Senin, 12 Januari 2009

Penerapan PBL

Penerapan Problem Based Learning Dalam Pembelajaran Matematika SD Untuk Meningkatkan Pemikiran Kritis Siswa

Oleh: Wahyudi


I. Pendahuluan


Matematika dari tahun ke tahun berkembang semakin meningkat sesuai dengan tuntutan zaman. Tuntutan zaman mendorong manusia untuk lebih kreatif dalam mengembangkan atau menerapkan matematika sebagai ilmu dasar. Diantara pengembangan yang dimaksud adalah masalah pembelajaran matematika. Sugeng , M. (2001;2) menyatakan pengembangan pembelajaran matematika sangat dibutuhkan karena keterkaiatan penanaman konsep pada siswa, yang nantinya para siswa tersebut juga akan ikut andil dalam pengembangan matematika lebih lanjut ataupun dalam mengaplikasikan matematika dalam kehidupan sehari-hari.

Namun demikian, pengembangan matematika tersebut akan ikut terhambat oleh pandangan masyarakat yang keliru tentang kemudahan dalam proses pembelajaran. Akibatnya, mata pelajaran matematika diampu oleh guru yang tidak profesional , tidak mau kreatif dalam mengembangkan pembelajaran. Semua ini dapat berakibat terhadap rendahnya motivasi dan minat siswa dalam mempelajari matematika. Akibat lebih lanjut adalah rendahnya pencapaian prestasi belajar siswa.

Kondisi pembelajaran matematika seperti diatas juga didukung oleh pernyataan para pakar , diantaranya Soedjadi dan Marpaung yang dikutip oleh Muhammad A. (2002) menyebutkan bahwa: (1) pembelajaran matematika yang selama ini dilaksanakan oleh guru adalah pendekatan konvesional , yakni ceramah, tanya jawab dan pemberian tugas atau mendasarkan pada “behaviorist “ atau “strukturalist”; (2) pengajaran matematika secara tradisional mengakibatkan siswa hanya bekerja secara prosedural dan memahami

matematika secara mendalam; (3) pembelajaran matematika yang berorientasi pada psikologi perilaku dan strukturalis yang lebih menekankan pada hafalan dan drill merupakan penyiapan yang kurang baik untuk kerja profesional bagi para siswa nantinya; (4) kebanyakan guru mengajar dengan menggunakan buku paket sebagai “resep“ mereka mengajar matematika halaman per halaman sesuai dengan apa yang ditulis; dan (5) strategi pembelajaran lebih didominasi oleh upaya untuk menyelesaikan materi pembelajaran dan kurang adanya upaya agar terjadi proses dalam diri siswa untuk mencerna materi secara aktif dan konstruktif. Dengan adanya tuntutan pengembangan matematika dan disisi lain dengan kondisi yang ada seperti di atas , maka perlu diupayakan mencari pemecahannya. Pemerintah melalui Puskur Balitbang Dekdinas pada tanggal 20 Agustus 2001 telah menggulirkan krikulum baru yang berbasis kompetensi.

Dengan adanya kurikulum ini diharapkan dapat menjadi instrumen yang tepat untuk mengatasi masalah yang ada dalam pendidikan. Namun demikian, kurikulum berbasis kompetensi inipun akan bernasib sama dengan kurikulum sebelumnya, jika tidak didukung oleh paradigma pembelajaran yang tepat dan ditangani guru yang profesional dan berfikir inovatif. Dengan demikian kurikulum berbasis kompetensi ini menuntut adanya perubahan paradigma baru dari ‘guru mengajar‘ menjadi ‘murid belajar’. Akan tetapi merubah paradigma tidaklah mudah, diperlukan suatu kemauan dan tekat yang kuat dari guru


2. Apa dan Bagaimana Penerapan Problem Based Learning Dalam Proses Pembelajaran

2.1 Problem Based Learning (PBL)

Suatu metode pembelajaran di mana pembelajar bertemu dengan suatu masalah yang tersusun sistematis; penemuan terpusat pada pembelajar dan proses refleksi (Teacher & Educational Development,University of New Mexico School of Medicine, 2002: 2)

Problem Based Learning (PBL) adalah suatu metode pembelajaran dimana peserta didik dihadapkan pada suatu masalah, kemudian diikuti oleh proses pencarian informasi yang bersifat student-centered. Dari aspek filosofi, problem based learning dipusatkan pada peserta didik dan problem first learning.

Peserta didik mengidentifikasi pokok bahasan (issue) untuk mengembangkan pemahaman tentang berbagai konsep yang mendasari masalah tadi serta prinsip pengetahuan lainnya yang relevan. Fokus bahasan biasanya berupa masalah (tertulis) mencakup beragam fenomena yang membutuhkan penjelasan. Problem Based Learning (PBL) bertujuan agar peserta didik memperoleh dan membentuk pengetahuannya secara efisien dan terintegrasi. Kegiatan untuk memperoleh pengetahuan dan pemahaman baru melalui pembahasan masalah tadi dikenal sebagai “problem first learning” (Harsono, 2004: 2-3).

Berdasarkan pendapat para ahli tersebut di atas, penulis mengambil sebuah pemahaman bahwa Problem Based Learning merupakan metode pembelajaran dimana suatu masalah pokok dapat menjadi stimulus dalam mencapai tujuan pembelajaran. Dengan demikian masalah utama tersebut dapat menggali segenap potensi siswa untuk dapat mengarahkan kemampuannya dengan memanfaatkan sumber daya belajar yang ada guna menyelesaikan masalah. Rancangan masalah harus berasal dari permasalahan dilematis dan kompleks yang lazim dialami mereka di dunia nyata. Sehingga akan memotivasi para siswa untuk meneliti dan menemukan solusi terbaik.

