Selasa, 06 Januari 2009

MODEL PENILAIAN BERBASIS PORTOFOLIO

MODEL PENILAIAN BERBASIS PORTOFOLIO

A. Pengertian dan Tujuan Penilaian Portofolio

Portofolio merupakan kumpulan hasil karya seorang siswa, sejumlah hasil karya seorang siswa yang sengaja dikumpulkan untuk digunakan sebagai bukti prestasi siswa, perkembangan siswa itu dalam kompetensi berpikir, sikap, dan ketrampilannya. Pemahaman siswa itu atas materi pelajaran, kompetensi siswa itu dalam mengungkapkan sikap siswa itu terhadap pelajaran tertentu, laporan singkat yang dibuat seseorang sesudah melaksanakan kegiatan.

Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik. Dalam penilaian portofolio mengandung hal-hal penting, yaitu pengumpulan (storing), pemilihan (sorting), dan penetapan (dating), dari suatu tugas (task) (Supranata dan Hatta, 2004).

Tujuan portofolio diterapkan berdasarkan apa yang harus dikerjakan dan siapa yang akan menggunakan jenis portofolio. Dalam penilaian di kelas, portofolio dapat digunakan untuk mencapai beberapa tujuan, antara lain:

  1. Menghargai perkembangan yang dialami siswa
  2. Mendokumentasikan proses pembelajaran yang berlangsung
  3. Memberi perhatian atas prestasi kerja siswa yang terbaik
  4. Merefleksikan kesanggupan mengambil resiko dan melakukan eksperimentasi
  5. Meningkatkan efektivitas proses pengajaran
  6. Bertukar informasi dengan orang tua wali dan guru lain
  7. Membina dan mempercepat pertumbuhan konsep diri positif pada siswa
  8. meningkatkan kemampuan melakukan refleksi diri
  9. Membantu siswa dalam merumuskan tujuan

Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik dan terus melakukan perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karyanya, antara lain: karangan, puisi, surat, komposisi, musik.

B. Pedoman dan Karakteristik Pengembangan Portafolio

Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan penilaian portofolio di sekolah, antara lain:

1. Karya siswa adalah benar-benar karya peserta didik itu sendiri.

Guru melakukan penelitian atas hasil karya peserta didik yang dijadikan bahan penilaian portofolio agar karya tersebut merupakan hasil karya yang dibuat oleh peserta didik itu sendiri.

2. Saling percaya antara guru dan peserta didik

Dalam proses penilaian guru dan peserta didik harus memiliki rasa saling percaya, saling memerlukan dan saling membantu sehingga terjadi proses pendidikan berlangsung dengan baik.

3. Kerahasiaan bersama antara guru dan peserta didik

Kerahasiaan hasil pengumpulan informasi perkembangan peserta didik perlu dijaga dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan sehingga memberi dampak negatif proses pendidikan.

4. Milik bersama (joint ownership) antara peserta didik dan guru

Guru dan peserta didik perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio sehingga peserta didik akan merasa memiliki karya yang dikumpulkan dan akhirnya akan berupaya terus meningkatkan kemampuannya.

5. Kepuasan

Hasil kerja portofolio sebaiknya berisi keterangan dan atau bukti yang memberikan dorongan peserta didik untuk lebih meningkatkan diri.

6. Kesesuaian

Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan kompetensi yang tercantum dalam kurikulum.

7. Penilaian proses dan hasil

Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil. Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan guru tentang kinerja dan karya peserta didik.

8. Penilaian dan pembelajaran

Penilaian portofolio merupakan hal yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Manfaat utama penilaian ini sebagai diagnostik yang sangat berarti bagi guru untuk melihat kelebihan dan kekurangan peserta didik.

Portafolio tidak hanya merupakan tempat penyimpanan hasil pekerjaan siswa, tetapi juga merupakan sumber informasi untuk guru dan siswa. Portafolio memberikan bahan tindak lanjut dari suatu pekerjaan yang telah dilakukan siswa sehingga guru dan siswa berkesempatan untuk mengembangkan kemampuannya. Portafolio dapat pula berfungsi sebagai alat untuk melihat (a) perkembangan tanggung jawab siswa dalam belajar, (b) perluasan dimensi belajar, (c) pembaharuan kembali proses belajar-mengajar, dan (d) penekanan pada pengembangan pandangan siswa dalam belajar.

Karakteristik pengembangan portafolio siswa dari waktu ke waktu akan merefleksikan perkembangan penting dalam suatu proses kemampuan intelektual siswa. Menurut Barton dan Collins (1997), terdapat beberapa karakteristik esensial dalam pengembangan berbagai bentuk portafolio, yaitu:

1. Multi sumber

Multi sumber artinya portofolio memungkinkan untuk menilai berbagai macam evidence antara lain mencakup orang (pertanyaan dan observasi peserta didik, guru, program, orang tua, dan anggota masyarakat); dan apa saja yang akan dinilai seperti foto, rancangan, jurnal, audio, dan video.

2. Authentic

Evidence peserta didik haruslah autentik artinya dari konteks manapun harus saling berkaitan satu sama lain. Evidence peserta didik yang dinilai haruslah berkaitan dengan program pengajaran, kriteria kegiatan, standart kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang hendak dicapai

3. Dinamisi

Portofolio bersifat dinamis, artinya portofolio mencakup perkembangan dan perubahan evidence yang ditampilkan dari waktu ke waktu sebaiknya dari berbagai tahapan, bukan hanya hasil yang baik saja. Paling tidak apabila akan diseleksi maka beberapa evidence itu dipilih secara selektif sehingga dapat mengembangkan kompetensi peserta didik dari waktu ke waktu.

4. Eksplisit

Portofolio harus jelas, artinya semua tujuan pembelajaran berupa kompetensi dasar dan indikator harus dinyatakan secara jelas. Guru juga perlu memberikan komentar terhadap hasil kerja yang telah dilakukan peserta didik.

5. Integrasi

Portofolio senantiasa berkaitan antara program yang dilakukan peserta didik di kelas dengan kehidupan seharĂ­-hari sehingga peserta didik tidak jauh dari yang mereka alami, sehingga peserta didik dengan mudah menghubungkan antara kemampuan atau pengetahuannya dengan kenyataan seharĂ­-hari.

6. Kepemilikan

Penilaian portofolio menekankan pada adanya rasa kepemilikan, yaitu adanya keterkaitan antara evidence dengan kompetensi dasar dan indikator yang telah ditentukan dalam rangka mencapai Standard kompetensi tertentu. Peserta didik harus merasa memiliki semua evidence yang mereka hasilkan. Dengan demikian mereka diharapkan dapat menjaga dengan baik semua evidence tersebut.

7. Beragam tujuan

Portofolio juga mengacu ke berbagai tujuan, misalnya beberapa indikator pencapaian hasil belajar yang bermanfaat dalam proses pembelajaran, portofolio juga dapat melihat keefektifan suatu program dan pada saat yang sama mengevaluasi perkembangan individu atau kelompok sebagai comunitas peserta didik

C. Teknik Penilaian Portofolio

Teknik penilaian portofolio di dalam kelas memerlukan langkah-langkah

sebagai berikut:

1. Menjelaskan kepada peserta didik bahwa penggunaan portofolio, tidak hanya merupakan kumpulan hasil kerja peserta didik yang digunakan oleh guru untuk penilaian, tetapi digunakan juga oleh peserta didik sendiri.

Dengan melihat portofolionya peserta didik dapat mengetahui kemampuan, keterampilan, dan minatnya. Proses ini tidak akan terjadi secara spontan, tetapi membutuhkan waktu bagi peserta didik untuk belajar meyakini hasil penilaian mereka sendiri.

2. Menentukan bersama peserta didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat. Portofolio antara peserta didik yang satu dan yang lain bisa sama bisa berbeda.

