Peserta didik Indonesia terkadang hanya memikirkan bagaiman agar mencapai standar pendidikan saja, bukan bagaimana agar pendidikan yang diambil efektif dan dapat digunakan. Tidak perduli bagaimana cara agar memperoleh hasil atau lebih spesifiknya nilai yang diperoleh, yang terpentinga adalah memenuhi nilai di atas standar saja.

Hal seperti di atas sangat disayangkan karena berarti pendidikan seperti kehilangan makna saja karena terlalu menuntun standar kompetensi. Hal itu jelas salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.

Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidak hanya sebatas yang saya bahas di atas. Banyak hal yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan kita. Tentunya hal seperti itu dapat kita temukan jika kita menggali lebih dalam akar permasalahannya. Dan semoga jika kita mengetehui akar permasalahannya, kita dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia sehingga jadi kebih baik lagi.

iva_zweeT mengatakan...

Masalah pendidikan di Indonesia Dan munculnya Sekolah Alternatif di indonesia
Menurut saya Kualitas pendidikan di Indonesia sangat memprihatin.ini di sebabkan oleh beberapa masalah.Masalah-masalah yang dimaksud di sini, adalah segala masalah selain masalah paradigma pendidikan, yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan. Masalah-masalah ini tentu banyak sekali macamnya, di antaranya yang terpenting adalah sebagai berikut :Rendahnya Kualitas Sarana Fisik.Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium yang tidak memenuhi standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Kemampuan guru dalam mengajar sangat kurang.Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar.meskipun guru telah memiliki sertifikasi tapi belum tentu mereka memiliki kemampuan mengajar yang professional. Kesejahteraan Guru yang kurang memadaiRendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp 300 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan.selanjutnya SDM yang rendah.Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah.Biaya pendidikan yang sangat mahal.Pendidikan bermutu itu mahal.mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk bangku pendidikan.Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah.Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha.
(Munculnya sekolah alternative)
Nah dapat kita lihat dari biaya pendidikan yang sangat mahal inilah yang menyebabkan munculnya sekolah-sekolah alternatif.sekolah alternatif ini biasa di sebut sebagai sekolah alternative bagi kaum miskin.Sejumlah model sekolah pun mereka kembangkan untuk pendidikan kaum miskin. Di antaranya, model sekolah alternatif di Salatiga, sekolah gratis Alfa Centauri di Bandung, dan model sekolah di wilayah-wilayah konflik. Berikut ini akan diulas sejumlah sekolah yang bisa dikatakan cukup berhasil mengakomodasi hak-hak orang miskin untuk mendapatkan pengajaran.tapi menurut saya sekolah alternative tidak tepat untuk di laksanakan di Negara kita.ini dapat kita amati bahwa sekolah alternative hanyalah iming-iming bagi masyarakat miskin.Seharusnya pemerintah tidak menijinkan adnya pelaksanaan sekolah alternative dan eharusnya di beri himbauan tentang munculnya sekolah-sekolah alternative ini.

iva_zweeT mengatakan...

(Masalah pendidikan di Indonesia Dan munculnya Sekolah Alternatif di indonesia)
Menurut saya Kualitas pendidikan di Indonesia sangat memprihatin.ini di sebabkan oleh beberapa masalah.Masalah-masalah yang dimaksud di sini, adalah segala masalah selain masalah paradigma pendidikan, yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan. Masalah-masalah ini tentu banyak sekali macamnya, di antaranya yang terpenting adalah sebagai berikut :Rendahnya Kualitas Sarana FisikUntuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium yang tidak memenuhi standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Kemampuan guru dalam mengajar sangat kurang.Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar.meskipun guru telah memiliki sertifikasi tapi belum tentu mereka memiliki kemampuan mengajar yang professional. Kesejahteraan Guru yang kurang memadaiRendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia.Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp, 300 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampinganSDM yang rendahDengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah.Biaya pendidikan yang sangat mahal Pendidikan bermutu itu mahal.mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk mengenyam bangku pendidikan. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah.Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha.
(Munculnya sekolah alternative)
Nah dapat kita lihat dari biaya pendidikan yang sangat mahal inilah yang menyebabkan munculnya sekolah-sekolah alternatif.sekolah alternatif ini biasa di sebut sebagai sekolah alternative bagi kaum miskin.Sejumlah model sekolah pun mereka kembangkan untuk pendidikan kaum miskin. Di antaranya, model sekolah alternatif di Salatiga, sekolah gratis Alfa Centauri di Bandung, dan model sekolah di wilayah-wilayah konflik. Berikut ini akan diulas sejumlah sekolah yang bisa dikatakan cukup berhasil mengakomodasi hak-hak orang miskin untuk mendapatkan pengajaran.tapi menurut saya sekolah alternative tidak tepat untuk di laksanakan di Negara kita.ini dapat kita amati bahwa sekolah alternative hanyalah iming-iming bagi masyarakat miskin.Seharusnya pemerintah tidak menijinkan adnya pelaksanaan sekolah alternative dan eharusnya di beri himbauan tentang munculnya sekolah-sekolah alternative ini

iva_zweeT mengatakan...