Strategi pembelajaran ini dikenalkan pertama kali oleh sekolah medis Mc Master USA tahun 1969 hingga sekarang. Kebanyakan problem based learning digunakan di bidang medis (kedokteran, farmasi, dan sejenisnya). Akan tetapi PBL dapat diaplikasikan pada berbagai jenis disiplin ilmu, seperti: ekonomi, teknik, matematika, hukum, sosial, ilmu alam, ilmu pendidikan, dan lainnya (Harsono, 2004: 1, 14).


2.2 Mengapa kita perlu mengembangkan Pembelajaran Matematika Dengan Problem Based Learning?

Penerapan metode problem based learning tidak hanya meningkatkan hasil belajar tapi juga membekali peserta didik dengan pengalaman belajar menyelesaikan masalah sesuai materi pelajaran secara mandiri. Maka peneliti merumuskan tujuan penerapan problem based learning sebagai berikut:

1) Untuk mendekatkan para siswa pada pembelajaran matematika dengan perkembangan situasi dunia nyata.

2) Dapat membantu para siswa mengembangkan pemikiran dan ketrampilan berpikir secara kritis agar memperoleh kecakapan hidup (life skill).

3) Menempatkan siswa sebagai subyek dan obyek pembelajaran.

Problem based learning dirancang untuk mengembangkan:

1. Kemampuan mengintegrasikan (penyatuan) pengetahuan yang dimiliki, kemudian mendasarkan pada konteks pengetahuan khusus

2. Kemampuan mengambil keputusan sekaligus mengembangkan sikap dan pemikiran kritis

3. Kemampuan belajar mandiri dan membangkitkan semangat untuk belajar sepanjang hayat

4. Kecakapan interpersonal, kolaborasi, dan komunikasi

5. Konstruksi struktur kognitifnya sendiri dan terampil mengevaluasi

6. Perilaku dan etika yang professional

(Teacher & Educational Development, University of New Mexico School of Medicine (2002: 2-3).


3. Pembelajaran Dengan Metode Problem Based Learning

Karaktersitik umum dari problem based learning yakni masalah sebagai awal pembelajaran. Rancangan masalah yang menjadi issue berasal dari masalah dilematis lingkungan sekitar untuk menarik minat peserta didik. Masalah harus disesuaikan dengan kompetensi dasar, materi, dan hasil belajar yang ingin dicapai.

Menurut Duch (CUTSD 1997: 2) permasalahan yang baik dapat mensukseskan pembelajaran. Rancangan permasalahan yang baik adalah:

1) Beberapa fakta yang terjadi di dunia nyata di kemas dalam bentuk peta masalah yang dapat menarik minat siswa.

2) Memilih salah satu fakta yang banyak dibahas oleh mass media menjadi pokok masalah pada bahasan suatu pembelajaran.

3) Dapat memotivasi para siswa dalam menyusun argumen kuat berdasarkan beberapa informasi maupun referensi yang mereka peroleh.

4) Dapat memunculkan sikap saling kerjasama antara siswa untuk membahas maupun menyelesaikan masalah tersebut.

5) Pertanyaan awal yang disajikan pada masalah dapat menjadi petunjuk semua siswa untuk mengambil peran dalam diskusi. Pertanyaan ini harus: (a) bersifat terbuka terhadap berbagai bidang pengetahuan maupun tanggapan; (b) dapat dihubungkan dengan pengetahuan dasar sebelumnya maupun semua nilai-nilai berbagai aspek sebagai bentuk kontribusi pengembangan masalah atau solusi; (c) dipusatkan pada isu-isu yang dapat mengundang perdebatan atau belum terpecahkan secara tuntas.

6) Dapat memotivasi para siswa untuk terlibat dalam proses berpikir yang kritis dan analitis.

7) Setiap unit-unit spesifik dari pengembangan pokok masalah harus dapat disatukan kembali menjadi bentuk pemahaman suatu materi pembelajaran.

Peserta didik sebelumnya telah memiliki dasar pengetahuan, kecakapan, kepercayaan, dan konsep-konsep. Ketika peserta didik dihadapkan pada permasalahan nyata yang dilematis maka mereka akan memperhatikan, mengorganisir, menginterpretasi, dan mendapatkan informasi maupun pengetahuan baru. Penerapan problem based learning dalam pendidikan membantu pembelajar menghubungkan hal-hal apa yang mereka ketahui, mereka perlukan untuk mencapai tingkat pemikiran yang lebih baik (better thinking).

(Teacher & Educational Development, University of New Mexico School of Medicine (2002: 3-4).

Awal kegiatan penerapan problem based learning yakni membuat persiapan problem based learning dalam pembelajaran matematika. Menurut Wood (1995: 5-120) persiapan problem based learning adalah:

1. Menentukan topik atau materi pokok pembelajaran.

2. Menentukan isu-isu permasalahan didunia nyata

3. Menyusun daftar keinginan peserta didik agar belajar dengan nyaman

4. Merancang penyajian masalah untuk dapat memandu peserta didik

5. Menentukan alokasi waktu dan jadwal pertemuan pembelajaran

6. Mengorganisir kelompok belajar

7. Merancang sumber daya belajar

8. Merancang lingkungan belajar yang nyaman untuk mengembangkan “Keterampilan Memproses” peserta didik.

9. Merancang format penilaian proses dan hasil belajar

Penerapan problem based learning (get started) dimulai dengan:

1. Pengenalan problem based learning pada pengajar (guru matematika dan peserta didik kelas V SD Kristen 3 Salatiga)

2. Menetapkan aturan main penerapan problem based learning. Penelitian ini menggunakan tipe interaksi antar kelompok (group interaction). Tutor dan peserta didik bekerja sama mengembangkan pembelajaran.

3. Menetapkan harapan atau tujuan penerapan problem based learning untuk meningkatkan kemampuan berpikir logis dan sikap positip siswa terhadap matematika.