3. Mengumpulkan dan menyimpan karya-karya tiap peserta didik dalam satu map atau folder di rumah masing atau loker masing-masing di sekolah.

4. Memberi tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu.

5. Menentukan kriteria penilaian sampel portofolio dan bobotnya dengan para peserta didik. Diskusikan cara penilaian kualitas karya para peserta didik. Contoh, Kriteria penilaian kemampuan menulis karangan yaitu: penggunaan tata bahasa, pemilihan kosa-kata, kelengkapan gagasan, dan sistematika penulisan. Dengan demikian, peserta didik mengetahui harapan (standar) guru dan berusaha mencapai standar tersebut.

6. Meminta peserta didik menilai karyanya secara berkesinambungan. Guru dapat membimbing peserta didik, bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang kelebihan dan kekurangan karya tersebut, serta bagaimana cara memperbaikinya. Hal ini dapat dilakukan pada saat membahas portofolio.

7. Setelah suatu karya dinilai dan nilainya belum memuaskan, maka peserta didik diberi kesempatan untuk memperbaiki. Namun, antara peserta didik dan guru perlu dibuat “kontrak” atau perjanjian mengenai jangka waktu perbaikan, misalnya 2 minggu karya yang telah diperbaiki harus diserahkan kepada guru.

8. Bila perlu, jadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio. Jika perlu, undang orang tua peserta didik dan diberi penjelasan tentang maksud serta tujuan portofolio, sehingga orangtua dapat membantu dan memotivasi anaknya.

D. Data Penilaian Portofolio

Data penilaian portofolio peserta didik didasarkan dari hasil kumpulan informasi yang telah dilakukan oleh peserta didik selama pembelajaran berlangsung. Komponen penilaian portofolio meliputi: (1) catatan guru, (2) hasil pekerjaan peserta didik, dan (3) profil perkembangan peserta didik. Hasil catatan guru mampu memberi penilaian terhadap sikap peserta didik dalam melakukan kegiatan portofolio. Hasil pekerjaan peserta didik mampu memberi skor berdasarkan kriteria (1) rangkuman isi portofolio, (2) dokumentasi/data dalam folder, (3) perkembangan dokumen, (4) ringkasan setiap dokumen, (5) presentasi dan (6) penampilan.

Hasil profil perkembangan peserta didik mampu memberi skor berdasarkan gambaran perkembangan pencapaian kompetensi peserta didik pada selang waktu tertentu. Ketiga komponen ini dijadikan suatu informasi tentang tingkat kemajuan atau penguasaan kompetensi peserta didik sebagai hasil dari proses pembelajaran. Berdasarkan ketiga komponen penilaian tersebut, guru menilai peserta didik dengan menggunakan acuan patokan kriteria yang artinya apakah peserta didik telah mencapai kompetensi yang diharapkan dalam bentuk persentase (%) pencapaian atau dengan menggunakan skala 0 –10 atau 0 - 100.

Pensekoran dilakukan berdasarkan kegiatan unjuk kerja, dengan rambu-rambu atau kriteria penskoran portofolio yang telah ditetapkan. Skor pencapaian peserta didik dapat diubah ke dalam skor yang berskala 0 -10 atau 0 –100 dengan patokan jumlah skor pencapaian dibagi skor maksimum yang dapat dicapai, dikali dengan 10 atau 100. Dengan demikian akan diperoleh skor peserta didik berdasarkan portofolio masing-masing.

E. Keunggulan dan Kelemahan Penilaian Portofolio

Penilaian portofolio memilki keunggulan dan tentunya kelemahan dalam pelaksanaannya di kelas. Keunggulan yang dari penggunaan penilaian portofolio dapat dilihat dari kondisi-kondisi di bawah ini sebagai berikut:

1. Perubahan paradigma penilaian

Perubahan paradigma dari membandingkan kedudukan kemampuan peserta didik menjadi pengembangan kemampuan peserta didik melalui umpan balik dan refleksi diri. Penilaian portofolio dapat menolong guru melalukan dan mengevaluasi kemampuan dan peserta didik sesuai dengan harapan tanpa mengurangi kreatifitas peserta didik di kelas. Penilaian portofolio juga dapat menolong peserta didik untuk bertanggung jawab terhadap apa yang mereka kerjakan di kelas dan meningkatkan peran serta mereka dalam kegiatan pembelajaran.

2. Akuntabilitas

Penilaian portofolio menekankan pada keadaan yang dapat dipertanggung jawabkan (akuntability). Hal ini dapat dilihat dari adanya kerja sama antara guru, siswa dan orang tua. Jadi bukan semata-mata guru yang memberikan penilaian, tetapi atas sepengatahuan siswa dan orang tua.

3. Peserta didik sebagai individu yang peran aktif peserta didik

Ciri khas dari penilaian portofolio adalah memungkinkan guru untuk melihat peserta didik sebagai individu, yang masing-masing memiliki karakteristik, kebutuhan, dan kelebihan tersendiri. Ini sangat berguna manakala program evaluasi sangat fleksibel dan lebih menekankan pada tujuan individual sehingga memungkinkan peran aktif dalam proses penilaian, dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan mereka.

4. Identifikasi

Penilaian portofolio dapat mengklasifikasi dan mengindentifikasi program pengajaran dan memungkinkan untuk mendokumentasikan ”pemikiran” di samping pengembangan program, sehingga kriteria portofolio akan berpengaruh terhadap penentuan tujuan pembelajaran (indikator pencapaian hasil belajar).

5. Keterlibatan orang tua dan masyarakat

Penilaian portofolio melibatkan orang tua dan masyarakat untuk berperan serta dalam melihat pencapaian kemampuan peserta didik yang berkaitan dengan konteks kurikulum dibandingkan dengan hanya melihat angka-angka tes yang selama ini dihasilkan.

6. Penilaian diri

Portofolio memungkinkan peserta didik melakukan penilaian diri (self assessment), refleksi, dan pemikiran yang kritis (critical thinking).

Penilaian diri adalah penilaian yang digunakan oleh peserta didik untuk menilai evidence mereka. Peserta didik harus memiliki kemampuan (skill), pengetahuan (knowledge) dan keyakinan diri (confidence) untuk mengevaluasi proses yang mereka sedang kerjakan dan pengembangan hasil kerjanya, ketika mereka belajar sebagai pelajar yang mandiri. Penelitian diri berguna untuk melihat keterlibatan peserta didik sepenuhnya dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

7. Penilaian yang fleksibel

Penilaian portofolio memungkinkan penilaian yang fleksibel yang bergantung kepada indikator pencapaian hasil belajar yang telah ditentukan.

8. Tanggung jawab bersama

Penilaian portofolio memungkinkan guru dan peserta didik secara bersama-sama bertanggung jawab untuk merancang proses pembelajaran dan untuk mengevaluasi kemajuan belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

9. Keadilan

Portofolio adalah salah satu alat penilaian yang ideal untuk kelas yang heterogen yang sangat terbuka bagi guru untuk menggambarkan kelebihan dan kekurangan peserta didik dan membantu perkembangan mereka.

10. Kriteria penilaian

Hasil pekerjaan peserta didik akan dinilai berdasarkan penilaian yang relevan dengan penampilan mereka (misal dengan skala rating = rating scale). Peserta didik yang kurang akan tetap mendapat penghargaan (credit), sedangkan pencapaian keberhasilan yang optimal menjadi tujuan dari penilaian portofolio ini.

Dari kelebihan yang telah diuraikan di atas, terdapat juga beberapa kelemahan yang yang dialami saat dilaksanakannya penilaian portofolio antara lain:

1. Waktu ekstra

Penilaian portofolio memerlukan kerja ekstra dibandingkan dengan penilaian lain yang biasa guru lakukan. Tetapi usaha guru yang menggunakan penilaian portofolio akan sangat dihargai dan terutama dikenang baik oleh peserta didik. Sebab melalui penilaian portofolio peserta didik dapat meningkatkan motivasi, partisipasi aktif dalam proses pembelajaran, bahkan meningkatkan kemampuan mereka.