Masalah pendidikan di Indonesia Dan munculnya Sekolah Alternatif di indonesia
Menurut saya Kualitas pendidikan di Indonesia sangat memprihatin.ini di sebabkan oleh beberapa masalah.Masalah-masalah yang dimaksud di sini, adalah segala masalah selain masalah paradigma pendidikan, yang berkaitan dengan penyelenggaraan pendidikan. Masalah-masalah ini tentu banyak sekali macamnya, di antaranya yang terpenting adalah sebagai berikut :Rendahnya Kualitas Sarana Fisik.Untuk sarana fisik misalnya, banyak sekali sekolah dan perguruan tinggi kita yang gedungnya rusak, kepemilikan dan penggunaan media belajar rendah, buku perpustakaan tidak lengkap. Sementara laboratorium yang tidak memenuhi standar, pemakaian teknologi informasi tidak memadai dan sebagainya. Kemampuan guru dalam mengajar sangat kurang.Keadaan guru di Indonesia juga amat memprihatinkan. Kebanyakan guru belum memiliki profesionalisme yang memadai untuk menjalankan tugasnya yaitu merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan, melakukan pelatihan, melakukan penelitian dan melakukan pengabdian masyarakat.Bukan itu saja, sebagian guru di Indonesia bahkan dinyatakan tidak layak mengajar.meskipun guru telah memiliki sertifikasi tapi belum tentu mereka memiliki kemampuan mengajar yang professional. Kesejahteraan Guru yang kurang memadaiRendahnya kesejahteraan guru mempunyai peran dalam membuat rendahnya kualitas pendidikan Indonesia Sekarang, pendapatan rata-rata guru PNS per bulan sebesar Rp 1,5 juta. guru bantu Rp 300 ribu, dan guru honorer di sekolah swasta rata-rata Rp 10 ribu per jam. Dengan pendapatan seperti itu, terang saja, banyak guru terpaksa melakukan pekerjaan sampingan.selanjutnya SDM yang rendah.Dengan keadaan yang demikian itu (rendahnya sarana fisik, kualitas guru, dan kesejahteraan guru) pencapaian prestasi siswa pun menjadi tidak memuaskan. Sebagai misal pencapaian prestasi fisika dan matematika siswa Indonesia di dunia internasional sangat rendah.Biaya pendidikan yang sangat mahal.Pendidikan bermutu itu mahal.mahalnya biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk bangku pendidikan.Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak memiliki pilihan lain kecuali tidak bersekolah.Makin mahalnya biaya pendidikan sekarang ini tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menerapkan MBS (Manajemen Berbasis Sekolah). MBS di Indonesia pada realitanya lebih dimaknai sebagai upaya untuk melakukan mobilisasi dana. Karena itu, Komite Sekolah/Dewan Pendidikan yang merupakan organ MBS selalu disyaratkan adanya unsur pengusaha.
(Munculnya sekolah alternative)
Nah dapat kita lihat dari biaya pendidikan yang sangat mahal inilah yang menyebabkan munculnya sekolah-sekolah alternatif.sekolah alternatif ini biasa di sebut sebagai sekolah alternative bagi kaum miskin.Sejumlah model sekolah pun mereka kembangkan untuk pendidikan kaum miskin. Di antaranya, model sekolah alternatif di Salatiga, sekolah gratis Alfa Centauri di Bandung, dan model sekolah di wilayah-wilayah konflik. Berikut ini akan diulas sejumlah sekolah yang bisa dikatakan cukup berhasil mengakomodasi hak-hak orang miskin untuk mendapatkan pengajaran.tapi menurut saya sekolah alternative tidak tepat untuk di laksanakan di Negara kita.ini dapat kita amati bahwa sekolah alternative hanyalah iming-iming bagi masyarakat miskin.Seharusnya pemerintah tidak menijinkan adnya pelaksanaan sekolah alternative dan eharusnya di beri himbauan tentang munculnya sekolah-sekolah alternative ini.

ary koes asih mengatakan...

Saya menyoroti mengenai sistem pendidikan diindonesia,memang membingungkan sistem pendidikan di Indonesia.terbentur dengan apa yang di sebut koordinasi dan birokrasi, suatu yang kita anggap masuk akal ternyata tidak bagi pelaksana dari aturan pendidikan tersebut. sistem pendidikan di Indonesia menurut saya masih dalam proses belajar cenderung merugikan tenaga pengajar dan pelajarnya.Contoh buku-buku pelajaran tingkat SD-SMA yg tiap tahun berubah isinya,. Misal yang tahun ini menjadi pelajaran kelas 1 smp tahun depan jadi pelajaran kels 6 SD dan tahun berikutnya berubah kembali. itu cuma contoh kecil dari koordinasi pendidikan tingkat dasar di Indonesia .Untuk tingkat perguruan tinggi, bukan hanya dari sistem nya tetapi juga dari dosennya. contoh dosen yg gak mau tahu dengan mahasiswa nya yang berkerja. tapi ada juga dosen yg baik karena ada maunya, tetapi ada juga dosen yang memang bener - bener baik ingin memberikan ilmu yang di milikinya dengan iklas kepada mahasiswanya.

Selanjutnya mengenai kualitas pendidikan diindonesia.Seperti yang telah kita ketahui, kualitas pendidikan di Indonesia semakin memburuk. Hal ini terbukti dari kualitas guru, sarana belajar,dan murit-muritnya.Sekarang ini, pendidikan yang ada di Indonesia serba membuat bingung para peserta didik. bayangkan saja seiring bergantinya menteri berganti pula kurikulum yang ada, memang sebenarnya hal tersebut baik. tapi pada kenyataannya malah membuat bingung baik peserta didik maupun pendidik. Bayangkan saja dari kurikulum 1994, KBK (kurikulum berbasis kompetensi) dan sekarang ini berganti KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan). Pada dasarnya semua kurikulum tersebut bagus untuk diterapkan tetapi karena kurangnya persiapan dari segi sosialisasi guru dan murid. Memang dalam realita yang ada hanya sekolah-sekolah yang favorit dan sudah berstandar nasional saja yang siap dengan setiap perubahan kurikulum yang cenderung ganti menteri ganti juga kurikulumnya. Terus gimana nasib sekolah-sekolah yang notebenennya masih jauh dari sarana dan prasarana yang memadai.dan sekarang ditambah muncul berbagai sekilah-sekolah alternatif.yang membuat semakin bingung menentukan mana yang berkualitas diantara sekolah alternatif dangan sakolah formal.

Selanjutnya mangenai nmasalah pandidikan diindonesia,Kurang optimalnya pelaksanaan sistem pendidikan (yg sebenarnya sudah cukup baik) di Indonesia yang disebabkan sulitnya menyediakan guru-guru berkompetensi untuk mengajar di daerah-daerah.Sebenarnya kurikulum Indonesia tidak kalah dari kurikulum di negara maju, tetapi pelaksanaannya yang masih jauh dari optimal. Kurang sadarnya masyarakat mengenai betapa pentingnya pendidik dalam membentuk generasi mendatang sehingga profesi ini tidak begitu dihargai.Sistem pendidikan yang sering berganti-ganti, bukanlah masalah utama, yang menjadi masalah utama adalah pelaksanaan di lapangan, kurang optimal. Terbatasnya fasilitas untuk pembelajaran baik bagi pengajar dan yang belajar. Hal ini terkait terbatasnya dana pendidikan yang disediakan pemerintah. Adanya biaya pendidikan yang mahal, menyulitkan sebagian masyarakat Indonesia yang kurang mampu. Hal ini dapat mengakibatkan banyaknya anak-anak Indonesia yang terancam putus sekolah. Oleh karena itu, sangat lah di perlukan peningkatan dana pendidikan di Indonesia agar dapat membantu masyarakat Indonesia yang kurang mampu melalui program beasiswa, orang tua asuh, dan dapat juga dengan pembebasan biaya pendidikan.

ary koes asih mengatakan...