Setelah masalah disajikan pada peserta didik, maka pembelajaran berlangsung dalam proses tutorial. Guru berperan sebagai tutor. Satu masalah di bahas oleh beberapa kelompok. Tutor disebut juga instruktur, moderator, fasilitator, atau leader. Tutor berasal dari pendidik. Tutor bertanggung-jawab membantu kelompok mengidentifikasi kekeliruan kinerja, pendapat yang menyimpang, memotivasi anggota kelompok mengkomunikasikan, dan saling mengevaluasi hasil kerja secara bertahap. Tutor menyiapkan ruang yang nyaman untuk proses pembelajaran (Harsono, 2004: 26-29).

Peran tutor dalam proses problem based learning adalah:

1. Pengendali proses

a. Bertindak selaku penjaga pintu dan penjaga waktu.

b. Sebagai petugas tanpa menjatuhkan sanksi kepada peserta didik.

c. Campur tangan apabila ada konflik di kalangan peserta didik.

d. Mendorong terjadinya situasi yang nyaman untuk terlaksananya dinamika kelompok.

2. Pengamat perilaku kelompok

a. Mendorong terjadinya interaksi kelompok, keberanian, dan persetujuan.

b. Mendorong peserta didik untuk mengembangkan kualitas individual.

c. Membantu peserta didik untuk menghayati kemampuan dan menyadari kelemahan mereka.

d. Mendorong peserta didik sebagai agen perubahan di dalam kelompok

e. Bertindak sebagai role model.

3. Pemecah masalah

a. Mendorong terjadinya partisipasi aktif, konsentrasi perhatian, dan diskusi lebih hidup.

b. Memeriksa kembali seluruh hasil diskusi, mengembalikan pertanyaan peserta didik untuk dijawab sendiri oleh mereka, memberi komentar dan saran, serta merangsang untuk berpikir misalnya mencoba untuk mengembangkan hipotesis.

c. Mendorong peserta didik untuk membahas dan mendefinisikan kembali penjelasan yang ada, membuat hubungan atau kaitan konsep, proses dan sebagainya.

d. Mendorong peserta didik untuk menganalisis, membuat sintesis dan evaluasi tentang masalah atau data, serta meringkas hasil diskusi.

e. Membantu peserta didik dalam hal identifikasi sumber dan materi belajar. (Harsono, 2004: 31-32)

Aktivitas guru dan peserta didik dalam tutorial sebagai berikut:

1. Aktivitas Peserta Didik

a. Mengidentifikasi pengetahuan dan kecakapan yang dimiliki.

b. Mengidentifikasi masalah dan menggali sumber informasi yang relevan.

c. Menyelidiki dan menginterpretasi informasi yang terkumpul.

d. Belajar secara mandiri (self-directed learning) (Harsono, 2004: 35-42)

e. Memprioritaskan beberapa alternatif solusi masalah.

f. Mengintegrasikan, pendapat untuk menyeleksi solusi masalah.

(Cindy L. Lynch, Susan K. Wolcott, and Gregory E. Huber, 2001: 2-5)

g. Refleksi diri (Teacher & Education Development, University of New Mexico School of Medicine, 2002: 26 & 29).

Aktivitas peserta didik (a, b, c, e, dan f) mengacu pada “steps for better thinking: a developmental problem solving process” dari Cindy L. Lynch, Susan K. Wolcott, and Gregory E. Huber).

2. Aktivitas Guru sebagai Tutor

a. Menjadikan pembelajaran terpusat pada peserta didik.

b. Merancang lingkungan yang memotivasi peserta didik untuk belajar.

c. Mengatur waktu dan proses tutorial.

d. Menggunakan pertanyaan efektif.

e. Mengatur dinamika kelompok.

f. Menyediakan umpan balik yang bersifat membangun.

(University of New Mexico School of Medicine, 2002: 1-35)

g. Evaluasi hasil belajar peserta didik pada ranah kognitif.

Selasa, 06 Januari 2009

MODEL PENILAIAN BERBASIS PORTOFOLIO

MODEL PENILAIAN BERBASIS PORTOFOLIO

A. Pengertian dan Tujuan Penilaian Portofolio

Portofolio merupakan kumpulan hasil karya seorang siswa, sejumlah hasil karya seorang siswa yang sengaja dikumpulkan untuk digunakan sebagai bukti prestasi siswa, perkembangan siswa itu dalam kompetensi berpikir, sikap, dan ketrampilannya. Pemahaman siswa itu atas materi pelajaran, kompetensi siswa itu dalam mengungkapkan sikap siswa itu terhadap pelajaran tertentu, laporan singkat yang dibuat seseorang sesudah melaksanakan kegiatan.

Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta didik dalam satu periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari proses pembelajaran yang dianggap terbaik oleh peserta didik. Dalam penilaian portofolio mengandung hal-hal penting, yaitu pengumpulan (storing), pemilihan (sorting), dan penetapan (dating), dari suatu tugas (task) (Supranata dan Hatta, 2004).

Tujuan portofolio diterapkan berdasarkan apa yang harus dikerjakan dan siapa yang akan menggunakan jenis portofolio. Dalam penilaian di kelas, portofolio dapat digunakan untuk mencapai beberapa tujuan, antara lain:

  1. Menghargai perkembangan yang dialami siswa
  2. Mendokumentasikan proses pembelajaran yang berlangsung
  3. Memberi perhatian atas prestasi kerja siswa yang terbaik
  4. Merefleksikan kesanggupan mengambil resiko dan melakukan eksperimentasi
  5. Meningkatkan efektivitas proses pengajaran
  6. Bertukar informasi dengan orang tua wali dan guru lain
  7. Membina dan mempercepat pertumbuhan konsep diri positif pada siswa
  8. meningkatkan kemampuan melakukan refleksi diri
  9. Membantu siswa dalam merumuskan tujuan

Penilaian portofolio pada dasarnya menilai karya-karya siswa secara individu pada satu periode untuk suatu mata pelajaran. Akhir suatu periode hasil karya tersebut dikumpulkan dan dinilai oleh guru dan peserta didik. Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan peserta didik sendiri dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik dan terus melakukan perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat memperlihatkan perkembangan kemajuan belajar peserta didik melalui karyanya, antara lain: karangan, puisi, surat, komposisi, musik.