2. Reliabilitas

Penilaian portofolio nampat kurang reliabel dan kurang fair dibandingkan dengan penilaian lain yang menggunakan angka seperti ulangan harian, ulangan umum, maupu ujian akhir nasional yang menggunakan tes. Penilaian yang dilakukan sendiri oleh peserta didik (self assesment) maupun oleh kelompok peserta didik agak kurang reliabel oleh karena itu latihan penilaian yang dilakukan oleh peserta didik maupun kelompok peserta didik sangat diperlukan. Dengan adanya latihan yang terus menerus, terutama lagi apalagi kriteria yang disajikan sangat jelas dan mudah dipahami. Peserta didik akan berlatih menjadi penilai bagi pekerjaannya sendiri.

3. Pencapaian akhir

Guru memiliki kecenderungan memperhatikan hanya untuk pencapaian akhir. Jika hal ini terjadi, berarti proses penilaian portofolio tidak mendapatkan perhatian sewajarnya.

4. Top-Down

Guru dan peserta didik biasanya terjebak dalam suasana hubungan top-down, yaitu guru menganggap tahu segalanya dan peserta didik selalu dianggap sebagai obyek yang harus dididik dan diberi tahu. Dengan demikian proses pembelajaran menjadi satu arah. Apalagi kondisi ini terwujud, maka inisiatif dan kreatifitas peserta didik yang menjadi ciri khas portofolio akan hilang.

5. Skeptisme

Masyarakat, khusunya orang tua peserta didik selama ini hanya mengenal keberhasilan anaknya hanya pada angka-angka hasil tes akhir (test scores), peringkat dan hal-hal yang bersifat kuantitatif. Sebaliknya, portofolio pada hakikatnya tidak mengenal angka-angka yang dimaksud. Akibatnya terkadang orang tua bersikap skeptis dan lebih percaya pada tes dari pada penilaian portofolio. Untuk mengatasi hal tersebut, format penilaian dapat menggunakan kriteria penilaian yanga bevariasi, mulai dari tidak mengunakan angka sampai dengan menggunakan angka.

6. Hal yang baru

Penilaian portofolio adalah sesuatu yang baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu bukan tidak mungkin kebanyakan guru kurang mengenal penilaian portofoli, mereka lebih mengenal bentuk penilaian yang biasa dilakukan.

7. Penerapan di sekolah

Penilaian portofolio terkadang sulit diterapkan di sekolah yang lebih mengenal perbandingan [eserta didik melalui skor tes, peringkat dan yang lebih sering menggunakan tes yang sudah baku seperti Ujian Nasional.

8. Format penilaian yang lengkap dan detail

Penyediaan format yang digunakan secara lengkap dan detail, dapat juga menjebak. Peserta didik akan terjerumus ke dalam suasana yang kaku dan mematikan, yang akhirnya a kan mematikan inisiatif dan kreativitas.

9. Tempat penyimpanan

Penilaian portofolio memerlukan tempat penyimpanan yang memadai, apalagi bila jumlah peserta didik cukup banyak. Oleh karena itu, guru perlu mewaspadai hal tersebut.

Jumat, 26 Desember 2008

Tugas Statistika Tgl 27 Desember 2008

Tugas Statistika

Kelas P07S1B

Tanggal 27 Desember 2008

1. Apa yang Anda pahami tentang rata-rata, median, dan modus? Apa fungsi dari ketiganya?

2. Tentukan rata-rata (mean), median, dan modus untuk data tunggal di bawah ini.

a. 7, 6,8, 7, 8, 7,8 5, 5 ,6 8, 8

b. 6, 6,7,5 8, 9, 10, 9, 8, 6, 7

3. Tentukan rata-rata (mean), median, dan modus untuk data berkelompok berikut ini.

Tabel data nilai tes akhir semester mahasiswa S1 PGSD

Interval

Frekuensi

45 – 54

8

55 – 64

12

65 – 74

8

75 – 84

9

85 – 94

13

4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan variabilitas? Sebutkan macam-macam dari

variabilitas?

5. Apa saja yang saudara ketahui mengenai beberapa kelemahan range dalam variabilitas?

Kamis, 25 Desember 2008

Tugas Pengembangan Pembelajaran IPA

Tugas Pengembangan Pembelajaran IPA
Tanggal 27 Desember 2008
Dosen Wahyudi, S.Pd
  1. Buatlah suatu bagan yang menggambarkan hubungan antara Anda, suatu fenomena alam, dan putusan yang Anda buat.
  2. Tunjukkan fungsi pengalaman dalam mengkonstruksi suatu pengetahuan!
  3. Tunjukkan peran pikiran dalam mencari pengetahuan!
  4. Beri contoh peran kemampuan bahasa dalam mencari pengetahuan!
  5. Apa pengaruh minat dalam kegiatan mencari pengetahuan?
  6. Buatlah sebuah Rencana Pembelajaran yang menggunakan pendekatan Konstruktivisme dan berikan rencana kegiatannya (Percobaan)
Catatan: Tugas dikumpul hari Selasa tanggal 30 Desember 2008 di Tempat Bu Ester

Tugas Statistika

TUGAS STATISTIKA
KELAS PO7S1B
Jumat 26 Desember 2008
Jam 16 – 19 WIB


1. Statistik dapat diartikan dalam pengertian yang sempit dan luas. Tuliskan kedua arti tersebut serta berikan contoh masing-masing?
2. Apa yang Anda pahami tentang statistik dan statistika?
3. Buatlah definisi yang jelas, sesuai dengan konsepsi Anda?
4. Jelaskan peranan statistik dalam kehidupan sehari-hari di tempat kerja Anda?
5. Apa perlunya kita mempelajari statistik?
6. Jelaskan perbedaan antara statistik statistik deskriptif dengan statistik inferensial?
7. Jelaskan pembagian statistik berdasarkan parameternya?
8. Syarat apakah yang harus dipenuhi oleh sekumpulan angka atau bilangan, sehingga dapat disebut dengan data Statistik?
9. Jelaskan perbedaan antara data kontinyu dan data diskrit. Berikan contoh masing-masing?
10. Jelaskan tentang perbedaan antara data interval dan data ordinal?
Berikan contoh sedemikian rupa sehingga menjadi cukup jelas apa yang dimaksud dengan data primer dan data sekunder?
11. Jelaskan beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data statistik?
12. Jelaskan apa yang dimaksud dengan variabel?
13. Jelaskan perbedaan antara variabel kontinu dan variabel diskret?

Catatan:
1. Tugas dibuat oleh Wahyudi, S.Pd
2. Tugas dikumpul 27 Desember 2008 jam 08.00 WIB di kantor Ibu Ester

Salatiga, 26 Desember 2008


Wahyudi, S.Pd

Kamis, 18 Desember 2008

Kurikulum Lipstik

Kurikulum Lipstik
Rabu, 17 Desember 2008 | 03:00 WIB

Doni Koesoema A

Pembentukan karakter merupakan bagian penting kinerja pendidikan. Namun, kecenderungan untuk menciptakan praksis on the spot yang dipaksakan hanya akan melahirkan sikap reaktif. Kurikulum lipstik lantas menjadi tren. Siswa menjadi obyek bagi ajang pelatihan. Akibatnya, pendidikan terjerembab pada kedangkalan.