Saya menyoroti mengenai sistem pendidikan diindonesia,memang membingungkan sistem pendidikan di Indonesia.terbentur dengan apa yang di sebut koordinasi dan birokrasi, suatu yang kita anggap masuk akal ternyata tidak bagi pelaksana dari aturan pendidikan tersebut. sistem pendidikan di Indonesia menurut saya masih dalam proses belajar cenderung merugikan tenaga pengajar dan pelajarnya.Contoh buku-buku pelajaran tingkat SD-SMA yg tiap tahun berubah isinya,. Misal yang tahun ini menjadi pelajaran kelas 1 smp tahun depan jadi pelajaran kels 6 SD dan tahun berikutnya berubah kembali. itu cuma contoh kecil dari koordinasi pendidikan tingkat dasar di Indonesia .Untuk tingkat perguruan tinggi, bukan hanya dari sistem nya tetapi juga dari dosennya. contoh dosen yg gak mau tahu dengan mahasiswa nya yang berkerja. tapi ada juga dosen yg baik karena ada maunya, tetapi ada juga dosen yang memang bener - bener baik ingin memberikan ilmu yang di milikinya dengan iklas kepada mahasiswanya.

Selanjutnya mengenai kualitas pendidikan diindonesia.Seperti yang telah kita ketahui, kualitas pendidikan di Indonesia semakin memburuk. Hal ini terbukti dari kualitas guru, sarana belajar,dan murit-muritnya.Sekarang ini, pendidikan yang ada di Indonesia serba membuat bingung para peserta didik. bayangkan saja seiring bergantinya menteri berganti pula kurikulum yang ada, memang sebenarnya hal tersebut baik. tapi pada kenyataannya malah membuat bingung baik peserta didik maupun pendidik. Bayangkan saja dari kurikulum 1994, KBK (kurikulum berbasis kompetensi) dan sekarang ini berganti KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan). Pada dasarnya semua kurikulum tersebut bagus untuk diterapkan tetapi karena kurangnya persiapan dari segi sosialisasi guru dan murid. Memang dalam realita yang ada hanya sekolah-sekolah yang favorit dan sudah berstandar nasional saja yang siap dengan setiap perubahan kurikulum yang cenderung ganti menteri ganti juga kurikulumnya. Terus gimana nasib sekolah-sekolah yang notebenennya masih jauh dari sarana dan prasarana yang memadai.dan sekarang ditambah muncul berbagai sekilah-sekolah alternatif.yang membuat semakin bingung menentukan mana yang berkualitas diantara sekolah alternatif dangan sakolah formal.

Selanjutnya mangenai nmasalah pandidikan diindonesia,Kurang optimalnya pelaksanaan sistem pendidikan (yg sebenarnya sudah cukup baik) di Indonesia yang disebabkan sulitnya menyediakan guru-guru berkompetensi untuk mengajar di daerah-daerah.Sebenarnya kurikulum Indonesia tidak kalah dari kurikulum di negara maju, tetapi pelaksanaannya yang masih jauh dari optimal. Kurang sadarnya masyarakat mengenai betapa pentingnya pendidik dalam membentuk generasi mendatang sehingga profesi ini tidak begitu dihargai.Sistem pendidikan yang sering berganti-ganti, bukanlah masalah utama, yang menjadi masalah utama adalah pelaksanaan di lapangan, kurang optimal. Terbatasnya fasilitas untuk pembelajaran baik bagi pengajar dan yang belajar. Hal ini terkait terbatasnya dana pendidikan yang disediakan pemerintah. Adanya biaya pendidikan yang mahal, menyulitkan sebagian masyarakat Indonesia yang kurang mampu. Hal ini dapat mengakibatkan banyaknya anak-anak Indonesia yang terancam putus sekolah. Oleh karena itu, sangat lah di perlukan peningkatan dana pendidikan di Indonesia agar dapat membantu masyarakat Indonesia yang kurang mampu melalui program beasiswa, orang tua asuh, dan dapat juga dengan pembebasan biaya pendidikan.

frisca mengatakan...

MASALAH PENDIDIKAN DI INDONESIA SAAT INI

Permasalahan
Semakin besarnya tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini dan masa depan, dunia yang selalu mengalami perubahan-perubahan yang kian kompleks. Seperti yang sudah terjadi saat ini terkaget-kaget dalam meghadapi perubahan global khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu salah satu agenda terpenting yang harus diperhatikan bangsa Indonesia sekarang adalah membenahi dunia pendidikan. Jika ingin menjadi bangsa yang besar dan memimpin peradaban yang tidak hanya di Asia tetapi juga di dunia, maka pendidikan terbaik bagi generasi muda adalah kunci jawaban satu-satunya.
Pendidikan merupakan investasi kemanusiaan karena disanalah masa depan peradaban ini dipertaruhkan. Kini persoalan terbesar kita adalah bagaimana menyesuaikan serta merancang cara berpikir dalam dunia pendidikan menghadapi perubahan dunia
Pada dasarnya kita juga bergerak, tetapi seperti yang kita ketahui bersama betapa lambatnya kemajuan pendidikan di negara kita ini bahkan di beberapa hal kita justru mundur kebelakang. Tanpa adanya perubahan sistematik dan mendasar pada pendidikan di negara ini, kita akan semakin jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain.

Manajemen Sekolah
Masih banyaknya sekolah belum melaksanakan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah dengan benar. Sebagai dampak diterapkannya Ujian Nasional, banyak sekolah yang berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara akademik sehingga bahan pelajaran sudah dipecahkan dan siswa hanya tinggal menghafal saja, sehingga tidak diberi dorongan melakukan pencarian. Seringkali bahan pelajaran diajarkan secara terpisah dan tidak memiliki kaitan historis dengan kenyataan sosial yang dialami siswa. Dengan adanya Ujian Nasional juga mengakibatkan adanya dominasi peran guru yang tidak memberi hak pada siswa karena anak didik hanya dianggap layaknya bejana kosong yang harus ditumpahi informasi , pengetahuan dan ketrampilan siap pakai. Akibatnya Kegiatan belajar mengajar berjalan dalam kebekuan dan teknik hafalan tejadi di hampir semua pelajaran.