B. Pedoman dan Karakteristik Pengembangan Portafolio

Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan penilaian portofolio di sekolah, antara lain:

1. Karya siswa adalah benar-benar karya peserta didik itu sendiri.

Guru melakukan penelitian atas hasil karya peserta didik yang dijadikan bahan penilaian portofolio agar karya tersebut merupakan hasil karya yang dibuat oleh peserta didik itu sendiri.

2. Saling percaya antara guru dan peserta didik

Dalam proses penilaian guru dan peserta didik harus memiliki rasa saling percaya, saling memerlukan dan saling membantu sehingga terjadi proses pendidikan berlangsung dengan baik.

3. Kerahasiaan bersama antara guru dan peserta didik

Kerahasiaan hasil pengumpulan informasi perkembangan peserta didik perlu dijaga dengan baik dan tidak disampaikan kepada pihak-pihak yang tidak berkepentingan sehingga memberi dampak negatif proses pendidikan.

4. Milik bersama (joint ownership) antara peserta didik dan guru

Guru dan peserta didik perlu mempunyai rasa memiliki berkas portofolio sehingga peserta didik akan merasa memiliki karya yang dikumpulkan dan akhirnya akan berupaya terus meningkatkan kemampuannya.

5. Kepuasan

Hasil kerja portofolio sebaiknya berisi keterangan dan atau bukti yang memberikan dorongan peserta didik untuk lebih meningkatkan diri.

6. Kesesuaian

Hasil kerja yang dikumpulkan adalah hasil kerja yang sesuai dengan kompetensi yang tercantum dalam kurikulum.

7. Penilaian proses dan hasil

Penilaian portofolio menerapkan prinsip proses dan hasil. Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan guru tentang kinerja dan karya peserta didik.

8. Penilaian dan pembelajaran

Penilaian portofolio merupakan hal yang tak terpisahkan dari proses pembelajaran. Manfaat utama penilaian ini sebagai diagnostik yang sangat berarti bagi guru untuk melihat kelebihan dan kekurangan peserta didik.

Portafolio tidak hanya merupakan tempat penyimpanan hasil pekerjaan siswa, tetapi juga merupakan sumber informasi untuk guru dan siswa. Portafolio memberikan bahan tindak lanjut dari suatu pekerjaan yang telah dilakukan siswa sehingga guru dan siswa berkesempatan untuk mengembangkan kemampuannya. Portafolio dapat pula berfungsi sebagai alat untuk melihat (a) perkembangan tanggung jawab siswa dalam belajar, (b) perluasan dimensi belajar, (c) pembaharuan kembali proses belajar-mengajar, dan (d) penekanan pada pengembangan pandangan siswa dalam belajar.

Karakteristik pengembangan portafolio siswa dari waktu ke waktu akan merefleksikan perkembangan penting dalam suatu proses kemampuan intelektual siswa. Menurut Barton dan Collins (1997), terdapat beberapa karakteristik esensial dalam pengembangan berbagai bentuk portafolio, yaitu:

1. Multi sumber

Multi sumber artinya portofolio memungkinkan untuk menilai berbagai macam evidence antara lain mencakup orang (pertanyaan dan observasi peserta didik, guru, program, orang tua, dan anggota masyarakat); dan apa saja yang akan dinilai seperti foto, rancangan, jurnal, audio, dan video.

2. Authentic

Evidence peserta didik haruslah autentik artinya dari konteks manapun harus saling berkaitan satu sama lain. Evidence peserta didik yang dinilai haruslah berkaitan dengan program pengajaran, kriteria kegiatan, standart kompetensi, kompetensi dasar dan indikator yang hendak dicapai

3. Dinamisi

Portofolio bersifat dinamis, artinya portofolio mencakup perkembangan dan perubahan evidence yang ditampilkan dari waktu ke waktu sebaiknya dari berbagai tahapan, bukan hanya hasil yang baik saja. Paling tidak apabila akan diseleksi maka beberapa evidence itu dipilih secara selektif sehingga dapat mengembangkan kompetensi peserta didik dari waktu ke waktu.

4. Eksplisit

Portofolio harus jelas, artinya semua tujuan pembelajaran berupa kompetensi dasar dan indikator harus dinyatakan secara jelas. Guru juga perlu memberikan komentar terhadap hasil kerja yang telah dilakukan peserta didik.

5. Integrasi

Portofolio senantiasa berkaitan antara program yang dilakukan peserta didik di kelas dengan kehidupan seharí-hari sehingga peserta didik tidak jauh dari yang mereka alami, sehingga peserta didik dengan mudah menghubungkan antara kemampuan atau pengetahuannya dengan kenyataan seharí-hari.

6. Kepemilikan

Penilaian portofolio menekankan pada adanya rasa kepemilikan, yaitu adanya keterkaitan antara evidence dengan kompetensi dasar dan indikator yang telah ditentukan dalam rangka mencapai Standard kompetensi tertentu. Peserta didik harus merasa memiliki semua evidence yang mereka hasilkan. Dengan demikian mereka diharapkan dapat menjaga dengan baik semua evidence tersebut.