Sekolah menjadi reaktif saat terburu- buru ingin menanggapi tantangan zaman. Seolah sekolah adalah obat bagi masalah itu. Saat korupsi merajalela di masyarakat, pendidik sibuk mengembangkan pendidikan antikorupsi di sekolah. Ada yang mempromosikan sekolah antikorupsi, program kantin kejujuran, dan lainnya (Kompas, 5/12/2008). Juga ada yang mengusulkan masuknya mata pelajaran khusus, Pendidikan Antikorupsi untuk menggantikan PPKn dan Agama yang dianggap gagal menjalankan misinya.

Selain itu, tuntutan akuntabilitas pendidikan akibat tantangan standardisasi telah membuat para pendidik lari pontang- panting mengikuti berbagai macam program kilat pengembangan diri, mulai dari seminar cara mengajar efektif dan kreatif, pola pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM), diklat positive thinking, mengikuti lokakarya, dan berbagai macam pelatihan bertajuk pendidikan. Pola kian menjadi-jadi saat model portofolio sertifikasi mensyaratkan adanya berbagai macam sertifikat untuk memperoleh poin. Lembaga seminar menjamur, panitia untung, guru untung, tetapi murid buntung.

Sikap reaktif inilah yang belakangan terjadi dalam dunia pendidikan kita. Seperti lipstik hanya menjadi tampilan luar dan akan hilang dalam sekejap, reformasi pendidikan juga tidak akan bertahan lama jika pendidik sibuk mengurusi hal-hal yang bukan menjadi tugas utamanya, apalagi jika menjadikan siswa sekadar obyek pelatihan. Gejala ini saya sebut dengan kurikulum lipstik.

Restrukturisasi

Oleh Fulan (1993), gejala ini disebut restrukturisasi, yaitu sekadar proses pembaruan guru di tingkat pinggiran, berupa peningkatan keterampilan teknis pengajaran, tetapi tidak disertai perubahan cara pandang. Selain itu, gelojoh mengikuti tren berbagai macam gerakan, dengan berbagai macam label anti (korupsi, kekerasan, narkoba, pornografi, dan lainnya) yang dipaksakan di sekolah hanya akan mengorbankan siswa untuk keinginan politik kelompok tertentu.

Memang, sekolah harus melawan korupsi, menentang kekerasan, menawarkan cara hidup sehat, dan mendidik siswa cara menghormati tubuh sesama sebagai makhluk mulia dan berharga karena sama- sama ciptaan Tuhan. Namun, gagal melawan kesabaran disertai nafsu reaktif bisa menjadikan guru sebagai pahlawan kesiangan yang tidak pernah menyadari bahwa menekuni pekerjaan rutin harian di kelas itulah tugas utamanya. Pembentukan karakter itu terjadi melalui dinamika pengajaran di kelas, bukan melalui seminar, sosialisasi, atau pelatihan dadakan.

Diskursus tentang pembentukan karakter yang dipahami secara parsial bisa menjadi sarana pelarian (eskapisme) guru dari tanggung jawab mereka untuk meningkatkan prestasi akademis siswa dengan cara memberi penekanan berlebihan pada unsur-unsur non-akademis.

Padahal, keunggulan akademis adalah bagian dari pembentukan karakter itu sendiri. Tugas utama guru adalah mengembangkan ekselensi akademis dalam diri siswa. Mutu pendidikan kita kian menurun karena visi keunggulan akademis ini diabaikan. Akibatnya, pembentukan karakter siswa juga terpinggirkan.

Agar pembentukan karakter terjadi integral, guru perlu memahami kembali visi pengajarannya dan percaya bahwa mengembangkan keunggulan akademis adalah tugas utamanya sebagai pendidik. Siswa yang memiliki ekselensi akademis mengandaikan keterbukaan, kemampuan bertanya, berdiskusi, menganalisis masalah, dan mampu mendialogkan ilmu pengetahuan dengan orang lain. Dialog seperti ini terjadi jika masing-masing memiliki keyakinan nilai tentang kebenaran pengetahuan dan maknanya bagi kemaslahatan hidup bersama. Jika ini terjadi, secara tidak langsung karakter anak didik yang terbuka, kritis, dan mau berdialog akan berkembang. Siswa menjadi individu dengan karakter kuat.

Rekulturasi

Di tengah maraknya ”kurikulum lipstik” itu, yang sebenarnya diperlukan adalah rekulturasi, yaitu proses pengembangan diri guru untuk kembali memahami hakikat kinerjanya sebagai pendidik yang hidup dalam keterbatasan ruang, waktu, dan bekerja melalui struktur sekolah yang sering malah membatasi fungsi utamanya sebagai pendidik. Restrukturisasi tidak dengan sendirinya meningkatkan kualitas pengajaran (Elmore, 1992). Seminar-seminar tidak otomatis mengubah paradigma mengajar guru, bahkan bisa jadi malah memperkuat konservatisme (Lortie, 1975).

Pembaruan dangkal tetapi ingar-bingar memang lebih seksi dan menarik hati. Namun, pembentukan nilai dan peningkatan kualitas akademis sebenarnya kinerja bersama yang tidak bisa diatasi sekadar dengan menimba ilmu dari orang- orang luar atau dari pembicara publik yang sama sekali tidak mengerti proses belajar- mengajar di kelas. Yang mengenal siswa di kelas adalah guru. Yang paling mengerti apa yang dibutuhkan siswa agar maju dalam menimba ilmu adalah guru.

Rekulturasi mengandaikan guru mampu membangun komunitas belajar profesional dalam lingkungan sekolah. Penumbuhan komunitas belajar profesional hanya bisa muncul saat guru bekerja sama, saling berbagi informasi dan mengevaluasi pekerjaan satu sama lain dengan mengambil kasus-kasus nyata dalam kelas. Meningkatkan mutu pembelajaran membutuhkan ketekunan, terutama berani menilai diri bagaimana guru mengajar di kelas. Inilah pekerjaan on the spot guru.

Pekerjaan seperti ini jauh dari ingar- bingar dan meriahnya seminar di hotel. Juga tidak ada sertifikat atau plakat sebab guru langsung masuk ke jantung pekerjaan utama. Kurikulum lipstik akan lewat, tetapi guru berdedikasi akan berdiri kuat. Mati raga sambil terus mau mengubah diri, bahkan mau belajar dari rekan guru dan siswa agar siswa menggapai keunggulan akademis, inilah yang membuat guru benar-benar menjadi guru.

Doni Koesoema A Mahasiswa Pascasarjana Boston College Lynch School of Education, Boston

Diambil dari:http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/17/00473925/kurikulu

Senin, 08 Desember 2008

The Application of Problem Based Learning in Mathematics Learning

The Application of Problem Based Learning in Mathematics Learning

By: Wahyudi


A. Background

Mathematics is a base science that is used as an equipment to learn other sciences. Therefore, mastering toward mathematics is absolutely required.and the concepts have to be comprehended correctly and early. They are due to the mathematic concepts are a causality network. Where a concept is compiled based on a previous concepts, and will be a further base concept. Thereby the understanding of incorrect concept will cause at the fault in understanding of further concepts ( Antonius Cahya Prihandoko, 2006).
Mathematics studies an abstract structure and a guide relation in it. It means that mathematics learning intrinsically is a learning concept, structure concept and looks for the relationship between them (the concepts and structure). The characteristic of an axiomatic deductive mathematics must be known by teacher so that they can learn mathematics correctly, from the simple concepts to complex concepts.
Based on reality above, hence the correct mathematic learning is required in inculcating mathematics concepts in Elementary school. Where the purpose of mathematics learning in base education is to prepare the student in order to get ready to face the changes situation in life and in a world which always grow up through an action based on an logical, rational, stall, careful, honest, efficient, and effective thinking ( Puskur, 2002). Despitefully, the student is expected to be able to apply mathematics and mathematics thinking in daily life to learn a various sciences which emphasis at the settlement of natural existence and student behaviour foming and skill in applying mathematics .
According To Brissenden (1980:7) the Iesson of mathematics at student is followed by arrangement of activity by teacher and each study activity contains two fundamental characteristics. Firstly, explains which gambling, management type this teacher applies activity of accross the board class, either individually and also group of learning. Second, activity by compiling expansion rule of study stages;steps metematika. This thing can be done by depicting some topics in study. Initial step done by teacher is attention at expansion effort of mathematics with formation of concept and outline from the subject.
Relation between procedural and conceptual of vital importance. Conceptual knowledge referred to concept understanding, while procedural knowledge referred to skill to do an algorithm or procedure finalizes the problem of mathematicses. According To Sutawijaya ( 1997:177), comprehends just concept insufficient, because in practice everyday life of student requires mathematics skill.