Kebijkan Pendidikan yang Adil Bagi Semua
Masalah lain yang dihadapi dunia pendidikan kita yang juga memiliki kaitan erat dengan sistem adalah kebijakan pemerintah yang banyak dianggap merugikan rakyat. Pentingnya pendidikan bagi masa depan bangsa belum menjadi pikiran utama para elite-elite politik pengambil kebijakan, tetapi hanya sebagai sarana perebutan proyek.Kurikulum pendidikan sering kali di ubah-ubah demi kepentingan politik dan proyek jual-beli buku antara penerbit dan siswa layaknya transaksi jual beli dipasar dengan alasan perbaikan mutu pendidikan.
Lebih parah lagi, Pendidikan dinegeri ini sudah dimasuki intervensi asing dimana liberalisasi pendidikan sebagai sesuatu hal yang tidak perlu ditutup-tutupi.
Liberalisasi (kapitalisasi) pendidikan tinggi merupakan sistem kapitalisme dalam dunia pendidikan tinggi, dengan modus utamanya integrasi pendidikan tinggi dengan pasar global.
Di satu sisi, hal positif yang dapat dirasakan adalah terciptanya pendidikan dengan kulaitas, efisiensi, dan profesionalisme yang bagus. Pihak penyelenggara pendidikan bisa bebas sesuai dengan kreativitasnya memajukan pendidikan yang dijalankan berdasarkan strategi yang telah dirancang.

Pendidikan Untuk Semua
Dampak terburuk dari Konsep BHMN adalah semakin mahalnya biaya pendidikan yang berakibat pada semakin banyaknya masyarakat yang tidak mampu membiayai pendidikan anak-anaknya. Masih banyaknya masyarakat tidakmampu menekolahkan anaknya karena faktorkemiskinan. Sebagai contoh orang miskin tidak mampu menyekolahkan anaknya di Fakultas kedokteran, meskipun anaknya mempunyai potensi.

Beasiswa kurang tepat sasaran
Program beasiswa yng diharapkan membantu masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang layak tidaklah tanpa kendala. Terkadang beasiswa diterima oleh orang-orang yang tidak berhak menerimanya atau tidak tepat sasaran. Disamping itu adanya penyelewengan dana pendidikan. Akibatnya harapan sebagian masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang layak hanyalah menjadi hisapan jempol belaka.

Sarana dan Prasarana
Tidak berhenti sampai disini, Carut-marut dunia pendidikan di negara kita ini semakin parah dengan tidak meratanya sarana dan prasarana pendidikan. Khususnya di daerah terpencil, suasana belajar dan mengajar sangat jauh dari kondusif karena banyak gedung sekolah yang sudah tidak layak pakai sehingga kegiatan belajar mengajar harus dilakukan dengan segala keterbatasan yang ada. Sistem pendidikan yang sering berganti-ganti, bukanlah masalah utama, yang menjadi masalah utama adalah pelaksanaan di lapangan, kurang optimal. Terbatasnya fasilitas untuk pembelajaran baik bagi pengajar dan yang belajar.

Kualitas dan Kuantitas pendidik
Dibeberapa daerah masih kekurangan guru, baik dari segi kualitasnya maupun jumlahnya, namun di daerah lain justru kelebihan guru. Hal ini kurangnya pemerataan di daerah.
Pendidikan di Indonesia tertinggal jauh karena kurang sadarnya masyarakat mengenai betapa pentingnya pendidik dalam membentuk generasi mendatang sehingga profesi ini tidak begitu dihargai dan dipandang sebelah mata.
Pola pengajaran Agama di indonesia hanya diorientasikan pada pendidikan akademis, padahal keberhasilan anak dalam hal ini tidak dapat diukur dari pencapaian nilai secara kuantitatif tetapi lebih kepada pembentukan akhlaq atau perilaku dan bukan sekedar teori-teori saja.

Kesadaran Masyarakat
Pentingnya pendidikan bagi masa depan bangsa belum menjadi kesadaran umum, tetapi hanya menjadi kesadaran pribadi-pribadi.
Masih rendahnya motivasi masyarakat untuk terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan. Banyak orang tua yang hanya membiayai pendidikan anaknya tapi kurang mengawasi perkembangan anaknya. Kita semua harus menyadari bahwa proses perubahan harus dari diri sendiri, dari hal yang paling kecil kemudian hal-hal yang lebih besar, lingkungan dan orang lain.

Minat Baca Rendah
Kesadaran masyarakat diatas mencakup berbagai hal yang berkaitan dengan suksesnya pendidikan di Indonesia, termasuk juga disini adalah kesadaran dalam hal membaca.
Rendahnya minat baca, baik siswa maupun masyarakat pada umumnya menyebabkan pengetahuan kita secara rata-rata jauh dibandingkan negara negara lain.

Kedisiplinan
kedisiplinan bangsa ini perlu diperbaiki melihat banyak masyarakat kita yang tidak mau menghargai waktu. Datang kuliah terlambat, suka bermalas-malasan dalam mengerjakan tugas, adalah contoh dari kurangnya disiplin masyarakat kita. Apalagi hal tersebut terbawa ketika para siswa ini sudah bekerja sehingga etos kerja bangsa ini secara umum rendah.