7. Beragam tujuan

Portofolio juga mengacu ke berbagai tujuan, misalnya beberapa indikator pencapaian hasil belajar yang bermanfaat dalam proses pembelajaran, portofolio juga dapat melihat keefektifan suatu program dan pada saat yang sama mengevaluasi perkembangan individu atau kelompok sebagai comunitas peserta didik

C. Teknik Penilaian Portofolio

Teknik penilaian portofolio di dalam kelas memerlukan langkah-langkah

sebagai berikut:

1. Menjelaskan kepada peserta didik bahwa penggunaan portofolio, tidak hanya merupakan kumpulan hasil kerja peserta didik yang digunakan oleh guru untuk penilaian, tetapi digunakan juga oleh peserta didik sendiri.

Dengan melihat portofolionya peserta didik dapat mengetahui kemampuan, keterampilan, dan minatnya. Proses ini tidak akan terjadi secara spontan, tetapi membutuhkan waktu bagi peserta didik untuk belajar meyakini hasil penilaian mereka sendiri.

2. Menentukan bersama peserta didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan dibuat. Portofolio antara peserta didik yang satu dan yang lain bisa sama bisa berbeda.

3. Mengumpulkan dan menyimpan karya-karya tiap peserta didik dalam satu map atau folder di rumah masing atau loker masing-masing di sekolah.

4. Memberi tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu.

5. Menentukan kriteria penilaian sampel portofolio dan bobotnya dengan para peserta didik. Diskusikan cara penilaian kualitas karya para peserta didik. Contoh, Kriteria penilaian kemampuan menulis karangan yaitu: penggunaan tata bahasa, pemilihan kosa-kata, kelengkapan gagasan, dan sistematika penulisan. Dengan demikian, peserta didik mengetahui harapan (standar) guru dan berusaha mencapai standar tersebut.

6. Meminta peserta didik menilai karyanya secara berkesinambungan. Guru dapat membimbing peserta didik, bagaimana cara menilai dengan memberi keterangan tentang kelebihan dan kekurangan karya tersebut, serta bagaimana cara memperbaikinya. Hal ini dapat dilakukan pada saat membahas portofolio.

7. Setelah suatu karya dinilai dan nilainya belum memuaskan, maka peserta didik diberi kesempatan untuk memperbaiki. Namun, antara peserta didik dan guru perlu dibuat “kontrak” atau perjanjian mengenai jangka waktu perbaikan, misalnya 2 minggu karya yang telah diperbaiki harus diserahkan kepada guru.

8. Bila perlu, jadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio. Jika perlu, undang orang tua peserta didik dan diberi penjelasan tentang maksud serta tujuan portofolio, sehingga orangtua dapat membantu dan memotivasi anaknya.

D. Data Penilaian Portofolio

Data penilaian portofolio peserta didik didasarkan dari hasil kumpulan informasi yang telah dilakukan oleh peserta didik selama pembelajaran berlangsung. Komponen penilaian portofolio meliputi: (1) catatan guru, (2) hasil pekerjaan peserta didik, dan (3) profil perkembangan peserta didik. Hasil catatan guru mampu memberi penilaian terhadap sikap peserta didik dalam melakukan kegiatan portofolio. Hasil pekerjaan peserta didik mampu memberi skor berdasarkan kriteria (1) rangkuman isi portofolio, (2) dokumentasi/data dalam folder, (3) perkembangan dokumen, (4) ringkasan setiap dokumen, (5) presentasi dan (6) penampilan.

Hasil profil perkembangan peserta didik mampu memberi skor berdasarkan gambaran perkembangan pencapaian kompetensi peserta didik pada selang waktu tertentu. Ketiga komponen ini dijadikan suatu informasi tentang tingkat kemajuan atau penguasaan kompetensi peserta didik sebagai hasil dari proses pembelajaran. Berdasarkan ketiga komponen penilaian tersebut, guru menilai peserta didik dengan menggunakan acuan patokan kriteria yang artinya apakah peserta didik telah mencapai kompetensi yang diharapkan dalam bentuk persentase (%) pencapaian atau dengan menggunakan skala 0 –10 atau 0 - 100.

Pensekoran dilakukan berdasarkan kegiatan unjuk kerja, dengan rambu-rambu atau kriteria penskoran portofolio yang telah ditetapkan. Skor pencapaian peserta didik dapat diubah ke dalam skor yang berskala 0 -10 atau 0 –100 dengan patokan jumlah skor pencapaian dibagi skor maksimum yang dapat dicapai, dikali dengan 10 atau 100. Dengan demikian akan diperoleh skor peserta didik berdasarkan portofolio masing-masing.

E. Keunggulan dan Kelemahan Penilaian Portofolio

Penilaian portofolio memilki keunggulan dan tentunya kelemahan dalam pelaksanaannya di kelas. Keunggulan yang dari penggunaan penilaian portofolio dapat dilihat dari kondisi-kondisi di bawah ini sebagai berikut:

1. Perubahan paradigma penilaian

Perubahan paradigma dari membandingkan kedudukan kemampuan peserta didik menjadi pengembangan kemampuan peserta didik melalui umpan balik dan refleksi diri. Penilaian portofolio dapat menolong guru melalukan dan mengevaluasi kemampuan dan peserta didik sesuai dengan harapan tanpa mengurangi kreatifitas peserta didik di kelas. Penilaian portofolio juga dapat menolong peserta didik untuk bertanggung jawab terhadap apa yang mereka kerjakan di kelas dan meningkatkan peran serta mereka dalam kegiatan pembelajaran.

2. Akuntabilitas

Penilaian portofolio menekankan pada keadaan yang dapat dipertanggung jawabkan (akuntability). Hal ini dapat dilihat dari adanya kerja sama antara guru, siswa dan orang tua. Jadi bukan semata-mata guru yang memberikan penilaian, tetapi atas sepengatahuan siswa dan orang tua.