One of way which can be done to execute the study is done by using study method appropriate. One of study method which can be applied is study with Problem Based Learning. Applying of method problem based learning is not only increases result of learning but also supplies educative participant empirically learning finalizes problem according to Iesson matter self-supportingly. Reason of using of Problem Based Learning is as follows:
1) To draw near the students at study of mathematics with development of
situation of real world.
2) Can assist the students to develop idea and skilled thought in stall to obtain
life efficiency ( life skill).
3) Places student as subject and study object.

Problem based learning designed to develop:
1. Ability integrates ( federating) knowledge owned, then bases special knowledge
context
2. Ability takes decision at the same time develops critical position and idea
3. Self-supporting ability to learn and heartens to learn along the life
4. Efficiency interpersonal, kolaborasi, and communications
5. construction of His own cognate structure and skillful evaluates
6. Behavior and ethics which professional

B. The Application of Problem Based Learning
Common characteristic is from Problem Based Learning namely problem as a beginning of study. The planning problem that is as an issue comes from the dilemmatic problem of the environment that is used to attract the learners’ enthusiasm. Problem must be adapted for base interest, matter, and learning result which wish to be reached.
According To Duch ( CUTSD 1997: 2) good problems can succeed study. Good problems planning is:
1)Some facts happened in real world in tidy in the form of problem map which can draw
student enthusiasm.
2)Chooses one of fact which many studied by mass media to become the root of the
matter at discussion a study.
3)Can motivate the students in compiling strong argument based on some information
and also reference which they obtain.
4)Can peep out position is each other cooperation between students to study and also
finalizes the problem.
5)Initial question presented at problem can become guide of all students to take role
in discussion. This question must: ( a) haves the character of open to various
knowledge areas and also comments; ( b) can be attributed to basic knowledges
before all and also all valueses various aspects as a form of contribution of
expansion of problem or solution; ( c) focused on issues which can invite debate or
unresolved completely.
6)Can motivate the students to involve in analytical and critical thinking process.
7)Every specific units from expansion of the root of the matter must can be reunited
to become form of understanding a study matter.

Educative participant before all has owned knowledge base, efficiency, trust, and concepts. When educative participant given on to problems of reality which dilematis hence they will pay attention to, organizes, interpretation, and gets information and also new knowledge. Applying of problem based learning in education assists pembelajar to connect things does they know, they need to reachs level of better idea ( better thinking).

( Teacher & Educational Development, University of New Mexico School of Medicine ( 2002: 3-4).
Beginning of applying activity of problem based learning namely makes preparation of problem based learning in mathematics study. According To Wood ( 1995: 5-120) preparation of problem based learning is:
1.Determines topic or study direct material.
2.Determines problems issues is real world [by]
3.Compiles desire list of educative participant to learn comfortably
4.Presentation design of problem to be able to guide educative participant
5.Determines allocation of time and study meeting schedule
6.Organizes group of learning
7.Learning resource design
8.Balmy learning area design to develop " Process Skill" educative participant.
9.Assessment format design of process and result of learning
Applying of problem based learning ( get started) started with:
1.Recognition of problem based learning at instructor
2.Specifies applying rule of the game of problem based learning. This research
applies interaction type between groups ( group interaction). educative Tutor and
participant cooperated develops study.
3.Specifies hope or purpose of applying of problem based learning to increase ability thinks is logical and positive position of student to mathematics.
After problem presented at educative participant, hence study takes place in process of tutorial. Teacher stands as tutor. One problems in debate by some groups. Tutor called as also instructor, moderator, fasilitator, or leader. Tutor comes from educator. Tutor responsible assists group of identifying performance mistake, digressing opinion, motivates member of group of communicating, and is each other evaluates result of job(activity step by step. Tutor prepares balmy space to process study ( Harsono, 2004: 26-29).


The role of tutor in process of problem based learning is:
1.Process controller
a.Acted as doorman and time custodian.
b.As officer without dropping sanction to educative participant.
c.Interference if there is conflict among educative participant.
d.Pushs the happening of balmy situation that to execute of group dynamics.

2.Observer behavior of group
a.Pushs the happening of interaction of group, bravery, and approval.
b.Pushs educative participant to develop individual quality.
c.Assists educative participant to involve ability and realizes their weakness.
d.Pushs educative participant as change agent in group
e.Acts as role model.
3.Problem billows
a.Pushs the happening of active participation, concentration of attention, and
discussion is more life.
b.Reexamines all result of discussion, returns question of educative participant to
be replied x'self by them, gives comment and suggestion, and stimulates to think
for example trying to develop hypothesis.
c.Pushs educative participant to study and defines again explanation of the, makes
relationship or concept bearing, process etcetera.
d.Pushs educative participant to analyse, makes synthesis and evaluation about
problem or data, and summarizes result of discussion.
e.Assists educative participant in the case of identification source and learning
matter. ( Harsono, 2004: 31-32)


Educative Teacher activity and participant in tutorial as follows:
1. Educative Participant Activity
a.Identifies knowledge and efficiency owned.
b.Identifies problem and digs relevant information source.
c.Investigates and interpretation of information which collected.
d.Learning self-supportingly ( self-directed learning) ( Harsono, 2004: 35-42)
e.Prioritizes some alternative of problem solutions.
f.Integrates, opinion to select solution of problem.
(Cindy L. Lynch, Susan K. Wolcott, and Gregory E Huber, 2001: 2-5)
g.reflection of X'self ( Teacher & Education Development, University of New Mexico School of Medicine, 2002: 26 & 29).
Educative participant activity ( a, b, c, e, and f) refers to " steps for better thinking: a developmental problem solving process" from Cindy L. Lynch, Susan K. Wolcott, and Gregory E Huber).

2. Teacher Activity as Tutor
a.Makes study centrally at educative participant.
b.Area design motivating educative participant to learn.
c.Leads the time and process tutorial.
d.Applies effective question.
e.Arranges group dynamics.
f.Provides constructive feedback.
(University of New Mexico School of Medicine, 2002: 1-35)
g.Evaluation result of educative participant learning at cognate domain

References

Don Woods (1997). Problem-based Learning, especially in the context of large classes. Matter is accessed on 14 Augusts 2008, from http://chemeng.mcmaster.ca/pbl/pbl.htm
Dairy Advisory Teams (1998). Problem Solving and Action Planning. Matter is accessed on 12 June 2008, from http://www.das.psu.edu/das/dairy/teams/problem-solving
Duch, B., Groh, S. and Allen, D. (2001). 'Why Problem-Based Learning?' in The Power of Problem-Based Learning, Duch, B., Groh, S. and Allen, D. (eds), Stylus, Virginia. Matter is accessed on 14 Augusts 2008, from http://www.paulhazel.com/docs/pbl.htm
Harsono. (2004). Pengantar Problem Based Learning. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran UGM.
Lynch, Wolcott. (2001). Helping Your Students Develop Critical Thinking Skills. Matter is accessed on 15 Augusts 2008, from http://www.idea.ksu.edu/papers/Idea_Paper_37.pdf.
Teaching with Technology Initiative. (2002). Problem-Based Learning. Matter is accessed on 15 Augusts 2008, from http://twt/pbl/45/htm.