Gaya Hidup dan Teknologi
Semakin pesatnya tegnologi dan informasi justru menjadi masalah dalam dunia pendidikan di Indonesia karena masyarakat belum mampu mem-filter hal-ha yng masuk, termasuk gaya hidup hedonis. Para pelajar banyak yang suka meniru hal-hal yang negatif

Saran
Pemerintah menyediakan kebijakan yang adil bagi semua, berpihak pada kaum lemah, dan tidak menjadi agen penjajah dalam liberalisasi pendidikan. Oleh karena itu kita perlu duduk bersama antara pendidik dan orang tua serta pemerintah dalam rangka merumuskan bersama kebijakan pendidikan yang berorientasi keindonesiaan. Kebijakan yang manusiawi yang bisa membuat manusia Indonesia memiliki harapan ke depan dalam konteks global Selanjutnya, memberikan penyadaran kepada masyarakat bahwa masyarakat selain mempunyai hak, juga mempunyai kewajiban untuk terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan. Tentu saja pemerintah sendiri tidak akan dapat menjalankan sistem pendidikan ini tanpa dukungan dari seluruh komponen bangsa Indonesia, Saya rasa kita masih harus banyak bekerja dan belajar segiat mungkin untuk bisa terus mewujudkan cita-cita besar bangsa ini.
Hal yang tidak kalah penting adalah jangan membebani anak didik dengan kepadatan materi yang tidak banyak membuka ruang diskusi, perdebatan, polemik dan kebebasan berpendapat. Kepadatan materi hanya akan menyebabkan kegiatan belajar mengajar berjalan dalam kebekuan dan hanya mengandalkan teknik hafalan dengan mengabaikan keterampilan.

acep mengatakan...

MASALAH PENDIDIKAN DI INDONESIA SAAT INI

Permasalahan
Semakin besarnya tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini dan masa depan, dunia yang selalu mengalami perubahan-perubahan yang kian kompleks. Seperti yang sudah terjadi saat ini terkaget-kaget dalam meghadapi perubahan global khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh karena itu salah satu agenda terpenting yang harus diperhatikan bangsa Indonesia sekarang adalah membenahi dunia pendidikan. Jika ingin menjadi bangsa yang besar dan memimpin peradaban yang tidak hanya di Asia tetapi juga di dunia, maka pendidikan terbaik bagi generasi muda adalah kunci jawaban satu-satunya.
Pendidikan merupakan investasi kemanusiaan karena disanalah masa depan peradaban ini dipertaruhkan. Kini persoalan terbesar kita adalah bagaimana menyesuaikan serta merancang cara berpikir dalam dunia pendidikan menghadapi perubahan dunia
Pada dasarnya kita juga bergerak, tetapi seperti yang kita ketahui bersama betapa lambatnya kemajuan pendidikan di negara kita ini bahkan di beberapa hal kita justru mundur kebelakang. Tanpa adanya perubahan sistematik dan mendasar pada pendidikan di negara ini, kita akan semakin jauh tertinggal dibandingkan dengan negara-negara lain.

Manajemen Sekolah
Masih banyaknya sekolah belum melaksanakan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah dengan benar. Sebagai dampak diterapkannya Ujian Nasional, banyak sekolah yang berlomba-lomba untuk meningkatkan kualitas pendidikan secara akademik sehingga bahan pelajaran sudah dipecahkan dan siswa hanya tinggal menghafal saja, sehingga tidak diberi dorongan melakukan pencarian. Seringkali bahan pelajaran diajarkan secara terpisah dan tidak memiliki kaitan historis dengan kenyataan sosial yang dialami siswa. Dengan adanya Ujian Nasional juga mengakibatkan adanya dominasi peran guru yang tidak memberi hak pada siswa karena anak didik hanya dianggap layaknya bejana kosong yang harus ditumpahi informasi , pengetahuan dan ketrampilan siap pakai. Akibatnya Kegiatan belajar mengajar berjalan dalam kebekuan dan teknik hafalan tejadi di hampir semua pelajaran.


Kebijkan Pendidikan yang Adil Bagi Semua
Masalah lain yang dihadapi dunia pendidikan kita yang juga memiliki kaitan erat dengan sistem adalah kebijakan pemerintah yang banyak dianggap merugikan rakyat. Pentingnya pendidikan bagi masa depan bangsa belum menjadi pikiran utama para elite-elite politik pengambil kebijakan, tetapi hanya sebagai sarana perebutan proyek.Kurikulum pendidikan sering kali di ubah-ubah demi kepentingan politik dan proyek jual-beli buku antara penerbit dan siswa layaknya transaksi jual beli dipasar dengan alasan perbaikan mutu pendidikan.
Lebih parah lagi, Pendidikan dinegeri ini sudah dimasuki intervensi asing dimana liberalisasi pendidikan sebagai sesuatu hal yang tidak perlu ditutup-tutupi.
Liberalisasi (kapitalisasi) pendidikan tinggi merupakan sistem kapitalisme dalam dunia pendidikan tinggi, dengan modus utamanya integrasi pendidikan tinggi dengan pasar global.
Di satu sisi, hal positif yang dapat dirasakan adalah terciptanya pendidikan dengan kulaitas, efisiensi, dan profesionalisme yang bagus. Pihak penyelenggara pendidikan bisa bebas sesuai dengan kreativitasnya memajukan pendidikan yang dijalankan berdasarkan strategi yang telah dirancang.

Pendidikan Untuk Semua
Dampak terburuk dari Konsep BHMN adalah semakin mahalnya biaya pendidikan yang berakibat pada semakin banyaknya masyarakat yang tidak mampu membiayai pendidikan anak-anaknya. Masih banyaknya masyarakat tidakmampu menekolahkan anaknya karena faktorkemiskinan. Sebagai contoh orang miskin tidak mampu menyekolahkan anaknya di Fakultas kedokteran, meskipun anaknya mempunyai potensi.

Beasiswa kurang tepat sasaran
Program beasiswa yng diharapkan membantu masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang layak tidaklah tanpa kendala. Terkadang beasiswa diterima oleh orang-orang yang tidak berhak menerimanya atau tidak tepat sasaran. Disamping itu adanya penyelewengan dana pendidikan. Akibatnya harapan sebagian masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang layak hanyalah menjadi hisapan jempol belaka.

Sarana dan Prasarana
Tidak berhenti sampai disini, Carut-marut dunia pendidikan di negara kita ini semakin parah dengan tidak meratanya sarana dan prasarana pendidikan. Khususnya di daerah terpencil, suasana belajar dan mengajar sangat jauh dari kondusif karena banyak gedung sekolah yang sudah tidak layak pakai sehingga kegiatan belajar mengajar harus dilakukan dengan segala keterbatasan yang ada. Sistem pendidikan yang sering berganti-ganti, bukanlah masalah utama, yang menjadi masalah utama adalah pelaksanaan di lapangan, kurang optimal. Terbatasnya fasilitas untuk pembelajaran baik bagi pengajar dan yang belajar.