3. Peserta didik sebagai individu yang peran aktif peserta didik

Ciri khas dari penilaian portofolio adalah memungkinkan guru untuk melihat peserta didik sebagai individu, yang masing-masing memiliki karakteristik, kebutuhan, dan kelebihan tersendiri. Ini sangat berguna manakala program evaluasi sangat fleksibel dan lebih menekankan pada tujuan individual sehingga memungkinkan peran aktif dalam proses penilaian, dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan kemampuan mereka.

4. Identifikasi

Penilaian portofolio dapat mengklasifikasi dan mengindentifikasi program pengajaran dan memungkinkan untuk mendokumentasikan ”pemikiran” di samping pengembangan program, sehingga kriteria portofolio akan berpengaruh terhadap penentuan tujuan pembelajaran (indikator pencapaian hasil belajar).

5. Keterlibatan orang tua dan masyarakat

Penilaian portofolio melibatkan orang tua dan masyarakat untuk berperan serta dalam melihat pencapaian kemampuan peserta didik yang berkaitan dengan konteks kurikulum dibandingkan dengan hanya melihat angka-angka tes yang selama ini dihasilkan.

6. Penilaian diri

Portofolio memungkinkan peserta didik melakukan penilaian diri (self assessment), refleksi, dan pemikiran yang kritis (critical thinking).

Penilaian diri adalah penilaian yang digunakan oleh peserta didik untuk menilai evidence mereka. Peserta didik harus memiliki kemampuan (skill), pengetahuan (knowledge) dan keyakinan diri (confidence) untuk mengevaluasi proses yang mereka sedang kerjakan dan pengembangan hasil kerjanya, ketika mereka belajar sebagai pelajar yang mandiri. Penelitian diri berguna untuk melihat keterlibatan peserta didik sepenuhnya dalam proses pembelajaran yang sedang berlangsung.

7. Penilaian yang fleksibel

Penilaian portofolio memungkinkan penilaian yang fleksibel yang bergantung kepada indikator pencapaian hasil belajar yang telah ditentukan.

8. Tanggung jawab bersama

Penilaian portofolio memungkinkan guru dan peserta didik secara bersama-sama bertanggung jawab untuk merancang proses pembelajaran dan untuk mengevaluasi kemajuan belajar yang sesuai dengan tujuan pembelajaran.

9. Keadilan

Portofolio adalah salah satu alat penilaian yang ideal untuk kelas yang heterogen yang sangat terbuka bagi guru untuk menggambarkan kelebihan dan kekurangan peserta didik dan membantu perkembangan mereka.

10. Kriteria penilaian

Hasil pekerjaan peserta didik akan dinilai berdasarkan penilaian yang relevan dengan penampilan mereka (misal dengan skala rating = rating scale). Peserta didik yang kurang akan tetap mendapat penghargaan (credit), sedangkan pencapaian keberhasilan yang optimal menjadi tujuan dari penilaian portofolio ini.

Dari kelebihan yang telah diuraikan di atas, terdapat juga beberapa kelemahan yang yang dialami saat dilaksanakannya penilaian portofolio antara lain:

1. Waktu ekstra

Penilaian portofolio memerlukan kerja ekstra dibandingkan dengan penilaian lain yang biasa guru lakukan. Tetapi usaha guru yang menggunakan penilaian portofolio akan sangat dihargai dan terutama dikenang baik oleh peserta didik. Sebab melalui penilaian portofolio peserta didik dapat meningkatkan motivasi, partisipasi aktif dalam proses pembelajaran, bahkan meningkatkan kemampuan mereka.

2. Reliabilitas

Penilaian portofolio nampat kurang reliabel dan kurang fair dibandingkan dengan penilaian lain yang menggunakan angka seperti ulangan harian, ulangan umum, maupu ujian akhir nasional yang menggunakan tes. Penilaian yang dilakukan sendiri oleh peserta didik (self assesment) maupun oleh kelompok peserta didik agak kurang reliabel oleh karena itu latihan penilaian yang dilakukan oleh peserta didik maupun kelompok peserta didik sangat diperlukan. Dengan adanya latihan yang terus menerus, terutama lagi apalagi kriteria yang disajikan sangat jelas dan mudah dipahami. Peserta didik akan berlatih menjadi penilai bagi pekerjaannya sendiri.

3. Pencapaian akhir

Guru memiliki kecenderungan memperhatikan hanya untuk pencapaian akhir. Jika hal ini terjadi, berarti proses penilaian portofolio tidak mendapatkan perhatian sewajarnya.

4. Top-Down

Guru dan peserta didik biasanya terjebak dalam suasana hubungan top-down, yaitu guru menganggap tahu segalanya dan peserta didik selalu dianggap sebagai obyek yang harus dididik dan diberi tahu. Dengan demikian proses pembelajaran menjadi satu arah. Apalagi kondisi ini terwujud, maka inisiatif dan kreatifitas peserta didik yang menjadi ciri khas portofolio akan hilang.

5. Skeptisme

Masyarakat, khusunya orang tua peserta didik selama ini hanya mengenal keberhasilan anaknya hanya pada angka-angka hasil tes akhir (test scores), peringkat dan hal-hal yang bersifat kuantitatif. Sebaliknya, portofolio pada hakikatnya tidak mengenal angka-angka yang dimaksud. Akibatnya terkadang orang tua bersikap skeptis dan lebih percaya pada tes dari pada penilaian portofolio. Untuk mengatasi hal tersebut, format penilaian dapat menggunakan kriteria penilaian yanga bevariasi, mulai dari tidak mengunakan angka sampai dengan menggunakan angka.

6. Hal yang baru

Penilaian portofolio adalah sesuatu yang baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Oleh karena itu bukan tidak mungkin kebanyakan guru kurang mengenal penilaian portofoli, mereka lebih mengenal bentuk penilaian yang biasa dilakukan.