Senin, 01 Desember 2008

Why we have to apply need to apply Problem Based Learning approach in developing Mathematics Learning ?

Applying of method problem based learning is not only increase the result of learning but also supplies educative participant empirically learning finalizes problem according to Iesson matter self-supportingly. Hence researcher formulates purpose of applying of problem based learning as follows:
1) To draw near the students at study of mathematics with development of situation of real world.
2) Can assist the students to develop idea and skilled thought in stall to obtain life efficiency ( life skill).
3) Places student as subject and study object.
Problem Based Learning designed to develop:
1. Ability integrates ( federating) knowledge owned, then bases special knowledge context
2. Ability takes decision at the same time develops critical position and idea
3. Self-supporting ability to learn and heartens to learn along the life
4. Efficiency interpersonal, kolaborasi, and communications
5. construction of His own cognate structure and skillful evaluates
6. Behavior and ethics which professional
( Teacher & Educational Development, University of New Mexico School of Medicine ( 2002: 2-3).
Applying of problem based learning ( get started) started with:
1. Recognition of problem based learning at instructor
2. Specifies applying rule of the game of problem based learning. This research applies interacti on type between groups ( group interaction). educative Tutor and participant cooperated develops study.
3. Specifies hope or purpose of applying of problem based learning to increase ability thinks is logical and positive position of student to mathematics.
After problem presented at educative participant, hence study takes place in process of tutorial. Teacher stands as tutor. One problems in debate by some groups. Tutor called as also instructor, moderator, fasilitator, or leader. Tutor comes from educator. Tutor responsible assists group of identifying performance mistake, digressing opinion, motivates member of group of communicating, and is each other evaluates result of job(activity step by step. Tutor prepares balmy space to process study ( Harsono, 2004: 26-29).
The role of tutor in process of problem based learning is:
1. Process controller
a. Acted as doorman and time custodian.
b. As officer without dropping sanction to educative participant.
c. Interference if there is conflict among educative participant.
d. Pushs the happening of balmy situation that to execute of group dynamics.
2. Observer behavior of group
a. Pushs the happening of interaction of group, bravery, and approval.
b. Pushs educative participant to develop individual quality.
c. Assists educative participant to involve ability and realizes their weakness.
d. Pushs educative participant as evolution agent in group
e. Acts as role model.
3. Problem billows
a. Pushs the happening of active participation, concentration of attention, and discussion is more life.
b. Reexamines all result of discussion, returns question of educative participant to be replied x'self by them, gives comment and suggestion, and stimulates to think for example trying to develop hypothesis.
c. Pushs educative participant to study and defines again explanation of the, makes rapport or concept bearing, process etcetera.
d. Pushs educative participant to analyse, makes synthesis and evaluation about problem or data, and summarizes result of discussion.
e. Assists educative participant in the case of identification source and learning matter. ( Harsono, 2004: 31-32)

Educative Teacher activity and participant in tutorial as follows:
1. Educative Participant Activity
a. Identifies knowledge and efficiency owned.
b. Identifies problem and digs relevant sources of information.
c. Investigates and interpretation of information which collected.
d. Learning self-supportingly ( self-directed learning) ( Harsono, 2004: 35-42)
e. Prioritizes some alternative of problem dissolutions.
f. Integrates, opinion to select dissolution of problem.
( Cindy L. Lynch, Susan K. Wolcott, and Gregory E Huber, 2001: 2-5)
g. reflection of X'self ( Teacher & Education Development, University of New Mexico School of Medicine, 2002: 26 & 29).
Educative participant activity ( a, b, c, e, and f) refers to " steps for better thinking: a developmental problem solving process" from Cindy L. Lynch, Susan K. Wolcott, and Gregory E Huber).
2. Teacher Activity as Tutor
a. Makes study centrally at educative participant.
b. Area design motivating educative participant to learn.
c. Leads the time and process tutorial.
d. Applies effective question.
e. Arranges group dynamics.
f. Provides constructive feedback.
( University of New Mexico School of Medicine, 2002: 1-35)
g. Evaluation result of educative participant learning at cognate domain.


References

Don Woods (1997). Problem-based Learning, especially in the context of large classes. Matter is accessed on 14 Augusts 2008, from http://chemeng.mcmaster.ca/pbl/pbl.htm
Dairy Advisory Teams (1998). Problem Solving and Action Planning. Matter is accessed on 12 June 2008, from http://www.das.psu.edu/das/dairy/teams/problem-solving
Duch, B., Groh, S. and Allen, D. (2001). 'Why Problem-Based Learning?' in The Power of Problem-Based Learning, Duch, B., Groh, S. and Allen, D. (eds), Stylus, Virginia. Matter is accessed on 14 Augusts 2008, from http://www.paulhazel.com/docs/pbl.htm
Harsono. (2004). Pengantar Problem Based Learning. Yogyakarta: Fakultas Kedokteran UGM.
Lynch, Wolcott. (2001). Helping Your Students Develop Critical Thinking Skills. Matter is accessed on 15 Augusts 2008, from http://www.idea.ksu.edu/papers/Idea_Paper_37.pdf.
Teaching with Technology Initiative. (2002). Problem-Based Learning. Matter is accessed on 15 Augusts 2008, from http://twt/pbl/45/htm.

Selasa, 25 November 2008

Mengenal Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah Salatiga

Saat ini saya sedang di Sekolah Alternatif Qaryah Thayyibah, Kalibenng, Salatiga. Sekolah yang luar biasa. "Edan" dalam arti positif, luar biasa dalam arti sesungguhnya. Saya pun bisa berbagi cerita menggunakan fasilitas yang ada di sekolah ini.

Mungkin Anda pernah mendengar sekolah alternatif yang satu ini. Metro TV atau Trans TV pernah menayangkan liputannya. Kompas juga pernah memuat kisah perjuangan sekolah ini, yang dipelopori oleh Bahrudin.

Saya mengenal Bahrudin jauh sebelum ia merintis sekolah ini, namun kali ini saya tak ingin bercerita tentangnya. Saya ingin berbagi tentang perkembangan sekolah ini.

Ketika awal didirikan, sekolah SMP Alternatif ini baru memiliki puluhan murid. Saat ini, untuk tingkat SMA mereka sudah punya dua kelas, sedangkan jumlah siswa keseluruhannya sudah mencapai 150-an orang.

Di sini, siswa tidak dipatok harus belajar sesuai kurikulum seperti sekolah formal. Si anak sedang ingin belajar apa, saat itulah ia mencari sendiri materi pelajaran yang ingin diketahuinya. Juga kalau ia ingin mencari partner untuk diskusi tentang suatu hal.

Dari sini, anak sudah dirintis untuk memilih sendiri apa yang menjadi minat mereka, sehingga menjadi lebih fokus untuk menekuninya. Dan cara belajarnya juga langsung dari "kehidupan nyata."

Dari sisi murid, siswa yang tadinya cuma berasal dari Salatiga dan sekitarnya kini mulai lebih variatif. Kota-kota seperti Jakarta, Surabaya, Jombang, Jogjakarta, juga memberi sumbangan asal siswa. Di sini, mereka tinggal di rumah-rumah penduduk. Soal biaya, orang tua anak sendiri yang merundingkan besarnya "uang pondokan" dengan pemilik rumah yang ditinggali.

Lalu, jangan bicara soal produktivitas di sini. Anak-anak yang umurnya masih belasan, sudah bisa membuat film sendiri. Setiap akhir pekan di akhir bulan, ada pemutaran film ini untuk ditonton ramai-ramai.

Kalau film saja dengan mudahnya diproduksi, apalagi cuma sekadar buku. Di sini, karya-karya siswa sudah dibukukan dan diterbitkan oleh penerbit progresif dari Jogjakarta, LKiS. Juga karya-karya para gurunya.