Kualitas dan Kuantitas pendidik
Dibeberapa daerah masih kekurangan guru, baik dari segi kualitasnya maupun jumlahnya, namun di daerah lain justru kelebihan guru. Hal ini kurangnya pemerataan di daerah.
Pendidikan di Indonesia tertinggal jauh karena kurang sadarnya masyarakat mengenai betapa pentingnya pendidik dalam membentuk generasi mendatang sehingga profesi ini tidak begitu dihargai dan dipandang sebelah mata.
Pola pengajaran Agama di indonesia hanya diorientasikan pada pendidikan akademis, padahal keberhasilan anak dalam hal ini tidak dapat diukur dari pencapaian nilai secara kuantitatif tetapi lebih kepada pembentukan akhlaq atau perilaku dan bukan sekedar teori-teori saja.

Kesadaran Masyarakat
Pentingnya pendidikan bagi masa depan bangsa belum menjadi kesadaran umum, tetapi hanya menjadi kesadaran pribadi-pribadi.
Masih rendahnya motivasi masyarakat untuk terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan. Banyak orang tua yang hanya membiayai pendidikan anaknya tapi kurang mengawasi perkembangan anaknya. Kita semua harus menyadari bahwa proses perubahan harus dari diri sendiri, dari hal yang paling kecil kemudian hal-hal yang lebih besar, lingkungan dan orang lain.

Minat Baca Rendah
Kesadaran masyarakat diatas mencakup berbagai hal yang berkaitan dengan suksesnya pendidikan di Indonesia, termasuk juga disini adalah kesadaran dalam hal membaca.
Rendahnya minat baca, baik siswa maupun masyarakat pada umumnya menyebabkan pengetahuan kita secara rata-rata jauh dibandingkan negara negara lain.

Kedisiplinan
kedisiplinan bangsa ini perlu diperbaiki melihat banyak masyarakat kita yang tidak mau menghargai waktu. Datang kuliah terlambat, suka bermalas-malasan dalam mengerjakan tugas, adalah contoh dari kurangnya disiplin masyarakat kita. Apalagi hal tersebut terbawa ketika para siswa ini sudah bekerja sehingga etos kerja bangsa ini secara umum rendah.

Gaya Hidup dan Teknologi
Semakin pesatnya tegnologi dan informasi justru menjadi masalah dalam dunia pendidikan di Indonesia karena masyarakat belum mampu mem-filter hal-ha yng masuk, termasuk gaya hidup hedonis. Para pelajar banyak yang suka meniru hal-hal yang negatif

Saran
Pemerintah menyediakan kebijakan yang adil bagi semua, berpihak pada kaum lemah, dan tidak menjadi agen penjajah dalam liberalisasi pendidikan. Oleh karena itu kita perlu duduk bersama antara pendidik dan orang tua serta pemerintah dalam rangka merumuskan bersama kebijakan pendidikan yang berorientasi keindonesiaan. Kebijakan yang manusiawi yang bisa membuat manusia Indonesia memiliki harapan ke depan dalam konteks global Selanjutnya, memberikan penyadaran kepada masyarakat bahwa masyarakat selain mempunyai hak, juga mempunyai kewajiban untuk terlibat dalam penyelenggaraan pendidikan. Tentu saja pemerintah sendiri tidak akan dapat menjalankan sistem pendidikan ini tanpa dukungan dari seluruh komponen bangsa Indonesia, Saya rasa kita masih harus banyak bekerja dan belajar segiat mungkin untuk bisa terus mewujudkan cita-cita besar bangsa ini.
Hal yang tidak kalah penting adalah jangan membebani anak didik dengan kepadatan materi yang tidak banyak membuka ruang diskusi, perdebatan, polemik dan kebebasan berpendapat. Kepadatan materi hanya akan menyebabkan kegiatan belajar mengajar berjalan dalam kebekuan dan hanya mengandalkan teknik hafalan dengan mengabaikan keterampilan.

frisca mengatakan...