7. Penerapan di sekolah

Penilaian portofolio terkadang sulit diterapkan di sekolah yang lebih mengenal perbandingan [eserta didik melalui skor tes, peringkat dan yang lebih sering menggunakan tes yang sudah baku seperti Ujian Nasional.

8. Format penilaian yang lengkap dan detail

Penyediaan format yang digunakan secara lengkap dan detail, dapat juga menjebak. Peserta didik akan terjerumus ke dalam suasana yang kaku dan mematikan, yang akhirnya a kan mematikan inisiatif dan kreativitas.

9. Tempat penyimpanan

Penilaian portofolio memerlukan tempat penyimpanan yang memadai, apalagi bila jumlah peserta didik cukup banyak. Oleh karena itu, guru perlu mewaspadai hal tersebut.

Jumat, 26 Desember 2008

Tugas Statistika Tgl 27 Desember 2008

Tugas Statistika

Kelas P07S1B

Tanggal 27 Desember 2008

1. Apa yang Anda pahami tentang rata-rata, median, dan modus? Apa fungsi dari ketiganya?

2. Tentukan rata-rata (mean), median, dan modus untuk data tunggal di bawah ini.

a. 7, 6,8, 7, 8, 7,8 5, 5 ,6 8, 8

b. 6, 6,7,5 8, 9, 10, 9, 8, 6, 7

3. Tentukan rata-rata (mean), median, dan modus untuk data berkelompok berikut ini.

Tabel data nilai tes akhir semester mahasiswa S1 PGSD

Interval

Frekuensi

45 – 54

8

55 – 64

12

65 – 74

8

75 – 84

9

85 – 94

13

4. Jelaskan apa yang dimaksud dengan variabilitas? Sebutkan macam-macam dari

variabilitas?

5. Apa saja yang saudara ketahui mengenai beberapa kelemahan range dalam variabilitas?

Kamis, 25 Desember 2008

Tugas Pengembangan Pembelajaran IPA

Tugas Pengembangan Pembelajaran IPA
Tanggal 27 Desember 2008
Dosen Wahyudi, S.Pd
  1. Buatlah suatu bagan yang menggambarkan hubungan antara Anda, suatu fenomena alam, dan putusan yang Anda buat.
  2. Tunjukkan fungsi pengalaman dalam mengkonstruksi suatu pengetahuan!
  3. Tunjukkan peran pikiran dalam mencari pengetahuan!
  4. Beri contoh peran kemampuan bahasa dalam mencari pengetahuan!
  5. Apa pengaruh minat dalam kegiatan mencari pengetahuan?
  6. Buatlah sebuah Rencana Pembelajaran yang menggunakan pendekatan Konstruktivisme dan berikan rencana kegiatannya (Percobaan)
Catatan: Tugas dikumpul hari Selasa tanggal 30 Desember 2008 di Tempat Bu Ester

Tugas Statistika

TUGAS STATISTIKA
KELAS PO7S1B
Jumat 26 Desember 2008
Jam 16 – 19 WIB


1. Statistik dapat diartikan dalam pengertian yang sempit dan luas. Tuliskan kedua arti tersebut serta berikan contoh masing-masing?
2. Apa yang Anda pahami tentang statistik dan statistika?
3. Buatlah definisi yang jelas, sesuai dengan konsepsi Anda?
4. Jelaskan peranan statistik dalam kehidupan sehari-hari di tempat kerja Anda?
5. Apa perlunya kita mempelajari statistik?
6. Jelaskan perbedaan antara statistik statistik deskriptif dengan statistik inferensial?
7. Jelaskan pembagian statistik berdasarkan parameternya?
8. Syarat apakah yang harus dipenuhi oleh sekumpulan angka atau bilangan, sehingga dapat disebut dengan data Statistik?
9. Jelaskan perbedaan antara data kontinyu dan data diskrit. Berikan contoh masing-masing?
10. Jelaskan tentang perbedaan antara data interval dan data ordinal?
Berikan contoh sedemikian rupa sehingga menjadi cukup jelas apa yang dimaksud dengan data primer dan data sekunder?
11. Jelaskan beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengumpulkan data statistik?
12. Jelaskan apa yang dimaksud dengan variabel?
13. Jelaskan perbedaan antara variabel kontinu dan variabel diskret?

Catatan:
1. Tugas dibuat oleh Wahyudi, S.Pd
2. Tugas dikumpul 27 Desember 2008 jam 08.00 WIB di kantor Ibu Ester

Salatiga, 26 Desember 2008


Wahyudi, S.Pd

Kamis, 18 Desember 2008

Kurikulum Lipstik

Kurikulum Lipstik
Rabu, 17 Desember 2008 | 03:00 WIB

Doni Koesoema A

Pembentukan karakter merupakan bagian penting kinerja pendidikan. Namun, kecenderungan untuk menciptakan praksis on the spot yang dipaksakan hanya akan melahirkan sikap reaktif. Kurikulum lipstik lantas menjadi tren. Siswa menjadi obyek bagi ajang pelatihan. Akibatnya, pendidikan terjerembab pada kedangkalan.

Sekolah menjadi reaktif saat terburu- buru ingin menanggapi tantangan zaman. Seolah sekolah adalah obat bagi masalah itu. Saat korupsi merajalela di masyarakat, pendidik sibuk mengembangkan pendidikan antikorupsi di sekolah. Ada yang mempromosikan sekolah antikorupsi, program kantin kejujuran, dan lainnya (Kompas, 5/12/2008). Juga ada yang mengusulkan masuknya mata pelajaran khusus, Pendidikan Antikorupsi untuk menggantikan PPKn dan Agama yang dianggap gagal menjalankan misinya.