Pendek kata, sekolah ini benar-benar menjadi alternatif bagi pendidikan yang sekarang ini sangat terasa membelenggu, tidak membebaskan. Tak terhitung sudah sekolah-sekolah formal yang mengunjungi "sekolah aneh" ini untuk menimba ilmu. Saat saya ada di sana pagi ini, sudah ada tiga sekolah yang akan datang berkunjung dan belajar.

Saat ini, Q-T sedang membangun lumbung informasi yang bisa diakses oleh siswa atau warga sekitar yang membutuhkan. Soal akses internet, nggak usah ditanya deh. Di sini, akses internet tersedia bebas 24 jam. Anda mau ngakses dari masjid, dari kebun belakang, dari halaman beranda depan, semuanya bisa asalkan Anda berbekal laptop yang memiliki wi-fi.

Saya berharap anak-anak di sini juga berbagi cerita sendiri tentang pengalaman mereka belajar di sekolah ini. Saya sudah ceritakan kepada pak "kepala suku" Bahrudin, bagaimana memanfaatkan Wikimu untuk berbagi cerita. Mudah-mudahan, kisah yang ditunggu-tunggu itu akan muncul, baik dari guru maupun dari murid-muridnya. (Oleh:aloysius weha)

SekolahAlternatif


Munculnya sekolah alternatif saat ini, awalnya karena keprihatinan seseorang atas pelaksanaan pendidikan di Indonesia. Maka muncullah sekolah-sekolah yang menawarkan program-program yang berbeda dari sekolah-sekolah pada umumnya. Contohnya, munculnya SLB (Sekolah Luar Biasa) yang menerima murit-murit yang mengalami cacat mental. Disana anak-nak yang cacal mental mendapat kesempatan untuk mendapat pendidikan.
Selain itu, tujuan sekolah alternatif yang menerima keahlian tertentu dari siswa-siswanya sesuai dengan keahlian dan bakt yng ingin didalaminya. Seperti ”Universitas Tikyan” sebutan pendidikan bagi anak-anak jalanan yang terdapat di daerah Yogyakarta yang diirikan pada tahun 1988. Pendidikan yang memiliki julukan ”sitik-sitik lumayan” sesuai dengan singkata ”Tikyan”, merupakan salah satu contoh pendidikan yang menawakan kelas-kelas khusus pada kampurs mereka yang ingin mendalami ahli khusus. Berbagai macam ketrampilan di ajarkan oleh kampus ini seperti membatik, kerajinan tangn, membuat kertas daur ulang kerajinan kayu, melukis dan lain-lain. Tentu saja disana tidak menernbitkan ijasah kerena tujuan pendidikan mereka adalh memanusiakan manusia. Yang nantinya pendidikan yang diperoleh dapat membantu mereka langsung menghasilkan uang.
Masih banyak sekolah alternatif yang ada di Indonesia lain yang memiliki bentuk dan tujuan yng berbeda pula. Seperti Pesantren dan sekolah minggu yang memiliki tujuan mencerdaskan siswa-siswa sesuai agama yang dianut. Selain itu juga sudah muncul Pendidikan di Rumah atau lebih dikenan dengan Home Schooling. Pendidikan semacam ini adalah pendidikan yang diselenggarakan oleh sebuah keluarga sendiri terhadp anggota keluarga yang masih usia sekolah. Tujuan dari keluarga itu sendiri juga macam-macam. Seperti, menjaga anak-anak dari pengaruh buruk lingkungan yang negartif, menyelamatkan anak baik fisik maupun mental dari pengaruh teman sebayanya, dan lain sebagainya.
Sekolah alternatif akan sangat bermanfaat sekali bagi perkembangan anak-anak di Indonesia. Karena sekaligus membantu pemerintah untuk mencerdaskan anak bangsa. Namun harus diketahui bahwa, hal itu akan tercapai asalkan tujuan utama itu masih diIngat. Kerena kadangkala masih ada pihak-pihak yang mementingkan materi (uang) dari pad pendidikan. Hal itu secara otomatis akan mengakibatkan tujuan utama terbengkalai dan kualitas pendidikan di Indonesia menurun.
Jika saya dapat mengataka kepada semua organ-organ yang menangani pendidikan, ”Kembali lah kepada tujuan awal kita. Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah terpenting. Secara otomatis kehidupan di Indonesia akan berubah menjadi Indah jika semua anak bangsa Cerdas. Maka hal-hal yang ditakut seperti kemiskinan akan berkurang sendirinya. Saling bekerja sama dan tidak saling menjatuhkan satu pihak dengan pihak lain. Indonesia memiliki bibit-bibit yang tersembunyi jika kita mau membuka mata.” TERIMA KASIH (Oleh: Galih Pamula Sari Mhs. S1 PGSD UKSW 2008)

Akhir-akhir ini mulai muncul sekolah-sekolah alternatif yang menyelenggarakan sekolah denganaturansendiri.
1. Apa yang menyebabkan hal ini bisa terjadi
2. Bagaimana kondisi ini terhadap nasib pendidikan di Indonesia
3. Bagaimana pandangan Anda melihat kondisi ini

1. Karena orang tua dan masyarakat yang merasakan bahwa suasana pembelajaran di banyak sekolah sering kurang mengedepankan kepentingan terbaik bagi anak yang berujung tertekannya kreativitas alamiah anak. Dengan realita ini berkembanglah gagasan dari para pakar pendidikan yang ingin menciptakan sebuah sistem pendidikan sekolah yang menyenangkan sekaligus mencerdaskan bagi anak. Lalu dimunculkannya sekolah alternatif, misalnya, sekolah alam, yang mengajak siswanya belajar lebih banyak di alam.. Kekuatan homeschooling lebih memberikan kemandirian dan kreativitas bagi anak, peluang untuk mencapai kompetensi individual secara maksimal, terlindungi dari penyakit sosial seperti narkoba, konsumerisme, pergaulan menyimpang dan tawuran, serta memungkinkan anak siap menghadapi kehidupan nyata dengan lingkup pergaulan yang lebih luas..
http://www.pls-unnes.com/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=32

2. keberadaan sekolah formal di anggap sudah tidak efektif karena menjalankan program pendidikan yang sangat mekanis.
lembaga pendidikan formal telah kehilangan aspek humanisme dan karakter sejatinya karena telah menjadikan anak didik sebagai robot.
Di Republik Indonesia tercinta ini sepertinya pendidikan hanya bisa dinikmati oleh mereka yang memiliki uang. Mereka yang kaya bisa memberikan pendidikan yang baik bagi anak - anaknya dan menyekolahkan mereka di sekolah terbaik dan universitas terkemuka atau bahkan ke luar negeri. Sementara bagi mereka yang kurang beruntung hanya bisa belajar seadanya saja. Dengan adanya sekolah-sekolah alternatif ini masyarakat dari status ekonomi rendah dapat mengenyam pendidikan