MASALAH PENDIDIKAN DI INDONESIA

Masalah yang dihadapi pendidikan di Indonesia sangat kompleks dan beragam. Banyak hal yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan di dunia pendidikan kita. Salah satu yang sangat mendesak dan membutuhkan perhatian adalah kualitas tenaga pendidik/guru yang ada saat ini.
Pemerintah sangat mendukung usaha untuk meningkatkan kualitas serta profesionalisme tenaga guru yang ada saat ini. Terbukti dengan program sertifikasi yang telah digulirkan belakangan ini. Program sertifikasi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas tenaga pendidik. Tentu saja bukan hanya kualitasnya yang ditingkatkan, tetapi pemerintah juga meningkatkan kesejahteraan tenaga pendidik dalam program sertifikasi ini.
Mengenai anggaran dana dari negara untuk pendidikan, bahwa tidak mudah untuk menganggarkan dana yang cukup untuk bidang pendidikan karena banyak juga bidang lain yang membutuhkan dana yang tidak sedikit.
Selain itu nampak jelas bahwa masalah yang serius dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia adalah rendahnya mutu pendidikan di berbagai jenjang pendidikan, baik pendidikan formal maupun informal. Dan hal itulah yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan yang menghambat penyediaan sumber daya menusia yang mempunyai keahlian dan keterampilan untuk memenuhi pembangunan bangsa di berbagai bidang.
Ada banyak penyebab mengapa mutu pendidikan di Indonesia, baik pendidikan formal maupun informal, dinilai rendah. Penyebab rendahnya mutu pendidikan yang akan kami paparkan kali ini adalah masalah efektifitas, efisiensi dan standardisasi pengajaran.
1. EFEKTIFITAS PENDIDIKAN DI INDONESIA
Pendidikan yang efektif adalah suatu pendidikan yang memungkinkan peserta didik untuk dapat belajar dengan mudah, menyenangkan dan dapat tercapai tujuan sesuai dengan yang diharapkan. Dengan demikian, pendidik (dosen, guru, instruktur, dan trainer) dituntut untuk dapat meningkatkan keefektifan pembelajaran agar pembelajaran tersebut dapat berguna.
Efektifitas pendidikan di Indonesia sangat rendah. Setelah praktisi pendidikan melakukan penelitian dan survey ke lapangan, salah satu penyebabnya adalah tidak adanya tujuan pendidikan yang jelas sebelm kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Hal ini menyebabkan peserta didik dan pendidik tidak tahu “goal” apa yang akan dihasilkan sehingga tidak mempunyai gambaran yang jelas dalam proses pendidikan. Jelas hal ini merupakan masalah terpenting jika kita menginginkan efektifitas pengajaran. Bagaimana mungkin tujuan akan tercapai jika kita tidak tahu apa tujuan kita.
Selama ini, banyak pendapat beranggapan bahwa pendidikan formal dinilai hanya menjadi formalitas saja untuk membentuk sumber daya manusia Indonesia. Tidak perduli bagaimana hasil pembelajaran formal tersebut, yang terpenting adalah telah melaksanak pendidikan di jenjang yang tinggi dan dapat dinaggap hebat oleh masyarakat. Anggapan seperti itu jugalah yang menyebabkan efektifitas pengajaran di Indonesia sangat rendah. Setiap orang mempunya kelebihan di bidangnya masing-masing dan diharapkan dapat mengambil pendidikaan sesuai bakat dan minatnya bukan hanya untuk dianggap hebat oleh orang lain.
2. EFISIENSI PENGAJARAN DI INDONESIA
Efisien adalah bagaimana menghasilkan efektifitas dari suatu tujuan dengan proses yang lebih ‘murah’. Dalam proses pendidikan akan jauh lebih baik jika kita memperhitungkan untuk memperoleh hasil yang baik tanpa melupakan proses yang baik pula. Hal-hal itu jugalah yang kurang jika kita lihat pendidikan di Indonesia. Kita kurang mempertimbangkan prosesnya, hanya bagaiman dapat meraih stendar hasil yang telah disepakati.
Beberapa masalah efisiensi pengajaran di Indonesia adalah mahalnya biaya pendidikan, waktu yang digunakan dalam proses pendidikan, mutu pegajar dan banyak hal lain yang menyebabkan kurang efisiennya proses pendidikan di Indonesia. Yang juga berpengaruh dalam peningkatan sumber daya manusia Indonesia yang lebih baik.
Masalah mahalnya biaya pendidikan di Indonesia sudah menjadi rahasia umum bagi kita. Sebenarnya harga pendidikan di Indonesia relative lebih randah jika kita bandingkan dengan Negara lain yang tidak mengambil sitem free cost education. Namun mengapa kita menganggap pendidikan di Indonesia cukup mahal? Hal itu tidak kami kemukakan di sini jika penghasilan rakyat Indonesia cukup tinggi dan sepadan untuk biaya pendidiakan.
Selain itu, masalah lain efisienfi pengajaran yang akan kami bahas adalah mutu pengajar. Kurangnya mutu pengajar jugalah yang menyebabkan peserta didik kurang mencapai hasil yang diharapkan dan akhirnya mengambil pendidikan tambahan yang juga membutuhkan uang lebih.
Sistem pendidikan yang baik juga berperan penting dalam meningkatkan efisiensi pendidikan di Indonesia. Sangat disayangkan juga sistem pendidikan kita berubah-ubah sehingga membingungkan pendidik dan peserta didik.
Dalam beberapa tahun, kita menggunakan sistem pendidikan kurikulum 1994, kurikulum 2004, kurikulum berbasis kompetensi yang pengubah proses pengajaran menjadi proses pendidikan aktif, hingga kurikulum baru lainnya. Ketika mengganti kurikulum, kita juga mengganti cara pendidikan pengajar, dan pengajar harus diberi pelatihan terlebih dahulu yang juga menambah cost biaya pendidikan. Sehingga amat disayangkan jika terlalu sering mengganti kurikulum yang dianggap kuaran efektif lalu langsung menggantinya dengan kurikulum yang dinilai lebih efektif.
3. STANDARDISASI PENDIDIKAN DI INDONESIA
Jika kita ingin meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia, kita juga berbicara tentang standardisasi pengajaran yang kita ambil. Tentunya setelah melewati proses untuk menentukan standar yang akan diambil.
Dunia pendidikan terus berubah. Kompetensi yang dibutuhkan oleh masyarakat terus-menertus berunah apalagi di dalam dunia terbuka yaitu di dalam dunia modern dalam ere globalisasi. Kompetendi-kompetensi yang harus dimiliki oleh seseorang dalam lembaga pendidikan haruslah memenuhi standar.
Tinjauan terhadap sandardisasi dan kompetensi untuk meningkatkan mutu pendidikan akhirnya membawa saya dalam pengungkapan adanya bahaya yang tersembunyi yaitu kemungkinan adanya pendidikan yang terkekung oleh standar kompetensi saja sehngga kehilangan makna dan tujuan pendidikan tersebut.
Peserta didik Indonesia terkadang hanya memikirkan bagaiman agar mencapai standar pendidikan saja, bukan bagaimana agar pendidikan yang diambil efektif dan dapat digunakan. Tidak perduli bagaimana cara agar memperoleh hasil atau lebih spesifiknya nilai yang diperoleh, yang terpentinga adalah memenuhi nilai di atas standar saja.
Hal seperti di atas sangat disayangkan karena berarti pendidikan seperti kehilangan makna saja karena terlalu menuntun standar kompetensi. Hal itu jelas salah satu penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia.
Penyebab rendahnya mutu pendidikan di Indonesia juga tentu tidah hanya sebatas yang kami bahas di atas. Banyak hal yang menyebabkan rendahnya mutu pendidikan kita. Tentunya hal seperti itu dapat kita temukan jika kita menggali lebih dalam akar permasalahannya. Dan semoga jika kita mengetehui akar permasalahannya, kita dapat memperbaiki mutu pendidikan di Indonesia sehingga jadi kebih baik lagi.

va_nia mengatakan...

Ilmu Pendidikan sebagai penuju ke arah kemajuan, dan kemajuan itu digambarkan sebagai masyarakat tahap positif, atau masyarakat industrial,dan memunculkan teori-teori baru bisa diterima dan dapat bermanfaat bagi masyarakat,tetapi berbeda dengan kenyataan yang muncul diLapangan,selama ini sisitem pendidikan yang dihadapi peserta didik sangat memprihatinkan seperti halnya siswa dipatok harus belajar sesuai kurikulum yang dihadapi materi pelajaran yang begitu banyak untuk dipahami, sedangkan kemampuan siswa untuk memahami isi dari semua materi itu sangat sulit sehingga kebanyakan / hampir semua sisiwa tidak memahami materi yang diberikan sebanyak itu tetapi mereka dituntut untuk bisa memahami materi itu. Sehingga peserta didik disibukkan utuk menghafal dari materi-materi yang diberikan, mereka tidak mengetahui maksut dari isi materi tersebut. Sehingga mereka memahami / fokus pada materi hanya sedikit, tidak semua materi dapat dipahami peserta didik. Yang dijalani sisitem pendidikan diIndonesia selama ini dengan metode "Sedikit Bisa, Dengan Materi Banyak".

cuityzt mengatakan...