Selain itu, tuntutan akuntabilitas pendidikan akibat tantangan standardisasi telah membuat para pendidik lari pontang- panting mengikuti berbagai macam program kilat pengembangan diri, mulai dari seminar cara mengajar efektif dan kreatif, pola pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan (PAKEM), diklat positive thinking, mengikuti lokakarya, dan berbagai macam pelatihan bertajuk pendidikan. Pola kian menjadi-jadi saat model portofolio sertifikasi mensyaratkan adanya berbagai macam sertifikat untuk memperoleh poin. Lembaga seminar menjamur, panitia untung, guru untung, tetapi murid buntung.

Sikap reaktif inilah yang belakangan terjadi dalam dunia pendidikan kita. Seperti lipstik hanya menjadi tampilan luar dan akan hilang dalam sekejap, reformasi pendidikan juga tidak akan bertahan lama jika pendidik sibuk mengurusi hal-hal yang bukan menjadi tugas utamanya, apalagi jika menjadikan siswa sekadar obyek pelatihan. Gejala ini saya sebut dengan kurikulum lipstik.

Restrukturisasi

Oleh Fulan (1993), gejala ini disebut restrukturisasi, yaitu sekadar proses pembaruan guru di tingkat pinggiran, berupa peningkatan keterampilan teknis pengajaran, tetapi tidak disertai perubahan cara pandang. Selain itu, gelojoh mengikuti tren berbagai macam gerakan, dengan berbagai macam label anti (korupsi, kekerasan, narkoba, pornografi, dan lainnya) yang dipaksakan di sekolah hanya akan mengorbankan siswa untuk keinginan politik kelompok tertentu.

Memang, sekolah harus melawan korupsi, menentang kekerasan, menawarkan cara hidup sehat, dan mendidik siswa cara menghormati tubuh sesama sebagai makhluk mulia dan berharga karena sama- sama ciptaan Tuhan. Namun, gagal melawan kesabaran disertai nafsu reaktif bisa menjadikan guru sebagai pahlawan kesiangan yang tidak pernah menyadari bahwa menekuni pekerjaan rutin harian di kelas itulah tugas utamanya. Pembentukan karakter itu terjadi melalui dinamika pengajaran di kelas, bukan melalui seminar, sosialisasi, atau pelatihan dadakan.

Diskursus tentang pembentukan karakter yang dipahami secara parsial bisa menjadi sarana pelarian (eskapisme) guru dari tanggung jawab mereka untuk meningkatkan prestasi akademis siswa dengan cara memberi penekanan berlebihan pada unsur-unsur non-akademis.

Padahal, keunggulan akademis adalah bagian dari pembentukan karakter itu sendiri. Tugas utama guru adalah mengembangkan ekselensi akademis dalam diri siswa. Mutu pendidikan kita kian menurun karena visi keunggulan akademis ini diabaikan. Akibatnya, pembentukan karakter siswa juga terpinggirkan.

Agar pembentukan karakter terjadi integral, guru perlu memahami kembali visi pengajarannya dan percaya bahwa mengembangkan keunggulan akademis adalah tugas utamanya sebagai pendidik. Siswa yang memiliki ekselensi akademis mengandaikan keterbukaan, kemampuan bertanya, berdiskusi, menganalisis masalah, dan mampu mendialogkan ilmu pengetahuan dengan orang lain. Dialog seperti ini terjadi jika masing-masing memiliki keyakinan nilai tentang kebenaran pengetahuan dan maknanya bagi kemaslahatan hidup bersama. Jika ini terjadi, secara tidak langsung karakter anak didik yang terbuka, kritis, dan mau berdialog akan berkembang. Siswa menjadi individu dengan karakter kuat.

Rekulturasi

Di tengah maraknya ”kurikulum lipstik” itu, yang sebenarnya diperlukan adalah rekulturasi, yaitu proses pengembangan diri guru untuk kembali memahami hakikat kinerjanya sebagai pendidik yang hidup dalam keterbatasan ruang, waktu, dan bekerja melalui struktur sekolah yang sering malah membatasi fungsi utamanya sebagai pendidik. Restrukturisasi tidak dengan sendirinya meningkatkan kualitas pengajaran (Elmore, 1992). Seminar-seminar tidak otomatis mengubah paradigma mengajar guru, bahkan bisa jadi malah memperkuat konservatisme (Lortie, 1975).

Pembaruan dangkal tetapi ingar-bingar memang lebih seksi dan menarik hati. Namun, pembentukan nilai dan peningkatan kualitas akademis sebenarnya kinerja bersama yang tidak bisa diatasi sekadar dengan menimba ilmu dari orang- orang luar atau dari pembicara publik yang sama sekali tidak mengerti proses belajar- mengajar di kelas. Yang mengenal siswa di kelas adalah guru. Yang paling mengerti apa yang dibutuhkan siswa agar maju dalam menimba ilmu adalah guru.

Rekulturasi mengandaikan guru mampu membangun komunitas belajar profesional dalam lingkungan sekolah. Penumbuhan komunitas belajar profesional hanya bisa muncul saat guru bekerja sama, saling berbagi informasi dan mengevaluasi pekerjaan satu sama lain dengan mengambil kasus-kasus nyata dalam kelas. Meningkatkan mutu pembelajaran membutuhkan ketekunan, terutama berani menilai diri bagaimana guru mengajar di kelas. Inilah pekerjaan on the spot guru.

Pekerjaan seperti ini jauh dari ingar- bingar dan meriahnya seminar di hotel. Juga tidak ada sertifikat atau plakat sebab guru langsung masuk ke jantung pekerjaan utama. Kurikulum lipstik akan lewat, tetapi guru berdedikasi akan berdiri kuat. Mati raga sambil terus mau mengubah diri, bahkan mau belajar dari rekan guru dan siswa agar siswa menggapai keunggulan akademis, inilah yang membuat guru benar-benar menjadi guru.

Doni Koesoema A Mahasiswa Pascasarjana Boston College Lynch School of Education, Boston

Diambil dari:http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/12/17/00473925/kurikulu