http://sekolah.nh.web.id/2008/05/efektifkah-sekolah-alternatif/

3. Menurut saya sekolah alternatif dengan menerapkan biaya pendidikan
(Oleh: Hadi Widodo)

LandasanKependidikan

Keilmuan adalah Pengetahuan yang paling eksak yang diverifikasi secara cermat dan bersifat umum yang dapat diperoleh manusia,Ilmu adalah yang empiris,rasional, general dan kumulatif dari keempat-empatnya serentak,Ilmu pengetahuan sendiri sangat bersandar akan fakta empiris. Fakta empiris, yaitu: fakta yang dapat dialami langsung oleh manusia dengan mempergunakan pancainderanya, merupakan objek yang dipelajari oleh ilmu pengetahuan. Di luar hal yang diebutkan di atas adalah di luar jangkauan ilmu pengetahuan.Dan berdasarkan kenyataan (Realitas).
lmu pendidikan adalah ilmu yg mempelajari serta memproses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dl usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, pembuatan mendidik
tetapi definisi yg terpenting :
_Meningkatkan pengetahuan, pengertian, kesadaran, dan toleransi
_Meningkatkan "questioning skills" dan kemampuan menganalisakan sesuatu - termasuk pendidikannya!
_Meningkatkan kedewasaan individu - dari definisi di atas kami harus sangat kuatir kalau tujuannya hanya "pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok" - kita perlu tahu; (a) merubah sesuai dengan keinginan siapa, (b) menguntungkan siapa, (c) apakah kita menjadi robot atau manusia kalau "sikap dan tata laku" sama?
_Untuk perkembangan negara (negara yang mana saja) kami sangat perlu pendidikan yang menghargai kreativitas dan "individual thinking" supaya negara dapat membuat sesuatu yang baru dan lebih baik (tidak hanya meng-copy negara lain).
materi referensi:http://www.pendidikan.net/bahasa21.html
(http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20070924012639AA1O
ciri-ciri keilmuan didasarkan pada jawaban yang diberikan ilmu terhadap tiga pertanyaan pokok yang mencakup apa yang ingin kita ketahui (ontologis), bagaimana cara mendapatkan pengetahuan tersebut (epistemologi), dan apa nilai kegunaannya bagi kita (axiologi),ciri-ciri ilmu pendidikanSistematis,metodis, rasional, empiris, umum,kumulatif dan koheren (bertalian)tentang suatu bidang tertentu dari kenyataan (realitas).Memiliki metode sebagai cara yang tetap dalam mengumpulka,memformulasi, dan menganalisis data, sehingga ilmu dapat dikembangkan dan dipelajari. dan dapat digunakan untuk menerangkan gejala-gejala tertentu di bidang (pengetahuan) tersebut.
Ketidakberdayaan dalam epistemologi menjadi titik lemah dalam membangun metodologi keilmuan. Dalam banyak kasus siswa mampu hafal banyak rumus atau teori saat menghadapi ujian, namun akan segera hilang saat ujian telah berlalu, dan lebih parah lagi siswa hanya mampu menyelesaikan soal jika pertanyaan sama persis dengan rumus yang dihafal. Banyak siswa yang bingung setelah rumus diubah-ubah meskipun substansinya sama, hal ini menunjukkan bahwa pola pikir siswa sangat mekanis, seperti robot yang tidak punya naluri untuk improvisasi, inovasi, dan lebih-lebih analisis. (http://www.uniga.ac.id/cetak.php?id=32)
Dasar keilmuan dan Ilmu Pendidikan adalah Epistemologi,Aksiologi,dan Ontologi.Kemandekan dalam epistemologi adalah kematian kreativitas dan kematian dasar-dasar keilmuan. Jika kondisi ini dibiarkan maka peningkatan sumber daya insani akan susah dicapai, sebab yang dihasilkan sampai dengan saat ini hanyalah siswa – siswa yang sekedar hafal rumus ataupun teori Fisika, Kimia, Biologi, PPKn dan mata pelajaran lainnya, namun tidak tahu asal-usul rumus dan bangunan keilmuan dari materi yang dipelajari.
Membangun epistemologi keilmuan berarti mengkonstruksi keilmuan. Mengkonstruksi keilmuan berkaitan erat dengan filsafat konstruksivisme. Dalam filsafat konstruktivisme pengetahuan merupakan hasil konstruksi bukanlah suatu imitasi dari kenyataan. Pengetahuan dikonstruk dari konstruksi kognitif melalui pengalaman, dan proses mengkonstruksi itulah siswa terlibat dalam kegiatan berepistemologi.
Aksiologi (nilai-nilai dari ilmu atau bidang kajian) memegang peran yang sangat vital dalam norma dan tata hidup umat manusia baik dalam lingkup lokal, nasional, maupun global. Aksiologi penting disampaikan karena setiap materi yang diajarkan mengandung nilai (value bound) dan tidak bebas nilai (value free). Tanpa disampaikannya unsur aksiologi dari setiap kajian akan sangat membahayakan bagi kehidupan umat manusia. Ketiadaan unsur aksiologi menjadikan kimia sebagai bagian dari senjata pemusnah masal, biologi akan menjadi racun yang mematikan, dan lain sebagainya. Hanya saja problem yang tetap ada adalah bagaimana menyampaikan unsur aksiologi dari setiap ilmu yang efektif?. Bukankah dalam semua pendidikan agama diajarkan hal yang benar/salah, halal/haram, legal/illegal namun perilaku menyimpang selalu ada?.
Memang out put pendidikan selama ini banyak yang menjadi shizofrenia dimana mereka sadar akan hukum dan tata nilai namun tetap melanggar. Ini menunjukkan pendidikan belum mampu membangun jiwa out putnya secara maksimal, katakanlah caracter building. Namun kita juga sepakat bahwa bangunan jiwa tidak saja dipengaruhi oleh proses pendidikan tetapi juga lingkungan, keluarga, dan rizki yang dimakan.
Betapapun susahnya membangun jiwa out put pendidikan, yang jelas penyampaian aksiologi sebagai satu dari tiga pilar bidang kajian akan sangat penting, sebab tidak saja menjadi sebuah pengetahuan dari kemamfaatan ilmu namun juga menjadi peletakan dasar-dasar nilai bidang kajian yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan.
Ontologi an sich, sehingga tidak dicapai proses dan tidak mempunyai kaitan dengan tata nilai dalam bermasyarakat.
Epistemologi,aksiologi,dan ontologi sebagai pilar keilmuan harus senantiasa diperjuangkan untuk selalu hadir dalam pembelajaran di sekolah. Tanpa adanya penyampaian dari ketiganya maka pendidikan akan menjadi hambar dan hanya menghasilkan siswa-siswa yang sekedar hafal rumus dan teori dari setiap pengetahuan namun kering makna.
(http://www.malhikdua.sch.id/Kolom/Guru/DISORIENTASI-PENDIDIKAN.html)
Tujuan keilmuan dan ilmu pendidikan,Secara umum tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemudian secara terperinci dipertegas lagi dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bertolak dari tujuan pendidikan nasional tersebut, dapat dipahami bahwa tujuan pendidikan merupakan tujuan akhir yang harus diterjemahkan lebih konkret melalui sebuah proses. Proses dimaksud adalah usaha yang terpola, terencana, dan tersistematisasi melalui proses pendidikan. Keinginan luhur bangsa Indonesia itu lahir dari tatanan nilai yang dianut dan terakumulasi dari dalam kesadaran dirinya sebagai bangsa dan kesadaran terhadap dunia di sekitarnya. (http://udhiexz.wordpress.com/2008/05/27/ilmu-pendidikan-islam-versi-perspektif-nasional-dan-lembaga-pendidikan/)
Fungsi keilmuan dan Ilmu Pendidikan sebagai penuju ke arah kemajuan, dan kemajuan itu digambarkan sebagai masyarakat tahap positif, atau masyarakat industrial,dan memunculkan teori-teori baru bisa diterima dan dapat bermanfaat bagi masyarakat.Artinya di sini bahwa ada nilai-nilai yang menjadi muatan suatu ilmu bisa berkembang dan bermanfaat.
(http://mawardiumm.blogspot.com/2008/03/strategi-pengembangan-ilmu-tanggung.html)
Demikian diskusi dari kelompok kami yang terdiri dari:
• Agnes Maradita Ruscasari (292008146)
• Fitri Ariyanti (292008142)
• Linta Rahmawatiningrum (292008089)
• Nila Artanti (292008047)
• Kartika Maya Sari (292008051)
• Vania Abriastanti (292008043)