Pembangunan Pendidikan di Indonesia masih belum merata. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya gedung sekolah yang rusak bahkan dapat diibaratkan bila tersentuh tangan saja sudah rubuh. Selain itu masih banyak didaerah yang tidak terdapat sekolahan. Hal ini sangat memprihatinkan, padahal pendidikan adalah hal sangat penting bagi kemajuan bangsa. Bisa dibayangkan bila suatu bangsa tidak berpendidikan, pasti bangsa tersebut akan terlindas oleh tuntutan jaman yang mengharuskan setiap orang bisa berkompetisi untuk menghasilkan penemuan-penemuan baru demi kemaslahatan hidupnya apabila sektor pembangunan pendidikan saja belum merata ini tentu akan mempengaruhi hal-hal lainnya. Misalnya saja apabila seorang siswa dari daerah harus menempuh jarak kiloan meter untuk sampai disekolah pasti tenaganya akan habis diperjalanan, sehingga dalam menangkap pelajaran tidak dapat optimal. Oleh karena itu, sangat diharapkan perhatian pemerintah dalam pembangunan pendidikan di Indonesia agar setiap bangsa dapat mendapat pendidikan dengan baik dan merata. Pemerintah janganlah pilih kasih dalam pembangunan pendidikan, karena setiap orang berhak atas pendidikan untuk memajukan kualitas hidupya. Semangat bangsa dalam mengembangkan pendidikan harus dipupuk sejak dini. Jangan puas apabila sudah berhasil mendapat sesuatu yang baik. Karena apabila lebih baik itu mungkin, baik tidaklah cukup. Artinya, apabila pembangunan pendidikan didaerah tertentu [kota] sudah dapat sukses terlaksana maka janganlah puas terlebih dahulu, karena kita juga harus mensukseskan pembangunan pendidikan didaerah lain [daerah teropencil] agar sektor pembangunan di Indonesia bisa berhasil dan mencapai puncaknya.

ria anifah mengatakan...

Membicarakan masalah pendidikan di Indonesia memang seolah tak ada habisnya.Satu topik yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat,terutama saya sebagai mahasiswa yang notabene merupakan insan pendidikan.
Jujur saja,kebanyakan komentar yang ditujukan kepada pendidikan di Indonesia selalu saja bernada negatif.Mulai dari sistem pendidikan yang selalu berubah-ubah,kualitas guru yang tidak qualified untuk mengajar,biaya sekolah yang mahal,prestasi siswanya yang rendah,dan sebagainya.
Masalah-masalah itu memang tidak perlu diragukan sangat mempengarungi kualitas pendidikan di Indonesia yang kualitasnya memang masih sangat rendah,bahkan dibandingkan dengan negara tetangga kita Malaysia dan Singapura.
Tapi,sebagai generasi muda,saya tetap optimis bahwa pendidikan di Indonesia pasti akan maju suatu saat nanti.Memang bukan perkara yang mudah.Dibutuhkan kerjasama berbagai pihak utuk dapat mewujudkan semua itu.
Kita tidak bisa hanya dapat menyalahkan pemerintah saja tanpa melakukan introspeksi diri.Tapi saya tetap mempunyai keyakinan yang kuat bahwa pendidikan di Indonesia akan mampu bersaing di dunia internasional.Walaupun kemungkinan utuk terjadinya hal yang sebaliknya,yaitu semakin trpuruknya pendidikan di Indonesia juga sama besarnya.

ria anifah mengatakan...

wax

kartika mengatakan...

Pendidikan di indonesia mengharapkan semua mata pelajaran harus dikuasai oleh peseta didiknya,tapi dengan hal tersebut malah memberatkan peserta didik.karena peserta didik tidak bisa menguasai salah satu mapel yang diminati dengan sempurna.bangsa indonesia menginginkan peserta didiknya "sithik-sithik iso"dengan menguasi semua mapel yang ada, dan kurikulum dijadikan sebuah tradisi yang ada di departemen pendidikan karena apabila setiap pergantian menteri berganti juga kurikulum.Pergantian kurikulum entah dibuat proyek untuk mereka atau politik.tapi menurutku pergantihan kurikulum merupakan tututan masyarakat yang ingin pendidikan itu lebih maju dari sebelumnya dengan tidak lupa di dalamnya mengandung unsur IPTEK dan IPTAK.Kunci keberhasilan pendidikan itu dari kita sebagai generasi penerus.

Agus mengatakan...

Menurut saya pendidikan di indonesia sangat lemah dan memprihatinkan.ini dapat kita lihat dari keadaan pendidikan sekarang ini,pendidikan di indnesia di pengarui oleh peberapa masalah salah satunya adalah biaya pendidikan yang sangat mahal. dan ini mengakibatkan masyarakat miskin tidak dapat menyekolahkan anak-anak mereka sehingga mereka selalu ketinggalan dalam hal pendidikan.
Dengan adanya masalah ini pemerintah seharusnya memberikan bantuan kepada rakyat-rakyat miskin salah satunya dengan di adakany SEKOLAH ALTERNATIF.

mustopa mengatakan...

pendidikan.manuusia tanpa adanya program pendidikan,mungkin manusia melakukan suatu hal tanpa berpikir sebab akibat yang timbul ketika manusia melakukan sesuatu.dengan adanya pendidikan manusia dapat memproses kehidupan mereka dengan logis,ilmiah,dan nyata.

mustopa mengatakan...

pendidikan.manuusia tanpa adanya program pendidikan,mungkin manusia melakukan suatu hal tanpa berpikir sebab akibat yang timbul ketika manusia melakukan sesuatu.dengan adanya pendidikan manusia dapat memproses kehidupan mereka dengan logis,ilmiah,dan nyata.